I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 38


__ADS_3

Leta mengepal tangannya kuat memandang benci pada pasangan suami-istri itu.


"sial aku terlambat satu langkah!! cih,bagaimana mereka bisa bertemu sih?! bakalan susah aku mendekati Arshal." gerutu Leta frustasi. Ia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Ia harus berputar otak untuk merencanakan memisahkan mereka atau lebih tepatnya membunuh orang yang paling ia benci,yaitu Adara.


***


"kau ingin pesan apa?" tanya Arshal sambil membolak-balik menu makanan ditangannya.


"ada apa aja?"


"hmm banyak,kau bisa liat sendiri." jawab Arshal sambil menyodorkan menu makanan itu pada istrinya.


"aku ikut ajalah, samain dengan kau saja Shal." seru Adara.


"aku ingin pesan lobster,tapi kau tidak bisa makan karena alergi seafood. Aku pesankan ayam panggang aja ya??" tawar Arshal.


Deg.


Bagaimana dia tau aku alergi seafood? apa benar dia memang suamiku? ya Tuhan kenapa aku tidak ingat apapun tentang pernikahan ini?!


Adara mengangguk pelan,setelah memesan makanan. Adara tampak menimang-nimang untuk berbicara pada Arshal tentang fakta-fakta yang muncul. Ia ingin mendengar semua tentang pernikahan mereka.


"Arshal,aku boleh tanya sesuatu?" tanya Adara pelan. Arshal mendongak menatap istrinya, "ada apa?"


"hmm aku boleh tau tidak bagaimana kita bertemu pertama kali?" tanya Adara penasaran. Siapa tau,ia ingat tentang pertemuan mereka pertama kali.


"kau yakin? tapi pelan-pelan aja mengingatnya,tidak perlu dipaksakan sayang. Aku tidak ingin menambah tekananmu." ucap Arshal sedikit cemas.


"tidak apa-apa Shal,aku ingin mengingatnya. Akan lebih stres lagi kalau aku tidak mengetahui apapun yang terjadi selama ini." lirih Adara pelan.


Baru saja Arshal hendak menjawab Adara, tiba-tiba seorang pelayan tersandung tidak sengaja menumpahkan minuman yang dipegangnya sehingga baju yang dikenakan Adara basah.


"apa yang kau lakukan?!" sentak Arshal spontan berdiri,ia pun langsung menghampiri istrinya, "kau tidak apa-apa?" tanya Arshal cemas.


"maaf...maaf kan saya tuan." lirih pelayan itu.


"bagai—"

__ADS_1


"tidak apa-apa,kamu bisa lanjut lagi pekerjaanmu." ucap Adara tidak ingin memperkeruh suasana. Ia tidak ingin menjadi tontonan ditengah suasana restoran sedang ramai dengan pengunjung lain.


"terimakasih nyonya,sekali lagi saya minta maaf." sesal pelayan tadi langsung pergi dari tempat mereka.


"kenapa kau memaafkannya sayang? biar dia bertanggung jawab."


"tidak perlu Arshal,lebih baik memaafkan daripada semakin memperkeruh suasana." ucap Adara pelan. Ia masih sedikit gugup setiap Arshal spontan memanggilnya dengan sebutan sayang.


Ya ampun,jantung tolong dikondisikan. gumam Adara gugup.


"aku akan bersihkannya di kamar mandi bentar." ucap Adara lagi berjalan menuju toilet. Sesampai di toilet,Adara hendak mengambil tisu tiba-tiba ia melihat sosok orang yang ia kenal dari cermin.


"Leta." lirih Adara pelan,terlihat dari sorot wanita itu menatapnya dengan penuh kebencian.


"jauhi Arshal brengsek!!" sentak Leta menarik langsung rambut Adara. Adara langsung menepis tangan Leta dan mendorongnya sedikit.


"apa masalahmu Leta?!"


"oh kau sudah berani sekarang yaa!! sudah melunjak dasar sialan!!" bentak Leta tidak terima langsung menjambak rambut Adara kembali. Beruntung,tak berapa lama ada pengunjung lain yang masuk dan syok melihat pertengkaran itu akhirnya ia meminta bantuan dengan yang lain.


"nyonya tolong tenang,ini restoran kami. Kami tidak ingin membuat keributan." ucap staf restoran itu.


"lepaskan!! dia pelakor!! dia yang merebut calon suamiku yang sudah dijodohkan oleh orang tuanya sendiri!!!"


Deg. Adara terdiam setelah mendengar ucapan Leta. Padahal sebelumnya ia merasa bahagia,jika memang benar dia memang istrinya Arshal. Namun,setelah mendengar hal itu membuat hatinya menjadi tidak yakin dengan semu ini.


