I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 13


__ADS_3

Adara menggerutu kesal,disaat ada kesempatan emas bisa bertemu dengan bosnya itu secara dekat, tiba-tiba perutnya mules. Mau tak mau Adara harus segera pergi ke toilet.


"aduuuh,perutku sakit Yu." gumamnya membuat Batsyua sedikit khawatir, "kenapa? kenapa? apa yang sakit?" tanyanya.


Adara hanya tersenyum simpul menatap Batsyua, "panggilan alam." cengir Adara membuat Batysua menghela napas kasar.


"ck,astaga Adara. Kau ini membuatku panik aja. Sini biar aku yang menggendong Raid. Kau pergi aja dulu ke toilet sana." ucapnya sambil mengambil alih menggedong Raid,awalnya Adara enggan memberikan Raid pada Batsyua namun perutnya tidak bisa kompromi membuatnya pasrah memberikannya pada Batsyua.


"ya sudah tolong yaa." lirihnya langsung cepat-cepat berlari kecil ke toilet.


Arshal dengan langkah lebar menuju ruangannya. Memang sebenarnya ia sedikit letih,tetapi pekerjaannya yang menumpuk membuatnya mau tak mau harus mengerjakan semua itu dengan cepat. Kepalanya sedikit pusing,mungkin efek naik pesawat tadi masih belum kunjung reda.


"Ezra kau duluan saja,aku ingin ke toilet sebentar." ucapnya sambil memijit keningnya,Ezra mengangguk mematuhi perintah tuannya dan segera berlalu. Arshal berjalan menuju toilet,namun baru saja ia melangkah masuk ke dalam toilet pria tiba-tiba entah darimana seseorang berlari kencang menabraknya hingga membuat mereka berdua terjatuh.


bruuk


Arshal langsung bangkit begitu marah pada orang yang tidak hati-hati dan membuatnya jatuh.


"damn! siapa kau?!" sarkasnya memegang kepalanya, bukannya reda tetapi semakin parah.


"maaf...maaf tuan,saya lagi darurat. Maaf!!!" serunya tergopoh-gopoh berlari lagi masuk ke toilet wanita yang tepat disebelah toilet pria.


Deg. Arshal mendongak cepat tetapi ia kehilangan jejak wanita tadi. Arshal menggeleng pelan,


"cuma ilusi,nggak mungkin." lirihnya cepat menyadarkan dirinya saat ini. Ia pun langsung bergegas masuk kedalam toilet.


***


"fyuuh lega. Ya ampun tadi siapa yaa yang aku tabrak tadi,aduuh semoga dia baik-baik saja." gumam Adara pelan lalu merapikan rambutnya. Setelah merasa rapi,ia pun melenggang keluar menemui Batsyua.


"Yu,dimana Raid?" tanya Adara celingak-celinguk mencari keberadaan Raid. Batsyua menunjuk kearah ruangan yang pastinya punya bosnya.


"udah didalem." ucapnya sambil mengerjakan pekerjaannya. Adara sedikit kecewa lalu mengangguk pelan, "oo kalau gitu aku balek ke ruanganku yaa." ucapnya pamit lalu dianggukan Batsyua.

__ADS_1


Namun baru beberapa langkah ia berjala,matanya menyipit melihat seseorang yang sangat ia kenal ada disini.


Kenapa Leta ada disini?? tanyanya heran,lalu ia bersembunyi cepat,agar kakak angkatnya itu tidak tau jika dirinya bekerja disini. Karena selama ini Adara selalu bilang jika dirinya masih bekerja di cafe.


"dimana ruangan Arshal? aku ingin menemuinya." ucap Leta sedikit angkuh dengan Tara,si Resepsionis itu.


Tara sedikit kesal melihat wanita didepannya ini tidak ada etika. Tetapi,mau bagaimanapun ia harus tetap sopan. "maaf nyonya,tuan Arshal saat ini tidak bisa anda temui." tolaknya sopan namun didalam hatinya penuh umpatan untuk wanita didepannya ini.


"cih,kasih tau saja dimana ruangannya,apa kau tau kalau aku itu calon istrinya!" sentaknya membuat Tara terkejut mendongak menatap wajah Leta.


Astaga,wanita ini gilaa yaa!! hei mimpi apa kau sampai tuan Arshal bertekut lutut padamu hah?? apa kau tau sudah berapa banyak wanita ditolak mentah-mentah oleh tuan dingin itu?? gila aja nih anak. umpat Tara dalam hati.


"gilaa,Leta apa yang kau katakan?? calon tuan Arshal?? sejak kapan mereka kenalan??" gumam Adara pelan dengan ribuan pertanyaan diotaknya itu. Tetapi,ia tidak ingin membuang-buang waktu untuk menguping pembicaraan Leta. Jika memang benar,mungkin Adara akan mundur perlahan seperti yang ia lakukan saat ini. Percuma melawan Leta,karena wanita itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Adara langsung melesat menuju ruangannya,sedangkan Leta dengan seenaknya memakai lift yang hanya khusus digunakan Arshal.


"sebentar lagi semua ini akan menjadi milikku." gumamnya sambil tersenyum seringai, ia yakin lantai atas adalah tempat pujaannya berada, Ralat sumber kekayaannya.


