
Kecelakaan itu terjadi begitu cepat,bahkan mobil yang dikenakan oleh mereka sudah menjungkirbalik. Adara yang waktu itu terlempar keluar dan berguling-guling jatuh kearah rawa yang ada didekat sana. Kepala Adara membentur keras mengenai batu. Adara meringis menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya,dapat ia mendengar samar-samar suara ledakan besar,pandangannya mulai kabur dan tak lama kesadarannya pun menghilang.
Deg.
Adara tersentak bangun membuka matanya lebar. Ia memegang kepalanya yang sudah terbalut dengan perban. Adara menyerngit menatap sekeliling ruangan yang hampir mirip dengan waktu pertama kali ia bangun dari rumah sakit. Lalu matanya tidak sengaja menatap seorang pria yang tengah menggenggam tangannya sambil tertidur dengan posisi duduk.
Air mata Adara menggenang di pelupuk matanya memandang pria yang tak lain adalah suaminya Arshal.
"aku mengingatnya." lirihnya membalas genggaman tangan pria itu sehingga membuat siempunya tangan terusik dan membuka matanya.
"Adara?! kau sudah sadar??" Arshal langsung memencet tombol untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian,perawat datang bersama dokter masuk kedalam ruangan Adara.
"syukurlah kau baik-baik saja." ucap Deon itu setelah memeriksa keadaan Adara.
"aku ingat dok." ucap Adara tiba-tiba membuat semuanya menoleh kearahnya.
"kau mengingat apa Ra?"
"aku ingat dimana saat saya kecelakaan dulu." ucap Adara serius membuat Arshal tertegun.
Arshal langsung menghampiri istrinya dan menangkup wajah Adara. "kau serius?"
Adara mengangguk, "kecelakaan itu terjadi begitu tiba-tiba,aku tidak tau kalau kecelakaan itu disengaja atau tidak. Tetapi aku mendengar suara ledakan."
"iyaa itu ledakan mobil kau waktu itu. Dan korbannya Raily,asisten pribadimu. Kau sudah mengingat semuanya?" tanya Deon pelan.
"aku su—akkh." kepalanya kembali terasa pusing. Arshal langsung menghampiri Adara dan emmbaringkan wanita itu. "kau tidak perlu memaksa mengingat semuanya Ra,lebih baik kau istirahat dulu." ucap Arshal langsung dianggukan Adara.
Deon langsung menarik tangan Arshal untuk keluar dari ruangan. "apa?"
"kau habis bergulat dimana woi? kok sampai babak belur gini wajah kau?" tanya Deon heran mendapati sahabatnya acak-acakan.
"orang itu menculik istriku,dan pelaku dibalik kecelakaan Adara waktu itu."
"apa kau sudah menangkapnya?" tanya Deon lagi.
Arshal mengangguk pelan,lalu mengetik sesuatu diponselnya. "huft,nggak ada yang benar orang di sekitarku."
Deon menyerngit, "apa maksudmu?" tanyanya heran.
"sekretarisku menusukku dibelakang." ucapnya pelan.
"wow sudah kuduga sih."
Arshal menatap kearah Deon, "kau emangnya kenapa?"
__ADS_1
"nggak kenapa-kenapa,aku memang dari dulu agak aneh aja liat tingkah sekretaris kau itu. Apalagi waktu itu aku tidak sengaja melihat dia bersama dengan wanita."
"wanita?"
"iyaa,waktu itu aku lihat mereka direstoran,mereka berdua kayak berbincang-bincang gitu."
Arshal mengeluarkan ponselnya dari saku celananya,lalu menunjukkannya foto seseorang pada Deon. "apa dia wanitanya?" tanya Arshal. Deon terkejut lalu mengangguk cepat.
"haah iyaa nih orangnya,eh tunggu...kenapa kau bisa ada fotonya?" tanya Deon menatap Arshal curiga.
Arshal menatap horor kearahnya, "ish,jangan menatapku seperti orang brengsek itu. Dia itu Leta,kakak tiri Adara."
"kakak tiri? sejak kapan Adara punya kakak tiri?"
"ah itu bukan urusanmu,sudahlah. Aku harus kembali ke ruang Adara."
"ish anak itu menyebalkan sekali." cibir Deon melenggang meninggalkan pasutri itu didalam.
***
Adara menatap kearah jendela,ia mulai mengingat masa lalunya sebelum kecelakaan itu terjadi. Hatinya merasa kacau dan gusar. Jemarinya terus mengetuk selimut yang tengah digunakannya.
"kau sedang memikirkan apa? bukannya harus istirahat?" tanya Arshal berjalan mendekati istrinya. Adara menoleh kearah Arshal sambil menunjukkan senyum tipis diwajahnya.
"mereka baik-baik saja,mereka sekarang bersama Raid." jawab Arshal sambil menuangkan air kedalam gelasnya.
"syukurlah." ucap Adara lega. Setidaknya orang yang ia sayangi kini sudah aman dari jeratan pria tadi.
"Adara." panggil Arshal sambil memegang tangan Adara pelan lalu mengelus tangan halus itu. Arshal menatap sendu kearah Adara.
