
Adara menatap kosong langit kamar kos pria yang tak lain adalah suaminya. Suami? ia saja tidak mengenal sosok suaminya itu seperti apa. Dirinya hanya diam dan tidak ikut berkomentar. Biarlah seperti itu,mungkin akan segera mereda seperti biasanya.
Seiring berjalannya waktu,walaupun suami istri sama-sama enggan menyapa satu sama lain. Adara tidak tahu jika Arshal mempunyai perusahaan besar saat priaitu masih menunjang pendidikannya. Dirinya pun hanya bisa pasrah mengikuti alur takdir yang sudah digariskan untuknya.
"baiklah,lupakan jika kau sudah menikah Adara. Kau tetap harus bisa hidup." ucapnya menyemangati dirinya sendiri,namun senyuman itu hanya sebentar. Terbesit dihatinya terasa nyeri mengingat pernikahannya hanya dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun. Pernikahan impian yang seharusnya diadakan pesta dan diketahui oleh semua orang kini hanyalah angan belaka.
Arshal,suaminya itu sangat sulit didekati. Bahkan pria itu tidak pernah meliriknya kebelakang. Sungguh pria seperti kulkas itu hanya menganggapnya sebagai patung hiasan yang terpajang dirumah. Oh,sejak ia menikah dengan Arshal,pria itu membawanya kerumah yang besar. Ia pun menyerngit heran,kenapa pria yang memiliki rumah sebesar itu tinggal dikos-kosan.
Adara dengan berani bertanya pada Arshal untuk pertama kalinya setelah menikah dan beruntung pria itu menjawab pertanyaannya walaupun singkat.
"aku bosan tinggal disini."
Mendengar perkataan itu rasanya Adara ingin melemparnya dengan batu besar,tanpa ia sadari jika pria itu tersenyum tipis dengan kelakuannya.
Arshal meletakkan barang-barang diatas meja menghampiri istri mendadaknya itu yang sedang asyik bermain ponselnya. "Adara." panggilnya membuat gadis itu menoleh kearahnya. "ada apa?"
"susun barang ini ditempatnya,pastikan semuanya rapi." titahnya langsung berjalan menuju kamar mandi tanpa mendengar protes dan umpatan yang keluar dari mulut Adara.
Sejak saat itulah,Arshal senang membuat Adara menderita,ia terus menyuruh ini dan itu pada istrinya. Ia malah seperti mendapatkan mainan baru dan tidak membuatnya bosan tinggal dirumah yang sebesar ini. Suara Adara yang melengking membuat rumah ini terasa ramai.
Hingga suatu hari,tanpa sengaja Arshal salah meminum minuman saat ia menghadiri pesta para pebisnis. Kepalanya pusing dan ia tahu jika ada sesuatu didalam obat itu. Arshal langsung berlari menuju mobilnya menjauh dari kerumunan agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.
Arshal langsung melajukan mobilnya pulang. Kepalanya terus berdenyut nyeri dan pandangannya mulai kabur,beruntung ia akhirnya sampai dirumah dengan selamat. Adara melihat suaminya pulang,membuatnya langsung menghampiri pria itu.
Adara menyerngit menatap gelagat aneh yang ditunjukkan Arshal. Apalagi Arshal menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa. Tetapi ia menepis pikiran negatif itu dan membantu pria itu membopong ke kamarnya.
__ADS_1
"Arshal,kau baik-baik saja? kenapa mukamu merah sekali?" tanya Adara cemas menatap wajah suaminya. Saat ia hendak berjalan, tiba-tiba Arshal langsung menarik tangannya dan membuat ia jatuh dalam Kungkungan Arshal.
Deg. Pandangan mereka bertemu dan menatap lekat,Adara semakin gugup saat wajahnya dekat dengan Arshal. "Arshal kau baik-baik saja? jawab ak—"
Arshal langsung mencium dalam bibir Adara lalu dan tepat malam itu terjadilah dimana Adara menyerahkan mahkotanya untuk Arshal.
***
"oh tidak,apa yang harus kulakukan?" gumam Adara panik saat melihat tespeck yang ia pegang saat ini. Memang sejak sebulan yang lalu setelah malam itu,Arshal kembali seperti semula yang cuek bebek tidak menyapanya. Pria itu bahkan tidak merasa bersalah karena telah merenggut mahkota Adara. Ingin marah tetapi sayang,entahlah Pokoknya Adara merasa aneh dan gila bersama Arshal.
