
Arshal seketika canggung hanya berdua saja didalam kamar bersama Adara. Padahal dirinya tadi begitu percaya diri membawa Adara pulang kerumahnya.
"ehem apa kau lapar?" tanya Arshal memecahkan keheningan,Adara menoleh kearah Arshal.
"hmm tuan,apa boleh saya menggunakan kamar tamu saja?" tanya Adara pelan,ia masih tidak nyaman hanya berdua dengan tuannya. Apalagi mengingat fakta yang baru ia dengar masih tidak masuk keotaknya sama sekali.
Arshal mengangguk pelan, "aku akan beritahu Bi Yana untuk mempersiapkan kamarmu." serunya hendak berjalan keluar.
"tidak perlu tuan,biar saya saja." tolak Adara secara halus,tanpa basa-basi ia pun melenggang keluar dengan cepat dari kamar Arshal.
Arshal hanya dibuat melongo melihat tingkah Adara,tetapi dirinya tidak bisa memaksa jika istrinya masih belum nyaman satu kamar dengannya.
"sabar...sabar,ayo buat Adara ingat kembali!" serunya menyemangati diri sendiri. Ia pun segera membersihkan dirinya.
Sementara Adara cepat-cepat masuk kedalam salah satu kamar yang diyakini adalah kamar tamu. Entah berdasarkan feeling atau kebetulan tanpa bertanya pada Bi Yana, seolah-olah Adara tau letak semua sudut ruangan ini.
Adara langsung menghempaskan badannya ke kasur. Kepalanya sedikit pusing dan lelah memikirkan semua ini.
"apa benar aku istrinya Arshal? huft,aku memang menyukai pria itu tetapi aku tidak menyangka jika aku adalah istrinya seperti yang dia bilang. Siapa aku sebenarnya? kenapa aku tidak ingat sama sekali??" gumamnya menatap langit kamar dirumah itu.
Suara pintu terbuka membuat Adara menyerngit bingung dan menatap kearah pintu,Bi Yana yang berada berdiri diambang pintu terkejut melihat Adara sudah berada dikamar yang hendak ia bersihkan.
"nyonya?! ya ampun maaf,saya belum bersih-bersih kamar." ucapnya langsung tergopoh-gopoh menuju Adara.
"tidak apa-apa bi, yang kamar ini biar saya aja yang bersihkan." ucap Adara sopan. Ia masih belum terbiasa jika orang lain membersihkan tempatnya.
"tidak apa-apa nyonya,ini memang pekerjaan saya. Nyonya tidak usah khawatir,saya akan membersihkan semua ini cepat."
ucap Bi Yana tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
Adara merasa tidak enak hati menolak wanita paruh baya itu,dengan terpaksa mengangguk membiarkan wanita itu melakukan pekerjaannya.
"baiklah,tapi saya bantu-bantu yaa?" ucapnya langsung dianggukan oleh Bi Yana. Walaupun nyonyanya lupa ingatan tetapi kebaikan wanita itu masih tetap sama seperti dulu.
"oh ya dimana Raid?" tanya Adara menyadari bocah kecil menggemaskan itu tidak ada dirumah.
Bi Yana terkekeh pelan, "tuan muda ada didalam kamar tuan Arshal nyonya."
__ADS_1
"loh,tadi kan aku ada disana. Kenapa aku tidak melihatnya?"
"mungkin nyonya lebih memperhatikan bapaknya dibandingkan dirinya,hehehehe." gurau Bi Yana membuat Adara tersipu malu.
"ah ya ampun bi," elaknya langsung bergegas berpindah tempat.
***
Arshal kembali termenung menatap jendela kamarnya. Ia harus berpikir keras untuk membantu Adara mengingat dirinya kembali.
"fyuuh apa yang harus kulakukan?" gumamnya pelan.
"aduh nih anak nggak capek apa berdiri trus disana?" gerutu Daiyan yang entah dari tadi duduk memandang saudara kembarnya itu berdiri selama satu jam lebih.
Arshal melirik kebelakang,dan berdecak kesal karena Daiyan seenaknya masuk kamarnya tanpa izin.
"keluar." ucapnya dingin,tetapi Daiyan tidak menghiraukan ucapan dingin Arshal.
"Daiyan keluar!" usirnya lagi.
"ck,diamlah dulu!!" sentak Daiyan membuat Arshal menatap tidak percaya.
"ish kau ini tidak mengerti bahasa sama sekali apa? anakmu itu kebangun karna suaramu itu!!" gerutu Daiyan sambil menunjuk kearah Raid.
"biarlah dia bangun,udah magrib. Nggak baik anak kecil tidur magrib-magrib." ucapnya asal langsung menghampiri Raid.
"idih nggak mau ngakuin kesalahan,dahlah aku mau nemui kakak ipar dulu,bye." ejeknya langsung mendapat hadiah lemparan bantal dari Arshal.
"jangan menemuinya sialan!" hardik Arshal.
"heh bahasanya tolong dijaga papa muda. Nggak baik didengar keponakan mendadakku." ucap Daiyan sok bijak. Arshal memutar matanya malas dan berjalan mendahului Daiyan sambil menggendong Raid.