"katakan padaku,apa kau sudah ingat apapun tentang kita?" tanyanya pelan. Adara tertegun dan mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Arshal.
"aku sudah ingat Shal,kau suamiku." ucap Adara lemah lembut membuat Arshal langsung memeluknya erat. "akhirnya kau kembali sayang." serunya tak lupa mengecup semua bagian wajah Adara dengan bahagia.
"aku minta maaf." lirih Adara tiba-tiba membuat Arshal menguraikan pelukannya dan menatap dalam mata istrinya itu. "kenapa kau minta maaf?"
"karena aku terlalu egois."
"itu bukan salahmu sayang,semua ini salahku. Aku tidak tegas pada diriku sendiri untuk memperkenalkanku pada kedua orangtuaku. Aku yang minta maaf." sesal Arshal. Ia ingat,mengapa dirinya waktu itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan Adara dengan perasaan marah.
Hanya karena ia belum juga kunjung memperkenalkan Adara pada keluarganya membuat rumah tangga mereka yang baru seumur jagung diambang retak. Dan karena itu pula,kecelakaan itu terjadi menimpa Adara.
"tidak,aku yang salah Arshal. Aku terlalu mendesakmu waktu itu. Andai saja aku lebih sabar dan tidak termakan omongan tetangga,pasti semua ini tidak akan terjadi pada keluarga kita."
"sudahlah,lupakan saja apa yang sudah berlalu. Yang penting kita semua akhirnya berkumpul kembali. Kau tau sejak kejadian itu,aku merasa hampa dan rasanya ingin mengakhiri hidupku sendiri. Tapi,aku teringat kita punya Raid,dia masih membutuhkan kasih sayang."
__ADS_1
Air mata Adara menetes,"kalaupun memang benar aku waktu itu tiada,kau jangan sesekali melakukan hal nekat itu Arshal." lirihnya menenggelamkan kepalanya pada dada bidang suaminya itu.
Arshal mengelus kepala istrinya lembut,ia pun menyeka kasar air matanya yang hampir saja keluar tanpa seizinnya. Sekali lagi,ia bersyukur diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga kecilnya.
Arshal menangkup wajah Adara,dilihatnya lekat wajah yang membuat dirinya terus bergantung pada wanita itu. Senyuman yang terus teriang dikepalanya. Wanita yang dulu ia anggap pembawa sial karena membuatnya terjebak dalam pernikahan mendadak, kini ia malah bersyukur dengan takdir itu.
"aku mencintaimu sayang."
"aku mencintaimu juga Arshal." Arshal langsung memangut bibir Adara dalam.
"cih,pria dingin ini nggak tau tempat!" seru seseorang membuat kedua pasangan itu terlonjak kaget dan menjauh. Arshal menatap tajam pada pria yang tengah berdiri bersandar diambang pintu dengan menatapnya sinis.
"aku kesini mau liat kakak ipar,eh ternyata kalian sedang berciuman." ucapnya santai lalu berjalan mendekati Adara.
"dia cantik." pujinya membuat Adara tersipu malu,sedangkan Arshal langsung menghalangi Adara agar pria didepannya ini tidak bisa melihat wajah istrinya.
"ish,dasar posesif,aku hanya ingin melihatnya saja." seru Almero tersenyum sinis.
"hei anak koma,mending kau pulang saja lalu istirahat sana. Daripada kau lumpuh lagi disini."
Almero terkekeh pelan, "cih,aku ini kuat Shal,apa kau tau aku saja masih bisa sehat jasmani rohani sampai sekarang,padahal aku udah disuntik dengan cairan mematikan oleh nenek sihir." celoteh pria itu
"nenek sihir?"
"iyaa siapa lagi kalau bukan Le—" Arshal langsung menutup mulut pria itu dengan tangannya. Bahkan dengan segera ia menarik kasar pria itu keluar dari ruangan inap Adara.
Almero terus memberontak ingin dilepaskan,ia pun menatap tajam kearah sepupu laknatnya itu. "ish,aku ini baru keluar dari rumah sakit Arshal,kau ini tega sekali." gerutunya mengibas bajunya yang kusut akibat ulah sepupunya itu.
"jangan beritahu Adara soal itu." ucap Arshal to do point.
"kenapa? kenapa tidak boleh kasih tau dia?" tanya Almero menyerngit.
"karna aku tidak ingin dia merasa bersalah. Adara walaupun kakak tirinya itu membencinya tetapi wanita itu sangat menyayangi kakaknya." ucap Arshal pelan. Ia tahu jika istrinya itu hatinya begitu mulia,tidak ada terasa dendam sedikitpun pada kakak tirinya yang hampir membuatnya celaka.
Almero tertawa renyah, "kakak tiri?" serunya tersenyum miring,membuat Arshal menatapnya heran.
"iyaa,kenapa? kau tidak percaya?"
Almero mengangguk, "iyaa aku tidak percaya Leta kakak tirinya Adara. Apa kau tau fakta yang mengejutkan dari itu semua?" serunya membuat pria yang sudah beranak satu itu semakin penasaran.
"Leta dan Adara adalah saudara kandung."
Deg.
"Apa??"
__ADS_1