I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 14


__ADS_3

Arshal hanya bisa menghela napas pelan,lalu ia melirik kearah Raid yang masih tertidur pulas.


"papa janji tidak akan ada yang mengganti posisi mamamu nak," lirihnya sambil menoel pipi tembam Raid.


"cih,kepalaku tambah sakit." keluhnya langsung beranjak dari tempat duduknya dan bergegas keluar. Mungkin menghirup udara segar bisa menenangkan pikirannya.


"Yu,udah siang nih." seru seseorang membuat Arshal langsung berhenti mendadak. Matanya sedikit membelalak mendengar suara yang baginya tidak asing itu. Persis seperti tadi pagi,suara wanita yang sempat mengganggu pikirannya.


"hei,Adara. Aku belum siap." gerutu Batsyua.


Deg. Arshal langsung berbalik menatap sekretaris dan wanita yang tengah bercengkrama itu. Kedua wanita tadi yang merasa ada yang melihatnya tajam langsung menoleh kearah Arshal.


Batsyua terkejut mendapati sorotan tajam dari Arshal,ia pun langsung bergegas menunduk.


Aduh,mati aku. lirihnya dalam hati. Sedangkan Adara hatinya bergemuruh kencang saat melihat tatapannya bertemu dengan tuannya yang ia sukai diam-diam itu.


Tetapi,Adara sedikit kebingungan,pasalnya tuan Arshal tampak berair mata pria itu sambil memandangnya. Adara tidak mengerti,tetapi ia dapat melihat sosok tuannya kini tengah pilu.


"maaf tuan," ucapnya sambil ikut menunduk seperti Batsyua. Tidak ada kata yang keluar dari mulut tuannya,membuat Adara kembali mendongak kepalanya menatap Arshal.


Deg. Adara dibuat terkejut saat mendapati Arshal kini sudah berada dihadapannya,entah sejak kapan pria itu sudah berjalan kearahnya. Adara dibuat merinding saat tatapan itu menyorotnya tajam.


"siapa kau??" tanyanya dingin menatap Adara lekat,lain dimulut lain dihati. Arshal menatap tidak percaya wanita yang didepannya ini persis seperti istrinya. Ia menggeleng keras tidak ingin mempercayai apa yang ia lihat saat ini. Mungkin kepalanya sedang sakit bisa jadi sekarang ia tengah berhalusinasi karena kadang-kadang ia mengira orang lain itu adalah istrinya. Maka dari sekarang,ia tidak ingin mempercayai apapun lagi yang menyangkut istrinya, perlahan-lahan ia pun mulai mengikhlaskan kepergian Adara.


"ma-maaf tuan,saya Adara. Saya pegawai baru disini." jelas Adara,ia sedikit takut menatap Arshal.


"siapa yang mengizinkanmu kerja disini hah?" tanyanya lagi. Batsyua hanya diam dan tidak bisa membantu Adara saat ini,ia sangat tahu jika bosnya ini tengah mode mood yang sangat buruk. Sekali salah bicara,maka ia akan disemprot banyak kata yang menyakitkan.

__ADS_1


"maaf tuan,saya disini diterima Bu Iva." ucap Adara,ia menelan saliva karena melibatkan Bu Iva. Padahal wanita itu sangat baik kepadanya. Adara menggerutu dalam hatinya.


"panggil Bu Iva,aku ingin minta CV mu sekarang juga!" titahnya langsung melenggang pergi,Adara menghela napas kasar lalu menoleh kearah Batsyua yang tidak kalah syoknya.


"huwaaa Yu,apa yang harus kulakukan??" rengek Adara menatap kearah Batsyua. Sedangkan Batsyua hanya mengedik bahu menatap iba kearahnya Adara.


"kau ikuti saja apa yang dibilang tuan Arshal,jangan sampai membuat dirinya marah kali. Masih untung kau diberi penjelasan. Lah kalau orang lain udah kenak depak dari sini." terang Batsyua membuat Adara sedikit terkejut.


"serius??"


"iyaa,eh kau mending cepat-cepat panggil Bu Iva sama CV mu itu. Atau kau bisa kehilangan pekerjaanmu Adara." seru Batsyua langsung dianggukan kuat oleh Adara. Wanita itu langsung melesat berlari kecil menuju ruangan Bu Iva.


***


Arshal mengusap kasar wajahnya,sambil menunggu seseorang yang berhasil mengalihkan perhatiannya. Wanita yang sangat mirip dengan istrinya itu.


