
Mata Arshal membulat sempurna mendengar lontara yang dikeluarkan sepupunya itu. "yang benar saja,kau tau,Adara ditemukan di panti asuhan dan bibinya itu yang mengambilnya dulu!"
"iyaa,memang benar. Kalau kau tidak percaya ya sudah." ucap Almero acuh tak acuh. Arshal berdecak pelan menahan bahu sepupunya itu.
"jangan ngomong setengah-setengah,jelaskan semuanya apa maksudmu?"
Almero membuang napas kasar,lalu melirik kearah pintu kamar Adara. "Adara,aku yakin kau dengar percakapan kami."
Deg.
Adara kelimpungan saat ketahuan tertangkap basah,ia pun cepat-cepat berjalan menuju kasurnya. Sedangkan Arshal langsung membuka pintu dan mendapati istrinya sedang berbaring dikasur.
"cih,kenapa kau ngomong seperti itu hah? dia sedang tidur,tidak mungkin dia mendengar kita bicara." sentaknya lagi.
Almero seperti biasa acuh tak acuh,lalu melenggang masuk tanpa izin duduk disofa yang ada di ruangan Adara.
"lebih baik dia tau Arshal, daripada tidak kan? akan lebih enak kalau kita saling terbuka." ucapnya sambil menopang dagunya menatap Arshal yang tengah menatapnya tajam.
"cih,kau sama saja dengan om Muaz." kesalnya. Memang benar,Muaz dan Arshal bagai pinang dibelah dua,tidak suka bercanda dan terlalu kaku. Sedangkan Daiyan,sepupunya itu lebih mirip tantenya.
Arshal mengusap wajahnya kasar,rasanya percuma meladeni sepupunya yang laknat itu terus menerus. Lebih baik ia mengalah saja untuk saat ini.
"Adara kau mendengar ucapannya kan?" tanya Arshal membuat wanita itu berbalik badan kearah mereka,lalu mengangguk pelan.
Arshal dapat melihat istrinya kembali menangis setelah mendengarkan fakta yang begitu mengejutkan. "katakan secara rinci semuanya Al."
"aku tidak suka bercerita Arshal,kau kan paling tau kalau aku ini to do point. Leta dan Adara saudara kandung dan mereka anak nyonya Iva,manajer perusahaanmu."
"hah?!" seru Adara dan Arshal serentak.
"aku tau itu semua dari mata-mataku,kau waktu itu sempat tes DNA istrimu kan?,aku langsung meretas data istrimu dan kakaknya. Itu bukan hal yang sulit aku lakukan,lalu aku cocokkan semua data orang didunia ini dan uniknya data itu cocok dengan seseorang." jelas Almero panjang lebar.
"dan seseorang itu adalah Bu Iva?" tebak Arshal,dianggukan Almero.
__ADS_1
"bagaimana kau bisa mendapatkan data semudah itu?" tanya Adara bingung. Sungguh mendapatkan fakta mengejutkan secara bersamaan membuatnya tidak harus mengungkapkan seperti apa. Terlebih orang yang melahirkannya adalah orang yang membantunya masuk kedalam perusahaan dan mempertemukannya dengan Arshal.
"hei,jangan meremehkan aku. Aku tau segalanya tentang data-data yang ingin kuretas. Tetapi,data yang aku tahu harus dari mereka yang memasukkan data kedalam suatu institusi atau semacam tempat. Barulah aku bisa mengetahui semua data itu dengan mudah."
Adara manggut-manggut mengerti,ia cukup merinding dengan sepupu suaminya itu alias adik iparnya. Sungguh,keluarga Arshal sangat berkuasa.
"cih,dasar sombong peretas. Mending kau pulang saja dari pada kau mengoceh disini." usir Arshal
"dikasih tau fakta sebenarnya malah melunjak nih anak. Nggak ada akhlak benar jadi sepupu." cibirnya langsunh mendapatkan tabokan keras dari Arshal.
"cih sakit woi!" gerutunya meringis mengusap berulang kali lengannya.
Almero terkekeh pelan melihat raut kesal Arshal. Ia pun melirik kearah Adara. "sebaiknya kau segera sembuh dan menemui ibumu Ra. Umurnya tidak lama lagi."
"what??" lagi-lagi Arshal terkejut mendengar fakta baru lagi. Bu Iva sakit? selama ini beliau terlibat baik-baik saja? mengapa saudara sepupunya ini mengatakan jika ibu mertuanya itu sedang sakit parah?
"Bu Iva? sakit?" lirih Adara pelan,disaat dirinya tadi senang mendengar jika ibu kandungnya masih hidup,ternyata ia ditampar kenyataan pahit.
