I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 8


__ADS_3

Leta tampak tidak senang dengan eskpresi yang ditunjukkan Adara padanya, seolah-olah Adara meremehkan dirinya.


"kenapa kau menatapku seperti itu hah?!" sarkasnya menarik tangan Adara,ia pun menyeret Adara ke dapur tanpa memperdulikan rintihan wanita itu.


Leta langsung mencelupkan wajah Adara kedalam bak mandi.


Bluup...Bluup. Adara terus memberontak mencari napasnya.


Uhuk...uhuk...uhuk


"Rasain!!" seru Leta lalu kembali mencelupkan wajah Adara kedalam bak mandi tanpa rasa kasihan. Entah terbuat dari apa hati wanita itu sampai tega melakukan itu pada Adara.


Adara terus memberontak dan berhasil menepis tangan Leta dari kepalanya. Leta pun semakin gencar terus mencelupkan kepala Adara. Beruntung ada seseorang yang memencet bel rumah,sehingga Leta menjauh dari Adara dan melirik kearah pintu utama.


"sial,siapa itu?" gerutunya sambil mengibas tangannya,sebelum pergi ia menatap tajam kearah Adara. "jangan menunjukkan wajah menyedihkanmu itu,pergi ke kamar sana!!" titahnya sambil mendorong Adara. Adara mengepal tangannya menahan emosi yang daritadi sudah memuncak,tetapi dirinya menahan semua itu karena mengingat Leta adalah anak kandung bibi Elnara. Ia tidak ingin Bibi Elnara mengetahui kejahatan anaknya atau bibinya itu akan sedih.


Adara dengan tergesa-gesa berlari ke kamar,menutup pintu dengan keras dan bersandar dipintu itu.


"hiks...sial...kenapa aku selemah ini??" lirih Adara meratapi nasibnya. Rasanya ingin keluar dari sini segera,namun mengingat sosok Bibi Elnara membuat dirinya bertahan.


"fyuuh Adara,kau itu kuat bukan lemah. Buktikan jika kau itu lebih hebat dari Leta. Kau harus semangat Adara!" ucap Adara sambil menyeka air matanya,kini wanita itu mulai bangkit dari keterpurukannya. Tetapi,ia kembali mengingat sosok pria tampan yang membuat hatinya tidak karuan,padahal dirinya baru pertama kali bertemu dengan pria itu.


"siapa dia?" lirihnya pelan,tanpa sadar senyum manis terbit diwajah cantiknya. Ia pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sementara pria yang berhasil membuat Adara tidak karuan,kini ia tengah dilanda kebingungan. Hazel,sang mama meminta dirinya pulang segera karena ada masalah mendadak. Yang membuat Arshal pusing adalah,anaknya akan bersama siapa?siapa yang akan menjaga anaknya?


Arshal bagai setrika yang mondar-mandir memikirkan cara untuk menyelesaikan masalahnya. Seharusnya ini masalah mudah baginya,ia bisa tinggal langsung memberitahu kepada orang tuanya jika dirinya telah memiliki anak. Tetapi,tidak semudah ekspetasinya. Orang tuanya pasti akan marah dan syok mendengar berita ini.


"oi,kau ini kenapa gelisah gitu hah?" tanya Daiyan bosan melirik saudara kembarnya mondar-mandir tidak karuan. Arshal berdecak kesal tanpa menghiraukan pertanyaan Daiyan.

__ADS_1


"kalau masalahmu cuma Raid,kenapa kau tidak memberitahu mama sih?" tanya Daiyan heran. Ada masalah bukannya keluar dengan solusi malah berbelit-belit. Ia heran melihat saudara kembarnya yang sukses itu yang hanya hebat dalam mengatasi perusahaannya tetapi tidak dirinya.


"fyuuh,mau sampai kapan kau merahasikan ini semua Shal? kau itu sudah gila,menikah diam-diam,punya anak,tapi orang tua kita tidak tau. Kau itu memang terlalu nekat Arshal." ucap Daiyan tak habis pikir dengan dengan jalan pikiran Arshal.


"tidak semudah itu memberitahu mereka Daiyan,aku sangat pusing memikirkan masalah ini."


"justru itu lah,tinggal kasih tau mama masalah ini,nggak usah berbelit Arshal. Aku yakin mama sama papa mengerti alasanmu melakukan hal itu."


"Cih,bukan itu juga yang aku takutkan untuk memberitahu mereka Daiyan."


"lalu apa?" tanya Daiyan mulai jengah.


Arshal hanya diam bungkam tidak ingin memberitahukan alasannya kepada Daiyan. Ia harus menyelesaikan masalah tentang kasus kecelakaan istrinya dulu.