Raid menggeliat saat ada tangan yang tanpa berdosa tengah menganggu dirinya tidur. Perlahan-lahan Raid membuka matanya,dan pertama ia lihat adalah papanya sendiri. Raid tersenyum girang saat melihat wajah papanya.


"ba-baaa!!" serunya. Bukannya membuat Arshal semakin tersenyum lebar,kini wajah pria tampan itu kembali memberengut.


"Papa Raid,bukan Ba-baa. Ya ampun." gerutunya menatap gemas kearah putranya. Ia pun langsung menggedong anaknya itu lalu berjalan kearah kaca besar yang menampakkan pemandangan bangunan -bangunan yang menjulang tinggi.


"suatu saat,saat kamu besar nanti. Kamu yang akan meneruskan perusahaan papa ya nak." ucapnya sambil melirik kearah anaknya. Raid hanya tersenyum girang sambil sesekali memegang pipi papanya.


Tok...tok...tok


Suara ketukan membuat Arshal menoleh kebelakang, dengan segera ia meletakkan Raid kembali kedalam box dan ia pun duduk dikursi kebesarannya.

__ADS_1


"masuk." titahnya tegas. Setelah mendengar suaranya,pintu tersebut terbuka dan menampakkan dua orang yang tengah ia tunggui saat ini. Lebih tepatnya wanita asing yang baru masuk kedalam perusahaannya ini.


"selamat siang tuan Arshal,maaf menganggu waktu anda." ucap Bu Iva dengan sopan,ia pun melirik kearah Adara untuk mensejajarkan posisi dengannya.


"Bu Iva bisa jelaskan padaku,kenapa Ibu menerimanya?" tanya Arshal sambil melirik tajam kearah Adara. Bu Iva menanggapinya sambil tersenyum tipis.


"karena dia sangat membutuhkan pekerjaan," jawab Bu Iva dengan tenang. Arshal mengangguk pelan menerima alasan wanita yang lebih tua darinya itu. Bagaimanapun Bu Iva memang tidak pernah memilih orang sembarangan untuk bekerja di perusahaannya. Bu Iva juga merupakan salah satu kepercayaannya.


"Tuan,saya ingin melaporkan sesuatu." ucap Bu Iva sambil menyerahkan laporannya pada Arshal. Arshal langsung membaca laporan itu dan tertegun mendongak kearah Bu Iva.


"tidak kusangka,sahamnya naik. Kerja bagus Bu." puji Arshal berdecak kagum. Bu Iva menggeleng pelan membuat Arshal menyergit heran.


Sedangkan wanita yang masih berdiam diri,perhatiannya teralihkan kearah pria kecil didalam box bayi. Bayi menggemaskan itu berdiri sambil memegang pinggiran box tidurnya.


Adara tersenyum, "ciluk baah." serunya membuat bayi menggemaskan itu tertawa lepas. Perhatian Arshal yang semulanya membaca laporan itu kini menatap kedua manusia yang tampaknya asyik seperti dunia milik mereka berdua.


"ehem." Deham Arshal membuat Adara tersentak,lalu menunduk pelan. Bu Iva hanya menggeleng-geleng menatap Adara lalu kembali menatap Arshal.


"tuan,ini semua hasil kerja keras Adara.Dia yang menghitung balance semua barang. Saya pun begitu takjub dengan kemampuannya,dan itu membuat saya tidak menyesal telah memilih dia sebagai asisten saya." jelas Bu Iva membuat Adara terharu.


Arshal hanya diam menatap datar tanpa mengomentari apapun,yang jelas saat ini pikirannya tengah bercabang memikirkan sesuatu.


"lalu mana CVnya,aku mau liat." serunya,Adara dnegan sigap langsung menyerahkan CV yang ia punya kepada Arshal. Arshal hanya meletakkan berkas itu diatas meja tanpa membukanya sama sekali.


"ya sudah,kalian boleh pergi." ucapnya menyudahi,kedua wanita itu mengangguk dan pamit undur diri dari ruangannya.


Arshal sebenarnya sedikit terkejut melihat interaksi antara Raid dan wanita yang bernama Adara itu. Raid selama ini ketika dilihat dengan orang lain,ia akan menangis. Tetapi,saat dilihat Adara,bayi itu malah tertawa lepas yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

__ADS_1


"kau sangat menyukainya yaa?" tanya Arshal menatap Raid,yang bolak balik berusaha tegak menyeimbangi tubuh kecilnya. Arshal menggeleng-geleng kepala menatap putranya yang mulai lincah itu,lalu matanya melirik kearah berkas yang tergeletak diatas meja kerjanya. Entah apa yang dipikirkan pria tampan itu.


__ADS_2