"aku Leta,tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan." serunya lalu merapikan make up wajahnya.


Leta membiarkan mereka memandang dirinya,bahkan dengan sengaja ia mengeskpos lekuk tubuhnya membuat banyak bersuil kearahnya.


Dasar buaya. umpat Leta lalu sampai didepan pintu ruangan Arshal. Batsyua menyerngit heran menatap wanita yang memakai baju kurang bahan itu.


"maaf nyonya,anda ada perlu apa?" tanya Batysua sopan. Tetapi,dalam hatinya bingung bagaimana bisa seseorang asing masuk dengan mudah naik ke lantai atas.


"aku ingin cari Arshal,dia ada didalam kan?" tanya Leta,namun belum sempat Batsyua menjawab. Wanita itu dengan lancangnya membuka pintu ruangan Arshal.


"nyonya apa yang anda lakukan?!" serunya mengejar wanita yang tidak sopan itu memasuki ruangan Arshal.


Batsyua menelan salivanya saat netra matanya bertemu dengan Bosnya,ia sangat yakin sekali jika bosnya saat ini sangat marah padanya karena membiarkan orang asing masuk.


"siapa yang menyuruhmu masuk?" tanya Arshal dengan tatapan elangnya yang tajam,Batsyua menunduk, "maaf tuan," lirihnya pelan.

__ADS_1


"ya ampun sayang,apa kau tidak kasian melihatnya ketakutan seperti itu? ayolah jangan membuatnya takut. Kau bisa keluar dari sini,tinggalkan kami berdua disini." titahnya pada Batsyua. Batsyua yang heran sekaligus kesal masih enggan menggerakkan kakinya keluar.


Sialan,siapa sih nih orang? tapi tunggu,barusan ia bilang sayang ke tuan Arshal. Apa jangan-jangan dia??. gumam Batsyua lagi.


"hei apa kau tidak dengar?!" sentaknya membuat Batsyua terkejut,ia pun langsung melirik kearah Arshal dan pria dingin itu mengangguk pelan menyuruh Batsyua keluar.


"ba-baik tuan,saya permisi." pamitnya lalu menutup pintu cepat.


"apa kau tidak ada tata Krama?!" tanya Arshal dingin menatap wanita didepannya ini.


Leta terlihat cuek dan tidak peduli,bahkan dirinya berjalan mendekati Arshal dan bergelayut manja melingkari leher Arshal.


Arshal tersentak,dengan cepat menepis tangan Leta darinya, seolah-olah ia jijik dengan perlakuan Leta.


"jaga sikapmu Leta!" sentak Arshal bangkit menjauhi Leta. Leta tersenyum tipis,lalu duduk dikursi kebesaran Arshal.


"ya ampun Arshal,kau ini masa sama calon istrimu sendiri seperti ini. Jangan dong sayang,kita kan sebentar lagi menikah."


Perse*** kau,sejak kapan aku menerimamu menjadi istriku hah?. umpat Arshal kesal dalam hati,tidak mungkin ia ucapkan itu secara langsung karena mengingat Raid tengah tertidur pulas didalam box bayinya.


"sejak kapan kita jadi pasangan?" tanya Arshal dingin. Kepalanya saat ini masih pusing,ditambah wanita yang notabene kakak tiri istrinya membuat kepalanya semakin pusing. Arshal memang dari dulu,tidak menyukai keberadaan Leta sedikitpun. Tetapi,yang lebih mengejutkannya lagi Orang tuanya malah menjodohkan dirinya dengan wanita itu.


Leta tersenyum dan mencondongkan badannya membuat belahan dadanya terekspos. Arshal kesal mengumpat sambil memalingkan wajahnya mengabsen satu kebun binatang.


"apa kau lupa jika orang tuamu menjodohkan kita berdua? oh apa kau ingin rahasiamu ku beberkan pada orangtuamu soal pernikahan rahasiamu? aku sih senang aja jadi istri kedua,ops salah istri seutuhnya. aku lupa jika istri mu itu sudah tiada," kekehnya pelan.


Arshal semakin geram,tidak habis pikir jika kakak tiri istrinya senang jika istrinya sudah meninggal. Layaknya menabur garam diatas luka,wanita itu tidak punya hati. Tetapi,ia tidak bisa bertindak gegabah. Ia dari awal mencurigai jika Leta ada sangkut pautnya dengan kecelakaan yang dialami istrinya itu,namun ia tidak bisa menuduhnya karena belum ada bukti yang kuat.


"keluarlah dulu,aku ingin sendiri." usirnya pelan pada wanita gila itu. Awalnya Leta tidak ingin keluar,namun ia melihat tatapan Arshal yang semakin dingin sambil melempar kartu kreditnya kearah Leta membuat wanita itu dengan senang memungut kartu legendaris itu dilantai,lalu tersenyum centil kearah Arshal.


"terimakasih sayang." ucapnya lalu berlalu keluar dari ruangan Arshal. Arshal menghela napas pelan menumbuk kuat meja kerjanya.


Braak

__ADS_1


"sial." umpatnya menggertak rahangnya.


__ADS_2