I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 30


__ADS_3

Adara tertegun dan menggulung ujung bajunya,sedangkan tangannya sebelah lagi menggedong Raid yang tengah menangis akibat ulah Arshal. Adara menghela napas sambil menenangkan Raid.


"hm,saya permisi ingin menenangkan Raid dulu." sahutnya pelan langsung berjalan keluar tanpa menunggu jawaban dari Arshal. Arshal hanya diam menatap punggung wanita itu yang kian menjauh dari pandangannya.


"cih,kau ini merusak suasana saja. Makanan ini jadi terasa hambar dimakan kalau situasinya kayak gini Arshal. Dengar baik-baik,jangan jadi pengecut kau sebagai laki-laki."ketus Daiyan meninggalkan tempat meja makan tanpa menyentuh makanannya sedikitpun. Jelas,pria itu sangat kelaparan,namun apa ada suasana terasa canggung dan makanpun terasa hambar.


Arshal hanya diam,lalu ia melirik kearah makanan yang sudah disiapkan Adara tadi. Ia menghela napas lalu berjalan menuju kearah meja makan tadi. Ia akan membiarkan Adara tenang terlebih dahulu,baru nanti ia akan berbicara dan meminta maaf pada istrinya itu.


"fyuuh." helanya kasar sambil mengambil beberapa nasi dalam sendok nasi kedalam piringnya. Ia pun tertegun lagi saat melihat makanan kesukaannya ada di depan matanya. Ia sungguh tidak percaya jika Adara setidaknya mengingat makanan kesukaannya.


"sial,aku jadi merasa bersalah." sesalnya tetapi ia harus menghabiskan cepat makanannya dan segera pergi ke tempat Adara.


Sementara Adara hanya diam menatap kosong memangku Raid dalam ayunan diluar. Perasaan campur aduk tidak menentu,ia tidak tau harus bagaimana lagi mengeskpresikan perasaannya sekarang.


"Adara." panggil seseorang pelan tepat dibelakang Adara,Adara dengan cepat menyeka air matanya dan menoleh ke belakang.


"oh Dai...Yan,ada apa?" tanya pelan menatap pria itu.


Daiyan menghela napas, "boleh aku duduk disini?" tanyanya menunjuk ayunan yang tengah diduduki Adara. Adara pun mengangguk dan mempersilahkan Daiyan duduk dihadapannya.


"maafkan dia,dia agak sedikit gila." ucapnya membuat alis Adara terangkat satu.


"siapa?" tanya Adara bingung.


"huft,siapa lagi kalau bukan suamimu itu."


"aha,saya saja masih belum pantas jadi suami dia." elak Adara lagi.


"kau tidak perlu formal bicara denganku,sesantai mu saja. Anggap aku ini temanmu,dan kita juga keluarga bukan?" seru Daiyan membuat Adara senyum tipis.


Daiyan terpana melihat senyuman Adara,namun ia langsung tertampar dengan kenyataan. Ia tidak boleh terpesona dengan kakak iparnya sendiri.

__ADS_1


"dia itu suamimu,aku yakin itu." ucap Daiyan menyakinkan Adara. Adara menghela napas pelan, "tapi saya masih belum ingat apa yang terjadi sebenarnya? lalu kenapa keluargaku tidak ada mengatakan apapun tentang suami atau anakku jika iya aku sudah menikah?" tanya Adara beruntun.


"wow,banyak sekali pertanyaanmu. Sebenarnya,aku juga tidak terlalu tau tentang masalah kalian. Kau saja yang bertanya dengan Arshal. Dia tau itu."


Adara menghela napas lagi, "kenapa jadi rumit begini?"


"entahlah aku tidak tau,tapi sebaiknya kalian bicarakan ini baik-baik. Aku yakin kalian ada alasan masing-masing,jangan sampai Raid kena tumbal keretakan rumah tangga kalian." pinta Daiyan langsung berdiri.


"ini sudah malam,angin malam bisa membuatmu sakit Ra,sebaiknya kau masuk dulu." seru Daiyan langsung masuk kedalam rumah. Adara hanya diam memandang punggung pria yang tak lain adalah adik iparnya.


"kenapa aku tidak ingat sama sekali? aku harap kalian tidak berbohong masalah ini? apa aku tanya dulu dengan bibi? aku yakin dia tau." gumamnya berkutat dengan pikirannya sendiri.


***


Plaak.


"apa kau bodoh mengusirnya tadi?!" sarkas bibi Elnara menampar anaknya. Ia begitu geram dengan tindakan Leta yang begitu ceroboh menyuruh Adara pergi dari rumah ini. Ia sudah susah payah merawat Adara agar kedepannya bisa ia manfaatkan untuk mendapatkan pundi-pundi hartanya.


