I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 46


__ADS_3

Kini mereka sudah berada di Kantor polisi. Adara dan Batsyua mereka saat ini dirawat dirumah sakit. Wajah Ezra sekarang sudah tidak berbentuk lagi setelah dihajar habis-habisan oleh kedua saudara kembar itu. Arshal masih geram dan hampir saja ia memukul polisi karena menghalanginya untuk menghajar kembali Ezra.


"Arshal,tenangkan dirimu dulu." ucap Ara menenangkan keponakannya. Baru kali ini ia melihat keponakannya itu marah besar bahkan Daiyan yang suka cengar-cengir pun ikut marah juga.


"penjarakan atau aku bunuh dia! aku nggak ingin melihat wajahnya muncul lagi dihadapanku!!" ucap Arshal dingin.


"bagus ku cincang aja nih anak biar aku lempar dagingnya ke kandang singa!!" geram Daiyan menggebu-gebu.


Ara langsung memukul kepala Daiyan kuat, "oi,apa kau sudah tidak waras? kenapa kau malah ikut-ikutan marah sih? kau kan nggak ada hubungannya dengan dia!!" gemasnya menatap keponakannya yang satu itu. Yang bermasalah keluarga Arshal kenapa Daiyan malah ikutan marah.


"karena dia—" Daiyan berdecak pelan,dirinya heran mengapa marah dengan Ezra padahal hubungannya sama sekali tidak ada berkaitan dengan dirinya. Namun,ia kembali terngiang saat Batsyua merintih kesakitan menahan lukanya berlari menggedong Raid membuat amarahnya kembali membuncah.


"sial." umpatnya membuat semua orang menoleh kearahnya. Daiyan merasa kikuk dan kesal sekaligus. "lupakan."


Daiyan menarik dasinya,sesak napasnya membuat ia kekurangan oksigen. Amarah yang ia rasakan masih menjalar ditubuhnya, seolah-olah ia masih belum puas.


"singkirkan dia,jangan pernah muncul lagi dihadapanku!" ucap Daiyan dingin,dirinya pun melenggang keluar. Ara sedikit tertegun melihat ekspresi yang tidak biasa ditunjukkan Daiyan,siapa yang membuat amarah seorang Daiyan begitu besar? siapa yang menjadi pemicu amarahnya?


"kau dengar? tidak ada yang menginginkan kau disini Ezra,huft aku berterimakasih karena kau pernah menjadi sekretaris ku selama ini,dan aku tidak akan memaafkan kau setelah apa yang kau lakukan pada istriku."


"dia bukan istrimu sialan!!" sentak Ezra menatap tajam kearah Arshal. Arshal yang tadi sudah sedikit tenang,kembali menatap kesal kearah Ezra.


"apa kau bilang?!" Arshal berjalan hendak menghajar Ezra kembali,namun ia langsung dihadang polisi, "tuan tolong tenang."


Arshal langsung menepis tangan polisi itu dan duduk diseberang sangat jauh dari Ezra. Ezra tersenyum ketir menatap bosnya itu menatapnya dengan penuh kebencian.

__ADS_1


"huft,cepat urus pria ini,aku harus menemui istriku!" sentak Arshal. Dirinya Kasak-kusuk ingin menemui istrinya namun ia harus tertahan di kantor polisi kaibat ulahnya yang main hakim sendiri.


"makanya jangan main hakim sendiri,bodoh." gerutu Ara jengah menatap kearah Arshal. Arshal berdecak pelan, "cih,mana ada suami yang rela istrinya digitukan sama pria lain kak? kau tau bagaimana perasaanku saat melihat wajah Adara memar? rasanya aku ingin menghabisi pria itu!!" geramnya kesal menunjuk kearah Ezra yang tersenyum sinis kearahnya.


Ara berdecak kasar,percuma berbicara dengan keponakannya yang keras kepala. Ia saja baru pertama kali bertemu dengan istrinya Arshal. Ia begitu kagum saat melihat Adara.


"ish pak,biarkan cecunguk ini pergi! saya jengah melihatnya!" Gerutu Ara melihat Arshal semakin gelisah tidak karuan.


Polisi pun langsung membebaskan Arshal dari masalah, "tuan boleh keluar." setelah ucapan polisi itu,Arshal langsung bergegas keluar dengan sumringah.


"ku kira kau sudah mati Arshal,padahal aku udah membuat rem mobil kau blong." ucap Ezra langsung membuat langkah Arshal berhenti,lalu menyorot tajam kearahnya. "aku udah tau kau pelakunya. Kau ingin aku mati kan? Dan kau ingin mendekati istriku kan?" cercanya.


"kau bahkan sebenarnya sudah tau kan,kalau data Adara udah lama kau temukan. Kau itu naif,kau hanya obsesi pada istriku." ketusnya tetapi tidak membuat Ezra mendengarkannya dengan baik.