"eh,kau mau kemana bro?" tanya Daiyan melihat Arshal hendak keluar kamar. Harusnya dia yang keluar duluan bukannya pemilik kamar ini.
"aku mau menemui istriku." sahutnya langsung menutup pintu meninggalkan Daiyan didalam. Daiyan kelimpungan langsung menyusul Arshal keluar.
"Arshal tungguin!!" serunya mengejar saudara kembarnya itu.
__ADS_1
Arshal tetap berjalan menuju kebawah,sampai ia dibawah,ia tertegun melihat Adara tengah menyiapkan makanan sama seperti dulu yang istrinya lakukan. Arshal tidak percaya jika istrinya kembali lagi padanya,tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipinya.
"Arshal kau menangis?" tanya Daiyan memergoki mata merah Arshal. Arshal menyekanya kasar dan menatap tajam kearah Daiyan," bukan urusanmu,sana pergi makan!" titahnya pada kembaran sialannya itu. Daiyan terkekeh pelan melihat raut wajah masam Arshal,ia pun berjalan mendahului Arshal menuju meja makan.
"oh halo tuan Daiyan." sapa Adara saat melihat Daiyan menuju kearahnya.
"jangan memanggilku tuan,aku ini adik iparmu. Jadi kau boleh menyebutkan namaku saja." seru Daiyan menatap kearah kakak iparnya mendadak itu. Yap,keluarga kecil itu terasa mendadak baginya. Apalagi mengingat jika saudara kembarnya itu tanpa sepengetahuan orang tuanya menikah diam-diam. Ah,Daiyan tidak bisa membayangkan betapa marahnya kedua orang tuanya nanti kalau mereka tau. Yang pasti bukan Daiyan yang disemprot habis.
"hmm okee,Dai-yan." Adara masih terasa keluh menyebutkan nama pria itu saja,tanpa embel-embel tuan.
Huh,rasanya canggung sekali. helaan napas Adara menatap situasi didepannya ini. Pandangan Adara beralih kearah bocah kecil yang tengah digendong Arshal,seketika raut wajahnya begitu bahagia dan tanpa sadar menghampiri Arshal.
"Raiid." serunya senang langsung mengambil alih Raid dari tangan Arshal.
Arshal hanya diam melongo melihat aksi istrinya yang begitu bersemangat menggedong Raid. Ada rasa sedikit cemburu yang ia rasakan,saat melihat Adara lebih mementingkan Raid dibandingkan dirinya. Namun,apa dayanya sekarang Adara masih canggung berbicara dengannya. Sepertinya,Arshal harus ekstra sabar demi mengembalikan ingatan Adara kembali.
Adara tidak memperhatikan raut wajah kesal yang ditunjukkan Arshal padanya. Dirinya asyik fokus mencium pipi tembam Raid bergantian.
Apa benar dia anak kandungku? ya Tuhan jika iyaa,tampan sekali diaa. pekiknya senang dalam hati memandang wajah Raid.
Huft,nak papa cemburu denganmu. Kau bisa mengalihkan seluruh perhatian mama. gerutunya menatap tajam kearah Raid.
Daiyan mengulum senyum menatap Arshal yang terus-menerus menghela napas sambil memandang anaknya sendiri dengan tatapan tajam.
"hei Shal,jangan bilanh kau cemburu dengan anakmu sendiri?" sindir Daiyan meledek kearah Arshal.
Adara yang menyadari hal itu, dengan cepat menuju kearah Arshal. Ia merasa bersalah lagi karena tanpa sadar ia mengambil paksa Raid dari Arshal. Adara tidak menyangka dirinya begitu berani melakukan hal itu.
"maaf tuan,saya tadi tidak sadar langsung menggedong Raid." cicitnya tertunduk. Arshal lagi-lagi menghela napas. Bukan ini yang ia inginkan,Adara hanya menganggapnya sebagai bosnya,bukan memandang dirinya sebagai suami. Arshal berharap semoga Adara bisa segera ingat kembali. Kini,ia harus mencari pemicu ingatan Adara.
"aku tidak marah padamu Adara. Ya sudah,makanlah dulu." seru Arshal mendongak kearah meja makan yang sudah tersaji makanan diatasnya.
Adara tidak bergeming dari tempatnya,membuat Arshal mengerut keningnya, "ada apa?"
"maaf tuan,saya akan makan nanti kalau tuan sudah selesai makan." ucapnya lagi. Rahang Arshal mengeras,tanpa sadar ia malah membentak Adara didepan semuanya.
"kau itu bukan pembantu Adara!! jangan menganggap aku tuanmu,aku ini suamimu!!!" bentaknya tepat diwajah Adara,sedetik kemudian Arshal menyesal telah membentak istrinya itu. Ia semakin merasa bersalah telah membuat Adara menangis dan Raid pun ikut menangis.
__ADS_1
"kau ini apa-apaan Arshal?!" sentak Daiyan menatap tajam kearah Arshal. Huh,tidak habis pikir saudaranya itu malah membuat goresan kecil dihati seorang perempuan didepan Arshal.
"maaf aku tidak sengaja." ucap Arshal pelan menatap sendu kearah Adara.