I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 31


__ADS_3

"apa maumu?" tanya Leta saat mereka masih dalam perjalanan yang leta sendiri tidak tau kemana. Pria itu melirik sekilas kearah Leta,ia pun berdecak kesal sambil melemparkan jaketnya kearah Leta.


"tutup tubuhmu itu!!" sentaknya membuat Leta langsung tersenyum simpul memandang pria itu. Dengan tatapan menggoda,ia memegang rahang pria itu.


"jangan sentuh aku!" sarkasnya langsung menepis tangan Leta. Leta berdecak kesal dengan pria dingin ini. ia pun meletakkan jaket itu kebelakang dan membiarkan baju tipisnya terlihat oleh pria itu.


"damn! dimana letak malumu hah Aleta?!" bentaknya langsung mengerem mendadak membuat Leta tersungkur menabrak dasbor.


"aduh sakit woii,bisa bawa mobil nggak?!" sarkasnya menatap pria itu.


Ah,masih mending Arshal rasanya. gerutunya dalam hati.


"jangan mendekati sepupuku!" serunya seolah-olah mendengar pikiran Leta.


Leta membulat matanya sempurna,dengan cepat menoleh kearah pria itu.


"kau? siapa sepupumu hah?" tanya Leta penasaran.


"Arshal." jawabnya singkat lagi-lagi membuat zleta terkejut.


"what? eh tunggu bagaimana kau tau aku??"


"bisa diam? aku tidak ingin mendengar suara cempreng mu itu. Dan kau itu astaga tutuplah badanmu dengan jaket. Apa kau sudah gila yaa umbar auratmu sini hah??" kesalnya dengan wanita disebelahnya itu yang masih enggan menutup badannya. Pria itu terus mengumpat dalam hati karena tidak sengaja terlihat lekuk badan Leta.


"katakan dulu kau itu siapa,baru aku akan menutup badanku yang seksi ini." serunya tersenyum nakal, Pria itu menghendus kesal dan menatap tajam kearahnya.


"Almer." jawabnya singkat tanpa menoleh kearah Leta. Leta sedikit tertarik dengan pria itu apalagi ia baru menyadari pria itu sangat tampan. Cocok menjadi mangsa selanjutnya,tetapi khusus untuk Arshal ia tetap memegang kendali. Sebab ia tidak suka jika Adara bahagia. Ia sangat membenci hal itu.


"aku ini bukan target yang cocok untukmu." ucapnya dingin lagi-lagi ia seolah membaca pikiran Leta. Leta mengerjap matanya tidak percaya,pria ini sangat misterius baginya.

__ADS_1


***


Adara bolak-balik didepan pintu kamar Arshal,ia terlihat gugup dan takut untuk menggedor pintu Arshal.


Huft,apa besok saja bicaranya??. gumamnya pelan berperang dengan pikirannya sendiri. Tidak ingin berdiri tidak jelas,ia pun memutuskan untuk berbicara besok dengan tuannya. Mungkin dipagi hari,suasana lebih baik dan enak diajak berbicara.


Adara pun berjalan menuju kamarnya.


Esoknya,Adara dengan cepat bersiap-siap dan bergegas menemui Arshal. Namun sayang,Arshal tampaknya sudah pergi ke kantornya. Seketika Adara kecewa,namun ia harus menghela napas lagi.


"nyonya." panggil Bi Yana menghampiri nyonyanya. Adara menoleh kearah Bi Yana, "ada apa Bi?" tanyanya sopan menatap wanita paruh baya itu.


"nyonya marii sarapan dulu." serunya langsung dianggukan oleh Adara. "baiklah." jawabnya langsung melangkahkan kakinya menuju meja makan.


"oh ya apa Raid sudah pergi bersama tuan?" tanya Adara lagi,Bi Yana mengangguk pelan.


"hmm akan ku coba." jawab Adara sambil menikmati sarapan paginya, "ini sangat enak terimakasih bi." ucapnya tulus membuat senyuman tipis ditunjukkan oleh Bi Yana.


"sama sama nyonya,saya senang nyonya menyukainya juga." ucapnya lalu berlalu menuju ke dapur untuk kegiatan yang lain. Adara yang tengah menikmati sarapannya, tiba-tiba teringat dengan bibinya yang setiap hari selalu membuatkan sarapan untuknya.


"apa bibi baik-baik saja? huft,maaf bibi Adara pergi tanpa memberitahumu. Kalau waktunya sudah tepat Adara akan kembali berkunjung kesana." gumamnya lagi.


