I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 11


__ADS_3

Adara mengerjap matanya menatap ruangan putih,ia menyerngit bingung bagaimana dirinya bisa sampai disini?


"Alhamdulillah kau sadar juga Adara." seru Batsyua yang duduk tak jauh dari Adara. Ia pun langsung menghampiri Adara, "kenapa aku bisa ada disini?" tanyanya bingung. Ini udah dua kalinya ia terbangun dirumah sakit yang sama.


"kau tadi pingsan Adara,jadi kami membawamu kesini." terang Batsyua sambil mengambil air putih untuk Adara.


"kenapa aku bisa pingsan?" tanya Adara penasaran,ia meneguk air putih itu.


"aku tidak tau penyebabnya Ra,tapi kata dokter kau kurang istirahat yang cukup dan juga..." ucap Batsyua menggantung membuat Adara menaikkan alisnya satu, "dan juga?"


"kau pusing setelah mendengar nama anak tuan Arshal." ucapnya pelan.


Deg.


Memang benar,setelah mendengar nama putra Arshal,Adara sedikit pusing. Nama itu terasa tidak asing baginya tetapi ia sulit meraihnya. Adara tidak tau apa maksud semua itu,yang jelas ada sesuatu yang masih semu.


"maaf,mungkin aku lupa sarapan makanya pingsan tadi." kilahnya asal.


"benar,dokter juga bilang tadi lambungmu kosong Ra,ya sudah makanlah dulu," ucap Batysua lalu bersiap-siap mengemasi barangnya.


"maaf Adara,aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi disini,aku ada keperluan penting diluar,nggak papa?" tanya Batsyua tidak enak hati meninggalkan Adara yang masih terinfus dirumah sakit.


"tenang saja Yua,aku bisa kok sendiri,lagian aku harus nunggu infus ini habis dulu baru bisa pulang kan? terimakasih sudah membantuku Yu." ucap Adara pelan. Batsyua mengangguk pelan, "kalau gitu aku duluan ya, assalammualaikum." pamitnya melenggang keluar.


"wa'alaikumsalam." jawab Adara,Adara kembali berbaring menatap kearah langit kamar ruang inapnya. Masih menjadi tanya besar tentang nama itu,nama yang membuat dirinya terasa tidak asing.

__ADS_1


"Raid? dimana aku mendengar nama itu? kenapa saat menggendongnya terasa hangat?" lirihnya tanpa sadar air matanya mulai membasahi pipinya.


***


Arshal tengah bersiap-siap untuk pulang kembali ke kota tempat tinggalnya sekarang. Sudah seminggu ia berleha-leha dirumah orang tuanya,kini saatnya ia harus kerja rodi dan bertemu dengan anaknya yang menggemaskan itu.


"huft,aku harus segera cepat pulang." ujarnya lalu menyeret kopernya menuju keluar kamar. Ia pun langsung menghampiri kedua orang tuanya yang tengah bercengkrama tentang sesuatu. Mendengar suara sepatu Arshal membuat keduanya menoleh kearah Arshal.


"ya ampun,kau sudah mau pergi? tidak ingin lama disini?" cerca Hazel memandang sendu kearah anaknya. Memang tidak terasa sudah seminggu mereka bersama,akhirnya anaknya yang super sibuk mau tak mau harus pergi.


"cih,kau itu tidak bisa melihat suasana yaa,kenapa harus buat perusahaan disana? kenapa tidak pindah kesini?" ketus Muaz memandang anaknya. Memang hubungan ayah anak itu layaknya sahabat,asal ceplas-ceplos saja. Ia memang dingin diluar tetapi jika bersama keluarganya ia bobrok seperti anak diluar lainnya.


"huh,Papa sendiri kenapa baru buat perusahaan saat aku remaja? kemana papa selama ini?" cercanya menatap angkuh kearah papanya.


"hei anak kurang ajar,berani sekali kau mengataiku seperti itu, ckckck ya lah sombong. Kau yang baru selesai kuliah langsung bangun perusahaan besar. Kau kan tau gimana Papa dulu kan?" ketus Muaz lagi.