"kenapa ibu menamparku?! aku melakukan hal yang benar kok!" bentak Leta pada ibunya. Ia menatap nyalang kearah ibunya. Tidak peduli raut marah yang ditunjukkan ibunya,Leta melenggang masuk kedalam kamar.


"astaga bagaimana bisa aku melahirkan anak sedurhaka dia. Fyuuh kemana lagi tuh Adara sialan?!" cerca bibi Elnara resah kehilangan Adara. Bukan karena kasih sayang tetapi kehilangan Adara berarti kehilangan sumber penghasil uangnya.


Elnara tidak ingin hidup miskin,ia harus melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang yang banyak. Tanpa memperdulikan halal dan haram yang ia dapatkan,yang penting bisa memenuhi semua kebutuhannya.


"Leta kesini kau!!" teriaknya lagi sambil menggedor pintu kamar putrinya. Namun Leta acuh tak acuh mendengar suara melengking ibunya. Ia pun memasang headset dan memutar lagu tanpa menghiraukan panggilan ibunya.


Elnara mengumpat kesal,namun ia dikejutkan dengan suara bel yang menggema. Dengan perasaan kalut,ia perlahan mendekati pintu. Elnara langsung membuka pintu dan terkejut saat melihat pria tampan berada didepannya.


"dimana Leta?" tanyanya. Elnara menghela napas lalu menunjuk kearah kamar Leta.


"dia ada di kamarnya." jawab Elnara malas. Ia pun meneliti pakaian yang dikenakan pria itu dari atas sampai bawah.

__ADS_1


wah,kayaknya dia orang kaya nih. Sikatlah. gumam Elnara tersenyum penuh arti. Pria itu tidak peduli dengan raut yang ditunjukkan wanita paruh baya itu,ia berjalan langsung masuk tanpa permisi menuju kamar Leta.


"Leta,buka pintunya!!" serunya. Leta yang didalam tidak terlalu mendengar panggilan pria itu,asyik balas pesan dengan pria lain diponselnya.


Pria itu berdecak kesal langsung mendobrak pintu Leta,membuat siempunya kamar terkejut.


"astaga,ya ampun kau buat aku terkejut!" kejutnya tetapi sedetik kemudian ia kembali terkejut saat mendapati pria asing berada berdiri diambang pintu sambil menatapnya nyalang.


"sini kau!!" sarkasnya sambil menarik Leta keluar dari kamar dengan kasar. Leta meringis kesakitan berusaha melepaskan cengkraman pria itu.


"lepaskan aku brengsek!!!" teriaknya,tetapi pria itu tidak menghiraukan teriak Leta. Ia pun harus sampia menggedong bagai karung untuk membawa wanita itu keluar.


"ibu,aku permisi." pamitnya menatap sekilas kearah Elnara yang hanya diam menatap anaknya dibawa paksa oleh pria itu.


"ibuuu selamatkan aku!!!" teriak Leta memohon,sedangkan Elnara hanya tersenyum sambil melambaikan tangan kepada anaknya.


"hati-hati selamat bersenang-senang." serunya membuat Leta menatap ibunya tidak percaya. Pria tadi tersenyum miring menatap sekilas kearah Leta dan Elnara secara bergantian. Ia pun mengumpat kesal dalam hatinya,tidak menyangka jika ada seorang ibu begitu tega membiarkan anak perempuannya dibawa oleh orang asing malam-malam tanpa memperdulikan keselamatan sang anak.


"diam bisa tidak?!" sentaknya kesal menatap Leta yang daritadi terus memberontak. Leta menatap tajam kearah pria itu.


"kau itu siapa?! kenapa berani sekali membawaku?! kau mau aku laporkan hah?!" teriaknya pada pria itu.


"laporkanlah kalau kau bisa,aku juga bisa melaporkanmu karena suka menjual diri diluar sana. Apa kau tidak malu apa dengan harga dirimu sendiri?"


"sialan,itu bukan urusanmu!! lepaskan aku!!" sentak Leta lagi,namun pria itu langsung memasang seltbelt dan melajukan mobil meninggalkan perkarangan rumah Leta.


"jangan harap!!" bentaknya lagi membuat Leta sedikit ketakutan tetapi dirinya kembali menatap tajam kearah pria itu.


"oh,sekarang aku paham. Kau menyewaku yaa??" tanyanya dengan nada mengejek.


Ciiit.

__ADS_1


"bisa diam?! atau mau aku lempar kau ke sungai dalam nih?" ancamnya membuat Leta merinding. Salah dalam bertindak,bisa jadi pria ini benar-benar membuangnya kedalam sungai itu.


Jangan sampai aku dibuang olehnya kesungai itu. gumamnya menatap sungai yang tak jauh dari merek berhenti sekarang. Saat Leta sudah merasa tenang,barulah pria itu melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2