"kenapa diam? kau tidak ingin memberitahuku?" tanya Daiyan tepat sasaran.


"akan aku kasih tau diwaktu yang tepat Yan," ucap Arshal pelan lalu ia kembali menoleh kearah saudara kembarnya lagi,timbul senyum seringai diwajahnya.


Gleek.


sial,pasti dia jadikan aku targetnya. umpat Daiyan dalam hati.


"persis seperti kau pikirkan Daiyan,aku memang menargetkanmu." ucap Arshal sambil duduk diatas meja kerjanya. Ia seolah tau apa yang dipikirkan oleh Daiyan saat ini.


"aku butuh bantuanmu untuk jaga Raid,selama aku pulang." sambungnya lagi.


"apa?? jaga bayi? Raid? yang benar saja Arshal. Selama ini aku tidak pernah menggendong bayi,dan kau sekarang menyuruhku untuk menjaganya??" protes Daiyan.


"cih, sepuluh menit dua belas detik yang lalu kau menggendong Raid Daiyan,itu artinya kau sudah pernah bukan?" ujar Arshal tepat sasaran membuat Daiyan tidak bisa berkutik lagi.

__ADS_1


"sial,kenapa harus aku??" Daiyan mencari cara agar dirinya tidak jadi menjaga keponakan mendadaknya itu. Ia saja sudah kesusahan mengurus dirinya sendiri apalagi menjaga keponakannya yang masih menggemaskan itu.


"karena kau orang yang aku percayai saat ini Yan,aku masih belum percaya dengan siapapun seratus persen kecuali kau dan orang tua kita. Untuk itu aku memintamu menjaga Raid selama seminggu. Aku akan segera pulang setelah masalah disana selesai Yan,kalau soal keuntungan aku sudah siapkan untukmu." jelas Arshal membuat Daiyan tertarik dengan keuntungan yang disebutkan Arshal.


Jarang sekali saudara kembarnya itu akan memberikan sesuatu padanya,yang jelas pasti barang yang berharga milik saudaranya itu.


"apa keuntungan ku?" tanya Daiyan penasaran.


Apa saham? mobil? rumah? aduh semoga diantara tiga itu. gumam Daiyan dalam hati.


"nanti akan aku kasih tau setelah pulang." ucapnya sambil tersenyum puas melihat ekspresi datar yang ditunjukkan Daiyan.


"asalkan jangan yang aneh-aneh Arshal. Aku tagih janjimu." ucap Daiyan memberi peringatan kepada Arshal. Arshal hanya mengedik bahu tidak peduli dengan apa yang diucapkan Daiyan.


Esoknya Arshal bersiap-siap menaiki pesawat untuk pulang kerumah tempat orang tuanya berada. Awalnya Arshal sedikit resah saat melihat wajah imut Raid yang menatapnya lekat, seolah-olah tidak ingin dirinya menjauh dari Raid.


"nak,kamu harus tinggal dulu yaa. Kamu sama paman Daiyan,jangan nakal." ucap Arshal sambil menoel pipi Raid. Raid dengan girang tersenyum pada Papanya.


Deg. Senyum Raid persis dengan senyuman istrinya membuat raut senang Arshal tiba-tiba menjadi sendu.


"ba-baaa!!" ucap sikecil membuat Arshal tersadar dari lamunannya,ia pun langsung memasang senyum palsunya dihadapan anaknya.


"papa pergi dulu yaa,jangan nakal oke." ucapnya sambil mencium kening Raid. Lalu dengan langkah mantap ia berjalan menuju tempat check-in pesawat. Ia tidak ingin menoleh kebelakang melihat anaknya,atau ia tidak bisa menahan rasa khawatirnya.


Semua itu tidak luput dari pandangan Daiyan menatap punggung saudara kembarnya yang kian mulai menjauh,ia hanya diam sambil menggendong Raid sang keponakan mendadaknya.


"ayoo keponakan mendadak ku,kita pulang." ajaknya langsung berbalik membawa keponakannya. Sekilas ia melirik lagi ke belakang menatap saudara kembarnya itu.


"kau tampak menyedihkan kak." lirihnya pelan menatap sendu. Ia memang tidak tahu menahu soal hubungan Arshal dan kakak iparnya itu. Yang jelas dirinya kini paham artinya kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Dapat ia lihat Arshal sangat mencintai istrinya itu.

__ADS_1


Apa aku akan sepertimu juga Shal? gumamnya lagi. Daiyan memang tidak terlalu mempercayai cinta,cinta hanya membuat seseorang terlena. Daiyan memang dikeliling wanita cantik,tapi tidak satupun yang menarik perhatiannya.


__ADS_2