Almero mengangguk pelan,ia jadi merasa bersalah mengatakan kabar buruk itu pada Adara. Lebih baik ia pergi dari ruangan ini. "ya sudah,aku pergi dulu. Dah." pamitnya bergegas keluar.
Arshal langsung merangkul Adara dan menenangkan wanita itu. "sudah...sudah sayang,kau harus segera banyak istirahat. Jangan banyak pikiran oke,kita akan menemui Bu Iva nanti." hibur Arshal mengelus punggung istrinya.
Adara mengangguk pelan, tiba-tiba mendongak kearah Arshal. "Arshal,aku kangen Raid."
Arshal mengangguk, "kita video call yaa sama mereka." seru Arshal mengeluarkan ponselnya lalu memanggil video dengan Ara. Setelah tersambung,Adara langsung tersenyum lebar menatap putranya yang penuh celemotan coklat diwajahnya. Arshal membiarkan wanita itu bercengkerama dengan orang-orang diseberang sana dengan bebas. Ia pun keluar dari ruangan menuju ruangan kerja sahabatnya.
Braaak.
"astagfirullah!" sentak Deon terkejut dengan kedatangan Arshal. Arshal tanpa berdosa duduk dihadapan Deon.
"apa lagi??" tanya Deon jengah menatap sahabatnya.
"cepat kau cari data tentang Bu Iva,manajerku dirumah sakit nih."
__ADS_1
"untuk apa? kenapa kau tidak tanyakan saja pada si tukang retas itu?" seru Deon lagi mengingat saudara sepupu Arshal peretas handal.
"huft,dia udah mengerjakan bagiannya,sekarang giliran kau Deon,aku ingin tau data Bu Iva dirumah sakit ini."
"data apa? memangnya apa kaitannya denganmu? aku tidak bisa membuka rekam medis pasien tanpa persetujuan dari pasien."
"dia ibu mertuaku,ibu kandungnya Adara."
"what? serius?" Arshal mengangguk. "cepat kau cari datanya yaa,kalaupun nggak ada dirumah sakit nih,kau harus cari keliling rumah sakit tentang ibunya. Kata Almo tadi ibu Adara sakit parah. Kita harus bertindak cepat,jika memang iya." jelasnya lagi.
Deon mengangguk, "ck,kau ini asyik memerintah saja." cibirnya membuat Arshal menatap horor kearahnya. Seketika Deon menciut menyengir pelan.
"hehehe canda Shal,iya...iya nanti aku cari datanya. Kalau perlu sampai seluruh dunia pun aku cari."
"baguslah,aku tunggu infonya dari kau Deon. Terimakasih." seru Arshal melenggang keluar dari ruangan kerja Deon. Sedangkan pria itu menatap nanar punggung sahabatnya yang sudah hilang dari pandangannya dan membenturkan kepalanya pada meja.
"sial,kenapa aku bilang mencari seluruh dunia sih?? kalau gini kan,mana bisa aku calling dengan kekasihku." ucapnya frustasi. Deon merutuki kebodohannya sejenak,tetapi matanya menatap layar komputernya dengan pikiran bercabang.
"ish dia saja tidak bilang nama lengkap ibu mertuanya itu,kalau gini mah aku juga yang susah. Haduh,kenapa bisa dia menjadi sahabatku hah?" sesal Deon smabil mengacak-acak rambutnya.
***
"kau sudah selesai Ra?" tanya Arshal yang baru saja masuk. Adara mengangguk pelan,lalu matanya melirik kantong yang ada ditangan suaminya itu. "kau habis dari mana?" tanya Adara penasaran.
Arshal meletakkan kantung itu diatas pangkuan Adara. "aku membeli eskrim,coklat sama permen untukmu Ra."
Adara tertawa pelan, "aku kan bukan anak kecil lagi Shal,apalagi aku sudah memiliki anak."
"nggak ada ngaruh ke makanan Ra,mau udah punya anak atau belum kan nggak ada masalahnya makan beginian." celoteh Arshal membuka salah satu bungkus eskrim lalu diberikan pada Adara.
Adara tersenyum senang langsung menyambut uluran eskrim itu dari tangan suaminya. "makasih sayang." serunya bahagia menikmati eskrim ditangannya.
Imut sekali dia. gumamnya terus menatap wajah istrinya. Ia lega kini istrinya terlihat senang untuk saat ini. Istrinya tidak boleh stres memikirkan apa yang terjadi pada ibunya begitu juga dengan Leta. Ia berharap semua kejadian yang menimpa keluarganya akan menemukan solusi jalan keluar yang terbaik.
__ADS_1
Kau wanita yang hebat,aku bangga memilikimu sayang.