"ya sudah,aku pergi dulu yaa. Assalammualaikum." pamit Arshal langsung menyalami kedua orang tuanya,mereka hanya menggeleng kepala melihat kelakuan anaknya dan membiarkan pasrah melihat punggung anaknya mulai kian menjauh.


"jangan lupa temui calon istrimu Arshal!" seru Hazel membuat Arshal berbalik badan.


Arshal menghela napas pelan,ia mengiyakan mamanya walaupun sebenarnya hatinya sangat menolak wanita itu,hatinya hanya milik Adara. Istri dan ibu dari anaknya,tidak boleh ada orang lain yang masuk kedalam relung hatinya.


Lain halnya dengan pria dingin itu,wanita cantik yang sederhana itu tengah mengurus beberapa berkas yang akan dilaporkannya pada Bu Iva. Banyak berkas yang selesai dengannya dalam waktu singkat,Bu Iva selalu memuji keahliannya yang luar biasa itu.


"huft,bentar lagi siap." serunya sambil merenggangkan otot,setelah menyelesaikan berkas tersebut. Ia pun langsung merapikan berkas itu lalu dibawanya keluar. Baru saja ia melangkah ingin masuk kedalam ruang Bu Iva,ia diberitahu oleh salah satu karyawan Bu Iva jika,beliau berada diruang bosnya.

__ADS_1


Adara bingung,pasalnya Bu Iva meminta berkas itu segera karena ia ingin melaporkannya pada bos itu. Ia sedikit bingung dan tidak tau harus berbuat apa sekarang. Setelah berkutat panjang dengan pikirannya sendiri, barulah ia memutuskan untuk menemui Bu Iva di ruang bosnya sekaligus melihat secara langsung bos kesukaannya itu.


Yap,setelah mengetahui siapa Arshal,membuat dirinya semakin menyukai pria dingin itu. Rumor di kantornya banyak yang bilang jika bosnya itu super dingin,dan tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Pria itu tidak akan segan-segan memecat siapapun yang berani menggodanya. Adara menggeleng pelan untuk tidak melampaui batas,cukup ia menyukai dalam diam saja.


"aduh,aku lupa harus memfotokopikan berkasnya dulu." gerutunya sambil menepuk jidatnya. Ia pun lansgung bergegas menuju tempat fotokopi yang biasanya ia pakai.


"Adara." panggil seeeorang membuat Ia menoleh kebelakang,dan terkejut saat melihat wajah orang itu.


"Ezra? kau disini??" kejutnya mendapati sahabatnya ada disini. Ezra hanya menanggapi dengan senyum tipis tanpa mengalihkan perhatian kearah lain.


"iyaa,kau udah lama kerja disini kan?" tanyanya basa-basi.


"sudah lama nggak ketemu kau semakin tampan aja." puji Adara membuat Ezra melengkungkan senyumnya.


"kau juga,sekarang makin cantik. Selama dua tahun ini kau kemana aja?" tanya Ezra penasaran.


"aku? yaa disini aja. Harusnya aku yang nanya kau selama ini dimana,apalagi kita udah lama nggak ada chat semenjak dua tahun itu." Ucap Adara mengingat-ingat.


Ezra hanya memandang datar, "iyaa,sekarang kita satu kantor. Harusnya kita saling chat bukan?" tanya Ezra menatap Adara. Adara mengangguk, "iyaap,ini nomorku Ez." ucap Adara sambil memberi secarik kertas yang berisi nomornya. Ezra mengangguk pelan,lalu ia dikejutkan dengan ponselnya yang berdering nyaring membuatnya tergopoh-gopoh langsung mengangkatnya.


"iya tuan?"


"...."


"baik tuan,saya akan kesana." ucapnya lalu menutup telepon. Ezra memandang sekilas sahabat sekaligus cinta pertamanya, "aku duluan yaa,ada yang harus ku urus." pamitnya dijawab anggukan oleh Adara. Adara yang juga tengah selesai memfotokopi berkasnya segera menaiki tangga keatas.

__ADS_1


Tiba-tiba ia dikejutkan dengan seorang bayi yang mulai jatuh dari lantai atas,membuatnya langsung bergegas berlari menangkapnya dan melempar berkas itu asal.


"Raiiiid!!!!" seru seseorang dari lantai atas.


__ADS_2