I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 18


__ADS_3

Adara hanya diam mengikuti Arshal kemanapun pria itu berjalan,sangking ketakutannya ia hanya menunduk berjalan tanpa memandang kedepan,sampai tidak sadar jika dirinya malah menabrak punggung pria itu.


"aduh." keluh Adara saat menabrak sesuatu didepannya,ia pun mendongak dan terkejut saat dirinya menabrak pria dingin itu.


"ma-maaf tuan." lirihnya pelan sambil menundukkan kepalanya. Arshal menghela napas lalu masuk kedalam kamarnya. Adara tertegun diam ditempat saat Arshal sudah masuk kedalam kamarnya,lalu bagaimana dengan dirinya? apakah ia juga ikut masuk? yang benar saja. Dirinya masih wanita terhormat,yang enggan main masuk kedalam kamar orang.


"kau sedang apa diam disitu?" tanya Arshal menatap tajam kearah Adara. Adara lagi-lagi terperanjat,langsung menghampiri tuannya.


"ya tuan?"


"kau masuk dan urus Raid. Itu kan yang kau mau tadi?" sindir Arshal lalu ia berjalan melewati Adara. "aku percayakan menjaga Raid denganmu, jika dia sampai terluka kau yang akan kena!" titahnya langsung pergi dari pandangan Adara.


Adara menghela napas pelan,mungkin memang akan sulit lebih dekat dengan Arshal.


"apa aku mundur aja?" gumamnya pelan,lalu ia melirik kearah Raid yang tengah tertidur. Dirinya tersenyum sendu menatap bocah tampan itu,tanpa terasa air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


"malang sekali nasib kamu nak,siapa mama kamu sebenarnya?" lirih Adara memandang Raid dengan lekat.


***


Arshal langsung menumbuk cermin kamar mandi diruang kerjanya dengan keras. Sampai darah segar mengalir ditangannya. Arshal menghempaskan semua apa yang ia lihat didepan matanya.


"sial!sial!sial!!!" umpatnya terus terucap. Wajah Adara terus mendominasi di otaknya,perasaannya yakin jika wanita yang sedang bersama anaknya adalah istrinya. Tetapi,logikanya mengatakan tidak. Jelas dirinya saat mendapatkan otopsi jasad wanita yang kecelakaan waktu itu adalah istrinya. Penuh dengan luka,.


Tetapi,sekarang?


"ada apa ini,kenapa aku seperti dipermainkan takdir?" lirihnya sambil terduduk dilantai. Air matanya keluar membasahi pipinya. Setelah merasa cukup tenang,Arshal mencuci tangannya yang terluka lalu membalutnya dengan perban tak lupa ia mencuci mukanya yang sembab itu lalu berjalan ketempat ruang kerjanya.


"fyuuh." helaan napasnya sambil duduk menatap berkas tentang wanita yang bernama Adara itu. Arshal dengan perlahan membuka berkas itu.


Deg. Netra matanya terkejut saat membaca semua data yang ada didalam. Semuanya sangat mirip dari nama sampai data alumni sekolah pun sama dengan istrinya. Ini membuatnya frustasi sekaligus bingung.


"huft,apa benar dia Adara?" lirih Arshal menatap foto Adara yang ada didalam berkas. Arshal merasa ada yang janggal,lalu ia bergegas mengambil berkas hasil otopsi istrinya itu.

__ADS_1


"golongan darah Adara disini O,tetapi di berkas otopsi B. Cih,aku tidak terlalu mengingat istriku golongan apa dulu." gerutu Arshal menatap kedua berkas itu. Arshal yang tengah termenung itu,ia mendengar suara samar-samar dari luar membuat jiwanya penasaran dan berjalan mendekati pintu.


"Bibi,aku akan segera pulang." ucap Adara tengah menelpon bibinya.


"maaf mengkhawatirkanku," ucapnya pelan sambil meliri jam tangan yang menunjukkan pukul sembilan malam.


"assalammualaikum." ucapnya mengakhiri panggilannya itu. Tampak raut cemas diwajah cantik Adara. Arshal hanya mengintip diam memperhatikan wanita itu.


Adara langsung bergegas mengambil tasnya dan berlari kecil keluar. Arshal yang melihat itu diam-diam mengikuti wanita itu dari belakang.


"oh tidak gerimis,ya ampun aku harus cepat pulang." ucapnya panik,beruntungnya ia melihat taksi tidak jauh dari tempat rumah bosnya. Seolah lupa pamit dengan sang pemilik,Adara langsung bergegas keluar. Tanpa sadar menjatuhkan dompetnya dilantai,ia pun langsung masuk kedalam taksi itu.