Setelah selesai sarapan,ia pun langsung membereskan bekas makannya dan meletakkannya di wastafel,baru saja hendak mencuci piringnya tiba-tiba Bi Yana mengejarnya.


"ya ampun nyonya,biar saya saja." ucapnya tak enak hati membiarkan nyonyanya mencuci piring sendiri.


"tapi—"


"tidak ada tapi-tapi nya,biarkan saya saja. Nyonya siap-siap aja berangkat." ucapnya lagi.

__ADS_1


"baiklah, terimakasih bi." ucap Adara pasrah,mau berdebat pun tidak akan gunanya juga. Adara menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya. Namun,saat hendak mau masuk kedalam kamarnya,ia sempat melirik kearah kamar Arshal. Adara sempat terbesit dipikirannya,untuk mencari dokumen tentang pernikahan yang dibilang tuannya itu. Ia ingin melihat bukti sebenarnya.


"Adara, hentikan pikiran gilamu itu. Tidak baik asal masuk kamar saja tanpa izin." gumamnya lagi. Namun rasa penasarannya lebih dominan dibandingkan akal sehatnya, ia pun tanpa sadar langsung berjalan menuju kamar Arshal.


Dengan perlahan ia membuka kamar itu dan masuk sambil celingak-celinguk,memastikan tidak ada seseorang yang memergokinya masuk kedalam kamar Arshal. Ia pun menutup pintu dengan hati-hati.


"Fyuuh kau sudah tidak waras Adara." gerutunya pelan,lalu ia melirik kearah lemari. Dengan langkah yang ragu ia membuka lemari guna mencari dokumen yang ada sangkut paut dengan pernikahannya. Adara terus mencari disegala sudut mencari berkas yang bisa membuat dirinya lega.


Adara terkesiap saat menemukan sebuah album didalamnya,ia pun perlahan mengambil album itu dan duduk dibibir kasur. Ia begitu tertegun melihat foto-foto yang tersimpan cantik dalam album itu. Seketika air matanya menetes tanpa seizinnya. Foto-foto semasa dirinya saat kuliah dulu sampai menikah,dan raut wajahnya begitu terkekeh saat melihat satu foto yang terlihat konyol.


Adara dapat melihat wajah Arshal begitu dingin saat foto pernikahannya,apalagi dirinya juga sama dinginnya. Lalu ia membuka lembaran selanjutnya,dan foto itu saat mereka mulai menyadari perasaan mereka masing-masing setelah itu mereka selalu kencan bersama. Mata Adara membesar saat melihat foto Arshal mencium bibirnya,tidak terbayang olehnya bagaimana perasaannya waktu itu,ia sama sekali tidak ingat.


Adara membuka lembaran selanjutnya,dimana dirinya begitu bahagia dengan kehamilan pertamanya begitu juga dengan Arshal.


Aku sebahagia ini bersamanya? gumam Adara memegang album itu erat. Kenangan yang terlihat indah didalam album itu sama sekali tidak ingat dikepalanya.


Adara begitu kesal tidak mengingat apapun,kecuali keluarganya dulu. Adara terlalu memaksa untuk berpikir membuat dirinya mengerang kesakitan. Kepalanya terasa berputar-putar,dirinya tidak seimbang membuat Adara langsung tidak sadarkan diri.


Deg.


Arshal yang sedari tadi melihat cctv dikamarnya dari ruangan kerjanya begitu terkejut melihat istrinya tergeletak tidak sadarkan diri. Memang daritadi ia memperhatikan aktivitas yang dilakukan istrinya selama dirumah,Ia sudah menduga Adara akan mencari sesuatu untuk membuktikan semua ini. Dan dugaannya benar,namun ia melihat Adara malah tidak sadarkan diri. Arshal langsung menghubungi Bi Yana untuk segera menemui Adara. Sedangkan dirinya, langsung bergegas keluar dari ruangan.


"tuan,anda kemana?" tanya Ezra bingung menatap tuannya berjalan terburu-buru. Arshal melirik sekilas kearah Ezra.


"Ezra, tolong jaga Raid sebentar,aku ada urusan!" serunya langsung masuk kedalam lift,tanpa menunggu jawaban dari Ezra.


"ya ampun tuan,anda kebiasaan sekali terburu-buru." gerutunya lalu menghampiri tuan mudanya didalam ruangan Arshal.


Adara kemana yaa?? apa dia tetap kerja disini kan? entah kenapa aku mencemaskan dirinya. gumam Ezra resah memikirkan Adara,apalagi mengingat wanita itu membawa koper dan dirinya tidak tau kemana wanita itu pergi.

__ADS_1


__ADS_2