Pikirannya kembali kepada tespeck itu,ia senang sebentar lagi,ia akan menjadi seorang ibu. Namun,ia sedih karena takut Arshal akan marah jika ia hamil. Ia bingung harus bagaimana sekarang.
"Adara,kau dimana??" seru Arshal dari luar. Mendengar suara Arshal membuat Adara panik dan tanpa sengaja menjatuhkan tespeck yang ia gunakan tadi dilantai. Ia pun langsung bergegas menemui suaminya itu.
"ada apa?" tanya Adara sedikit menunduk. Ia tidak ingin menatap wajah Arshal. "kenapa kau menunduk? lihat aku Adara." ucapnya dingin.
Adara mendongak dengan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk mata. "kau barusan membentakku??" lirihnya lalu meninggalkan Arshal yang menatapnya bingung.
"ck,kenapa dia jadi aneh begini sih?" gusarnya mengusap wajahnya kasar. Ia pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saat hendak melepaskan pakaiannya,ada benda asing dilantai yang membuatnya penasaran. Ia pun langsung mengangkat barang itu dan menyergit bingung.
"alat apa ini?" gumamnya heran menatap benda yang merupakan tespeck milik Adara. "sudahlah,paling ini sampah doang." ucapnya acuh tak acuh lalu membuang alat itu kedalam tong sampah.
Setelah membersihkan dirinya,ia menatap wajahnya dicermin,dan tersenyum tipis bangga jika dirinya sangat tampan dimatanya. "gila,aku tampan juga. Nggak sia-sia lahir dari papa tampan." ucapnya. lalu tertawa geli dengan aksi konyolnya.
"huft udah jam delapan,mana sih Adara??" celingak-celinguk sekeliling rumah tidak menemukan istrinya ada disana. Terbesit dihatinya tadi merasa bersalah membentak istrinya, padahal ia tidak bermaksud untuk membentak wanita itu.
__ADS_1
Matanya terus mencari sosok istrinya tetapi ia tidak menemukan istrinya ada dirumah. Ia pun segera mengambil ponsel didalam kamarnya namun ia melihat iklan yang muncul dalam ponselnya. Biasanya ia mengabaikan iklan itu namun kini matanya membulat sempurna melihat iklan kali ini menjelaskan alat yang sempat tadi ia lihat. Teringat dengan alat yang ada didalam tong sampah yang ia buang tadi.
Ia pun langsung berlari menuju kamar mandi mengambil alat tadi. Tangannya menggigil saat menyentuh alat itu,kini ia tahu jika alat itu adalah tespeck kehamilan. Apa jangan-jangan istrinya?
"oh ya tuhan,benarkah dia??" gumam Arshal tidak percaya. Dengan cepat ia berlari mengejar Adara. Beruntung istrinya ternyata baru pulang sambil memegang satu cup eskrim ditangannya. Arshal langsung cepat memeluk istrinya itu. "maafkan aku."
#Flashback Off
"setelah kejadian itu,aku baru mulai mencintaimu say—" Arshal berdecak pelan melihat Adara kini sudah tertidur pulas. Sudah susah payah ia bercerita panjang lebar dengan seenaknya istrinya itu tidur dan membiarkan dirinya bercerita sendiri seperti orang gila. Namun ia kembali tersenyum menatap betapa damainya istrinya saat tidur,tangannya pun mengelus kepalanya.
"mimpi yang indah sayang." ucapnya mencium kening Adara. Ponsel Arshal berdering membuat pria itu bangkit dari tempat tidurnya menuju ponselnya yang tergeletak diatas sofa. Melihat nomor itu ia pun langsung keluar dari ruangan Adara. "katakan apa yang kau temukan?"
***
Disisi lain Theo mengabarkan pada Leta jika Ezra tertangkap oleh polisi,Leta yang sedang bersama Bram langsung menoleh kearah pria itu dan turun dari pangkuan Bram. "tunggu sebentar sayang." ucapnya manja sekilas mencium bibir Bram. Dirinya langsung menemui Theo yang masih setia berdiri di ambang pintu.
"pria bodoh itu kenapa lagi? apa yang dilakukannya?"
tanya Leta ketus.
"dia membuat Arshal hampir saja celaka trus menculik Adara." Leta berdecak kasar,pria itu mengambil tindakan sendiri tanpa ia tahu.
"ada dimana dia sekarang? apa dia membeberkan tentangku?"
Theo menggeleng, "saya belum mendapatkan info tentang itu. Tapi,saat ini dia masih didalam kantor polisi."
__ADS_1
"bunuh dia,jangan sampai ketahuan!"