Adara langsung keluar dengan perasaan yang kacau,bahkan ia langsung mengambil tasnya dan melenggang keluar. Arshal begitu terkejut langsung menyusul istrinya yang terlihat tidak baik-baik saja. Ia juga bingung,kenapa ada keributan di kamar mandi,tetapi setelah melihat raut istrinya pasti ada masalah yang terjadi didalam sana.


Adara melenggang cepat langsung memberhentikan taksi yang melintas disana. Seolah-olah tuli dengan panggilan Arshal,ia pun tetap cepat masuk kedalam taksi.


"jalan pak!" pintanya pada supir taksi itu. Taksi yang digunakan Adara langsung menancapkan gas melaju meninggalkan restoran.


"sial." umpat Arshal langsung berlari menuju kedalam mobilnya,ia pun langsung menghubungi sekretarisnya untuk mencari tau masalah yang terjadi didalam restoran. Arshal langsung melajukan kecepatan tinggi mengejar taksi yang digunakan Adara. Ia sendiri bingung kenapa istrinya tiba-tiba pergi?


Beruntung Arshal melihat dari kejauhan taksi yang digunakan Adara,ia pun langsung memotong jalur mobil-mobil lain tanpa memperdulikan keselamatannya lagi. Arshal langsung berhenti menghadang didepan taksi itu,sontak taksi itu langsung mendadak berhenti.


"woii apa kau sudah gila?!" sarkas supir itu menatap Arshal yang berjalan kearah mobilnya. Adara menatap tajam kearah Arshal yang begitu nekat mengadang taksi yang dinaikinya. Arshal langsung membuka pintu taksi itu dan menatap tajam kearah Arshal.

__ADS_1


"kita bicara diluar Adara." ucapnya lembut.


"tidak ada yang perlu kita bicarakan,biarkan aku pergi!" ketus Adara.


"apa maksudmu? kau mau pergi kemana hah?" tanya Arshal naik satu oktaf.


"kau tidak perlu tau." ketus Adara hendak menutup pintu taksi kembali. Arshal langsung menahan pintu itu,rahangnya mengeras dan mengangkat istrinya seperti karung.


"hei kalian belum bayar!" sentak supir itu membuat Arshal langsung mengeluarkan uang didalam dompetnya asal.


"Ambil saja semuanya!" serunya melempar uang itu dan menutup pintu dengan keras dan berjalan menuju mobilnya. Adara terus memberontak ingin turun dari Arshal,namun pria itu tidak menggubrisnya.


"Arshal turunkan aku!!" teriak Adara.


"diam Adara!" bentak Arshal membuat wanita itu terdiam. Arshal saat ini tampaknya benar-benar sangat marah. Arshal langsung memasukkan Adara kedalam mobilnya dan tak lupa memasang seltbelt pada wanita itu. Arshal langsung memutar dan masuk kedalam kursi kemudi.


Tanpa banyak bicara,Arshal langsung melajukan mobilnya menuju tempat yang cocok untuk berbicara pada istrinya.


"Arshal turunkan aku, atau aku loncat dari sini!" ancam Adara membuat Arshal langsung menepikan mobilnya.


"apa masalahmu Adara?!" bentak Arshal. Ia tidak tau masalah apa yang membuat istrinya marah padanya.


"katakan apa masalahmu sampai kau pergi kayak tadi?" tanya Arshal menahan emosinya pelan. Beberapa kali pria itu menghela napas mengatur emosinya untuk tidak membentak istrinya yang saat ini tengah menahan tangis.


"kau akan menikah Arshal,apa benar kau itu suamiku?" tanya Adara menbuka suara.


Arshal terkejut dengan penuturan Adara,apa maksud istrinya?.


"kau ini bicara apa Ra,dengar baik-baik aku itu suamimu dan kau istriku,dan Raid adalah anak kita berdua. Dan lagi aku tidak akan menikah lagi." jelas Arshal dengan sejelas-jelasnya.


"tapi kenapa aku tidak ingat apapun?! kenapa aku hanya tidak ingat kau dan Raid hah?? apa kalian menipuku? apa ka—" mata Adara langsung membulat sempurna saat bibirnya menyatu dengan bibir Arshal.


"itu tidak benar Adara,kau memang istriku. Perlu aku tunjukkan bukti buku nikah kita?"


"buku nikah bisa dicetak kapan saja. Aku tidak percaya Arshal." lirih Adara. Ia merasa tertampar dengan semua kejadian yang ia alami saat ini. Arshal mengacak-acak rambutnya.


"akan kubuat kau percaya." ucap Arshal dingin langsung menancapkan gas menuju suatu tempat.

__ADS_1


__ADS_2