Arshal yang melihat itu,ia pun berjalan mengambil dompet Adara. Rasa penasarannya semakin membuncah untuk membuka dompet itu. Kartu identitas adalah hal yang pertama kali Arshal lihat.


"jalan ini,bukannya ini tempat tinggalnya??" gumam Arshal memandang kartu itu.


Sedangkan wanita cantik tadi,kelabakan merogoh tasnya mencari dompet untuk membayar ongkos taksinya. Supir taksi tadi sedikit kesal menunggu Adara.


"maaf pak,bentar saya ambil uangnya kedalam rumah. Tadi kayaknya dompet saya ketinggalan." ucap Adara pelan,ia yakin dompetnya ketinggalan dirumah Arshal.


Astaga,aku lupa berpamitan dengannya,matilah aku!!. sesal Adara dalam hati.


"cih,anda lama sekali nona." kesal supir itu lagi.


"ini pak." ucap seseorang menyodorkan lembaran uang pada supir itu. Supir tadi menyerngit heran,tetapi ia tetap menerima uang tersebut dan menancap gas melaju menjauhi Adara dan pemuda tadi.


"Ezra? sedang apa kau disini?" tanya Adara bingung.


Pria tadi tersenyum, "tidak ada,kau kenapa selarut ini pulang?" tanyanya menatap Adara.


Tidak mungkin kan aku bilang abis dari rumah Arshal, bisa-bisa dia salah menilaiku lagi. gumam Adara pelan.


"hahahaha biasa meetime. Aku tadi refreshing sebentar." kilah Adara bohong. Ezra pun percaya manggut-manggut mengerti.

__ADS_1


"eh tapi Ez,kau malah membayar ongkos taksi tuh tadi. Tunggu bentar yaa aku ambil uangnya didalam." ucap Adara hendak bergegas masuk kedalam rumah,tetapi ditahan oleh Ezra.


"nggak usah,aku memang mau ngasih kok. Tenang aja kau tidak perlu mengganti uangnya."


"tapi Ez—"


"aku ikhlas Adara,ya ampun. Masa sama sahabat sendiri harus perhitungan." celoteh Ezra. Adara terkekeh pelan, "kau kenapa ada disini Ez?" tanya Adara menatap Ezra.


"Biasa,kerumah saudara disana. Keponakanku terus memintaku datang." jawab Ezra.


"oooo."


"Ra,gimana besok kita jalan-jalan,kan besok weekend. biar refreshing bentar kita." ajak Ezra,Adara tampak berpikir sejenak lalu mengangguk, "emang kita libur ya besok?" tanya Adara lagi.


"nggak sih,cuman kita meliburkan diri. Kek izin gitu. Lagian jadwal pak bos besok lenggang,jadi nggak papa kalau aku libur sebentar." jelas Ezra menatap ponselnya mengecek jadwal kegiatan bosnya besok.


"itu namanya kita izin." ucap Adara datar,disambut gelak tawa Ezra.


"hehehehe."


"aku tergantung aja,masalahnya Bu Iva sepertinya memerlukan bantuanku. Nggak mungkin kan,aku membiarkan Bu Iva kerja sendiri." ucap Adara lagi.


"hmm mungkin lain kali ajalah yaa." ucap Ezra,ada sedikit mengandung kekecewaan dalam nada suaranya. Sejenak mereka terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. Angin sepoi-sepoi menerpa anak rambutnya membuat Ezra tertegun melihat Adara.


"cantik." ucapnya tanpa sadar,


"apa?" tanya Adara lagi. Ezra tersentak lalu menggeleng pelan, "tidak ada,ya sudah masuk sana. Bibimu pasti nungguin." ucap Ezra langsung mendorong pelan Adara kearah rumah. Adara tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya kearah Ezra.


"aku akan berusaha mendapatkanmu Adara." gumamnya pelan lalu menghidupkan motornya dan melaju meninggalkan rumah Adara.


Tanpa mereka sadari,jika dari tadi mereka diawasi oleh mata elang seseorang dibalik pohon. Memandang tidak suka cengkrama antara Adara dan Ezra. Memang Arshal entah atas niat apa mengikuti Adara sampai sini. Ini hal gila yang pernah ia lakukan,mengikuti seseorang diam-diam sampai rumah. Arshal merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya ia mengikuti Adara karena hanya menuntaskan rasa penasaran dan kalut menatap wanita yang mirip dengan istrinya itu.


"tidak akan kubiarkan kalian libur." ucapnya dingin lalu kembali masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2