I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 37


__ADS_3

Bruuk.


Leta menggerutu menahan lututnya yang membentur mencium lantai saat ia jatuh dari kursi meja makan. Ia sedikit meringis saat rasa nyeri luka kakinya kembali menyeruak.


"sial,aduh kepalaku pusing sekali." gerutunya bangkit berdiri. Ia baru tersadar jika dirinya tertidur di meja makan. Leta melihat lukanya semakin terasa nyeri.


"aku harus kedokter." lirihnya lalu bersiap-siap menuju kerumah sakit. Leta mengendarai mobilnya tanpa memperdulikan panggilan telepon dari ibunya.


"ibu sialan,kemarin dia yang membiarkanku bersama dengan orang asing." umpatnya lalu fokus mengemudikan mobilnya. Sesampai di rumah sakit,ia menunggu antrian masuk,tanpa sengaja matanya melihat siaran berita tentang penemuan mayat di parit yang tak jauh dari apartemennya.


"cih,untung saja aku tidak meninggalkan jejak." gumamnya lalu ia memainkan ponselnya. Ada muncul satu pesan,membuatnya membuka pesan itu.


Bram


Kau dimana? aku merindukanmu.


"huft,tumben sekali dia mengirim pesan? biasanya langsung." gumamnya pelan. Ia pun membalas pesan Bram jika dirinya mengalami kecelakaan,sontak pria itu langsung menelponnya.


"ya ampun sayang,bagaimana bisa terjadi?" tanyanya terdengar khawatir. Namun,Leta tau itu bukan nada khawatir melainkan pencitraan yang ditunjukkan pria itu agar bisa mendapatkan tubuhnya.


"aku tidak sengaja tergelincir." kilahnya bohong.


"sayang,aku mau kau yang beri perawatan lukanya,biar kembali kinclong seperti semula. Yaa??" bujuk Leta dengan nada memelas.


"tentu saja aku akan memberikan semua yang kau mau sayang." sahut Bram semangat dari seberang sana.


"thankyou sayang,aku mencintaimu." ucap Leta manja.


"aku jugaa." jawab Bram lagi.


"aku akan menjemputmu dirumah sakit itu. Kau tenang-tenang aja disana." lanjutnya lagi lalu mengakhiri panggilan itu.


Setelah panggilan itu berakhir,Leta memandang jijik ponselnya. "menjijikkan." ucapnya jijik memandang layar ponselnya.


"fyuuh apa masih lama ngantrinya hah?!" kesalnya berdecak pelan. Tidak ingin menahan rasa nyeri terlalu lama,Leta langsung menyerobot masuk kedalam ruangan untuk diperiksa.


"hei kau tolong mengantri!!" seru pasien yang lain. Leta tampak mengacuhkan ia tetap masuk kedalam ruangan. Perawat yang melihat tindakan Leta langsung mencegah Leta masuk.

__ADS_1


"berhenti nona. Anda tidak boleh masuk sebelum nomor urutan anda." ucap perawat itu pelan. Leta menatap tajam kearah perawat itu.


"cih,apa urusan kau hah?! apa kau tidak melihat darah sudah mengalir banyak dikakiku?!" bentak Leta memperlihatkan lukanya,tanpa segan-segan ia menaikkan dressnya tinggi memperlihatkan luka di pahanya. Banyak orang yang memalingkan wajah karena hampir melihat hal yang tidak boleh diperlihatkan. Tetapi,ada juga yang menatap seraya mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Perawat tadi menghela napas pelan,lalu membiarkan Leta masuk. Setelah Leta masuk barulah ia duduk dihadapan dokter itu.


"ada apa kenapa ribut-ribut diluar?" tanya dokter itu.


"maaf dok,pasien ini menyerobot antrian."


"cih sudah kubilang,darahku sudah banyak mengalir banyak. Apa kau mau aku mati?" ketusnya lagi.


"sudah-sudah,nona tenang dulu. Ayo biar saya obati dulu luka anda." ucap dokter menenangkan Leta. Leta pun beranjak dari tempatnya menuju kasur.


"astaga lukanya dalam sekali,sejak kapan kau terluka?" tanya Dokter terkejut melihat luka di paha Leta.


"tadi malam." jawabnya singkat. Dokter tadi mengangguk pelan dan tidak mempertanyakan lebih lanjut. Ia sibuk menjahit luka yang dialami Leta. Setelah selesai dengan tugasnya,ia pun berdiri dari tempatnya dan tidak sengaja melirik anting yang dikenakan Leta hilang satu.