"buahahaha istri? sejak kapan kau anggap dia istrimu hah? kau aja bahkan tidak melakukan apapun selama satu tahun ini,dan kau hanya mengandalkanku mencari datanya brengsek."


Arshal menghela napas kasar, "kau sudah kupecat dan terimakasih selama ini sudah mau mengabdi di perusahaanku. Setidaknya kau ada kebaikan yang pernah kau lakukan selama bekerja." lanjutnya langsung melenggang keluar.


Arshal langsung merogoh sakunya dan mengambil ponselnya dan menekan nomor yang ia tuju. "selidiki siapa orang yang membantu Ezra dalam rencananya,pastikan datanya lengkap!" titahnya. Ia pun langsung melajukan mobil menuju rumah sakit.


***


"Adara kau sudah sadar?" seru Yua yang sama-sama terbaring di rumah sakit. Mereka dikhususkan dalam satu ruang inap. Adara menoleh kesamping dan mengangguk pelan, "terimakasih sudah menolong anakku." lirihnya.


"harusnya aku yang berterimakasih padamu Adara,kau menyelamatkan nyawa kami. Aku tidak akan melupakan jasamu."

__ADS_1


"dimana Raid?" tanya Adara tidak melihat anaknya dalam satu ruangan. "tenang Adara,dia sedang bersama nyonya Hazel saat ini. Karena anak kecil belum boleh masuk ke rumah sakit." jelasnya lagi.


Adara mengangguk pelan,setidaknya anaknya selamat dan ia begitu lega. Ia sedikit meringis saat menyentuh bibirnya yang sedikit terluka akibat tamparan Ezra.


Matanya langsung menoleh kearah pintu yang sedang terbuka dan menampakkan Daiyan buru-buru masuk kedalam ruangan mereka. " dimana Yua??" tanyanya panik,Adara menunjuk kearah samping dan membuat Daiyan menatap wanita yang kebingungan menatapnya.


"sedang apa kau disini Yan?" tanya Batsyua pelan. Walaupun Daiyan adalah atasannya,sering kali ia menggunakan bahasa informal pada pria itu. Daiyan berdecak pelan,wanita itu walaupun terbaring lemah tetapi dirinya masih menyebalkan seperti biasanya.


"aku melihat mu karyawanku yang cedera. ini termasuk kecelakaan kerja dan aku harus bertanggung jawab." ucapnya asal. Tidak mungkin ia tunjukkan secara terang-terangan jika dirinya begitu mengkhawatirkan wanita itu. Batsyua mencebik pelan, "alah,kau nggak mau rugi kali. Dah tenang aja,aku yang akan bayar pengobatanku sendiri!"


"nggak bisa,aku yang akan bayar batu! kau itu karyawanku!" kesalnya.


Batsyua menghela napas pelan, "hei tuan bisakah kau menyebutkan namaku dengan benar Y-U-A,yua! kenapa kau suka sekali manggil aku batu. Aku ini bukan batumu! tadi kau udah benar memanggil namaku saat masuk tadi." Ia ingat saat Daiyan tergesa-gesa masuk,dapat ia dengar samar jika Daiyan memanggil namanya dengan benar.


"kau itu memang batuku bodoh. Batu yang suka keras kepala dan suka membuatku kesal." ucapnya spontan membuat Batsyua terdiam. Bukan karena perkataan Daiyan yang kasar tetapi satu kata yang terucap dari bibir pria itu yang membuatnya salah tingkah 'batuku' terus terngiang-ngiang dikepalanya.


"ah sialan!" umpatnya ingin menyingkirkan pikiran gilanya itu. Jangan sampai ia terbawa perasaan karena kebaikan pria ini. "cih,tidak tau diri sekali kau,beraninya kau mengumpat ku!"


"aku bukan mengumpat mu bodoh,aku mengumpat otakku yang sedikit konslet!!" gerutunya langsung menarik selimutnya menutupi semua wajahnya. Sedangkan Adara yang sedari hanya penonton perdebatan mereka tersenyum tipis. Ia yakin kedua manusia itu ada memiliki perasaan satu sama lain.


Lagi-lagi matanya melirik kearah pintu yang kembali terbuka dengan sedikit kasar. Seorang pria yang ia tunggu daritadu akhirnya muncul juga dihadapannya. "Arshal." lirihnya memanggil nama suaminya itu.


Arshal langsung berlari kearah Adara. Hatinya tergores melihat Adara terbaring disini. Andaikan dirinya bisa datang lebih cepat mungkin Adara tidak akan seperti ini.


"maafkan aku Ra." lirihnya menggenggam erat tangan istrinya. Adara tersenyum tipis kearah Arshal, "ini bukan salah mu Shal."

__ADS_1


Arshal tersenyum tipis dan mengecup bibir Adara cepat," pasti rasanya sakit ya." Adara mengangguk pelan. "terimakasih sudah datang tepat waktu Shal."


__ADS_2