"hmm nona,sepertinya antingmu hilang satu ya?" tanya dokter pelan. Leta tersentak spontan memegang telinganya yang tidak tergantung antingnya.


"sepertinya jatuh." jawab Leta lagi.


"iyaa,dan kau bisa mengambil resepnya di apotik nanti." ucap dokter itu mengendalikan emosinya.


Leta mengangguk tanpa mengucapkan terimakasih pada dokter tadi,dan melenggang keluar walaupun dengan iringan ringisan yang ia tahan. Setelah Leta keluar, perawat itu menggeleng pelan lalu menepuk pundak dokternya itu.


"sabar ya bestie." ucapnya lalu melenggang keluar memanggil pasien yang lain.


Dokter itu menghela napas lalu teringat dengan anting yang rasanya tidak asing ia lihat. Tidak ingin memikirkan yang tidak penting,ia harus fokus pada pekerjaannya agar ia bisa pergi menemui kakaknya yang tengah koma saat ini.


***


Bruuk.


"ah maaf...maaf." sesal Adara tidak sengaja menabrak wanita didepannya itu.


Leta mendongak dan menatap tajam saat mendengar suara yang tak asing ia dengar,atau lebih tepatnya suara yang paling ia benci.

__ADS_1


"apa kau tidak punya mata?! cih dimana-mana kau menyusahkan saja." ketus Leta mendorong keras Adara hingga jatuh.


Adara menghela napas lalu ia terkejut saat dress Leta tersingkap dan menampakkan luka di paha Leta.


"kau terluka?" tanyanya pelan. Leta berdecak kasar, "kau pasti senang kan? aku pincang gini." ketusnya lagi lalu berjalan mendahului Adara.


"terserah kau sajalah kak." ucap Adara pasrah lalu keluar dari rumah sakit setelah mengambil obat yang dibutuhkannya tanpa memperdulikan lagi kakak tirinya yang sedang terluka itu. Dalam lubuk hatinya ia begitu kasihan melihat kondisi Leta,namun apa dayanya. Kakak tirinya itu akan selalu membencinya.


"sialan tuh anak. Tapi ngomong-ngomong ngapain dia kerumah sakit? apa jangan-jangan dia mulai ingat?!" gumam Leta memandang punggung Adara ynag sudah mulai hilang dari pandangannya.


"tidak...tidak...ini tidak boleh terjadi. Jika Adara ingat kembali bakalan susah aku dapatkan Arshal. Aku harus cari cara lagi." gumamnya kesal lalu menelpon seseorang untuk menjemputnya,siapa lagi kalau bukan Bram.


***


Arshal terkejut saat tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang,awalnya Arshal ingin memukulnya tetapi saat melihat orang itu adalah istrinya ia pun urung mengangkat tangannya.


Adara diam sambil melihat tangan Arshal yang terlihat memar dan ada sedikit luka. Ia pun langsung mengeluarkan salep dan perban yang ia beli tadi.


"apa kau tidak sadar dirimu terluka Arshal?" tanya Adara memandang luka tangan pria itu. Ia perlahan-lahan sudah mulai berbicara informal pada suaminya walaupun masih belum ingat sama sekali.


Arshal hanya diam dan membiarkan istrinya mengobati lukanya. Ia pun heran,kapan luka itu muncul?


"Arshal kau mendengarku?" tanya Adara melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Arshal. Arshal tersadar dari lamunannya dan menoleh kearah Adara.


"tadi kau bilang apa?"


"itu aku tadi bilang,kapan kau terluka?" tanya Adara lagi. Arshal menggeleng sebagai jawabannya.


"huft,lain kali hati-hati. Yap,sudah selesai." ucapnya selesai mengobati Arshal. Adara langsung membereskan sampah-sampah perban yang ia gunakan tadi.


"terimakasih." ucap Arshal pelan.


Adara tersenyum lalu mengangguk pelan, "sama-sama."


"kau belum makan kan?" tanya Arshal mendongak kearah Adara. Adara menggeleng pelan, "belum."


Dengan semangat Arshal menggandeng tangan Adara, "ayo kita makan diluar." ajaknya namun Adara menarik tangannya dari genggaman Arshal membuat pria itu membalik badannya menatap istrinya. "ada apa?" tanyanya menyerngit bingung.

__ADS_1


"aku tidak nyaman jika kita berpegangan tangan didepan orang banyak." lirihnya pelan.


Arshal berdecak pelan, "tidak usah pedulikan mereka." ucapnya lagi menarik tangan Adara tanpa memperdulikan ocehan istrinya itu.


__ADS_2