
Bu Iva yang mendengar hal itu terkejut bukan main. Apa maksud mereka Sebenarnya?
"Bu Iva." cicit Adara langsung memegang tangan Bu Iva yang hendak jatuh. Ia pun memapah wanita paruh baya itu untuk duduk disofa dan tak lupa memberikan wanita itu air putih.
Adara dan Arshal tampak cemas dan bingung harus menjelaskan seperti apa kondisi saat ini pada Bu Iva. Bu Iva langsung menggenggam tangan Adara dan menatap kearah wanita itu. "apa maksud kalian tadi? kau anakku?" tanya Bu Iva bingung.
Adara mengangguk pelan, "iyaa Bu."
"tidak mungkin." lirih Bu Iva langsung berjalan keluar meninggalkan mereka berdua. Adara hanya menatap sendu kearah pintu, lalu berjalan masuk kedalam kamar yang ada didalam ruangan Arshal.
Arshal menghela napas pelan,bingung harus menghadapi situasi didepannya itu. Dengan cepat,ia berjalan mendekati Adara.
"sayang." ucapnya pelan lalu duduk disamping Adara. Ia dapat melihat tubuh istrinya bergetar sambil menangis. "sayang,tenang dulu." ucapnya istrinya agar tidak menangis lagi.
"tenang,kita harus berpikir jernih dulu Ra. Manatau Bu Iva masih mencerna semua yang ia dengar,beri beliau waktu sayang." ucap Arshal sambil mengelus kepala Adara.
Adara berbalik dan memeluk Arshal erat. "a-aku hanya tidak bisa mendengar ini semua Shal. Dulu,aku ingin sekali bertemu dengan orangtuaku. Bagaimana rupanya,sikapnya,kasih sayangnya. Dan ternyata orang itu adalah ibuku sendiri. Aku tidak menyangka dekat dengannya."
Arshal tersenyum tipis, "sudah yok. Kita keluar hirup udara segar. Kasian anak kita didalam,masa dia dengarin mamanya nangis sih." Adara mengangguk pelan.
***
"Yua,kau dengar aku?" tanya Daiyan mengguncang tubuh Batsyua. Wanita itu mengerjap pelan dan menoleh kearah Daiyan.
"kau sangat menyebalkan!" sentak Batsyua membuang muka. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana perasaannya begitu takut didalam lift tadi. Sedangkan pria itu malah mengerjainya.
"maaf,aku tidak tau kalau kau trauma dengan gelap." ucap Daiyan santai,pria itu pun ikut berbaring disamping Batsyua.
"heh,apa yang kau lakukan?!" Batsyua terkejut,ia langsung beranjak dari tempatnya.
"hei,tidur lagi." seru Daiyan menarik Batsyua untuk tidur disampingnya,bahkan dengan posesif pria itu merengkuh tubuh batu kesayangannya itu.
"kau keliatan kurusan." ledeknya langsung disambut bogem mentah,Daiyan meringis pelan memegang perutnya.
"aakh,kau kenapa kuat sekali?" ringisnya pelan,sedangkan Batsyua tersenyum puas menatap penderitaan pria itu. "siapa suruh kau mengejekku?! lagian yaa,kau ini suka hatinya tidur disini? kita kan nggak ada hubungan apa-apa." ucapnya tegas membuat Daiyan melotot kearahnya.
"ada." ucapnya dingin lalu menatap lekat kearah Batsyua. Wanita itu salah tingkah saat ditatap seperti itu oleh pria itu.
Batsyua melepaskan infus ditangannya dan berjalan mendekati pintu. Sontak tindakannya membuat pria itu terkejut dan mengejarnya. "hei apa yang kau lakukan Yua?!"
__ADS_1
"tidak ada." ketusnya tetap membuka pintu,namun dengan cepat Daiyan menahan pintu dan membalik tubuh wanita itu menghadap kearahnya. Sungguh rasanya Batsyua ingin pingsan saja daripada bertatapan seperti itu dengan Daiyan.
Mata Daiyan melirik kearah tangan Batsyua yang mulai mengeluarkan darah,ia pun berdecak kasar dan memencet tombol untuk memanggil perawat.
"obati dia,dan tolong jangan sampai dia kabur dari sini!" titah Daiyan pada perawat yang baru masuk,pria itu berjalan keluar meninggalkan Batsyua didalam ruangan.
Daiyan menghela napas pelan,sembari menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"kau ngapain disana?" tanya Arshal yang baru saja datang. Daiyan menyerngit bingung melihat saudara kembarnya berada disini. "kau ngapain disini?" tanya Daiyan balik.
"aku bertanya pada kau,bukan kau tanya balik." ketusnya berjalan masuk kedalam rumah sakit. Melihat saudaranya masuk sendiri,tentu ia menjadi heran. Apalagi keluarganya tidak ada yang sakit.
Deg.
Daiyan langsung tergesa-gesa berlari mengejar Arshal. "woi kau mau kemana?" tanyanya menghadang jalan saudaranya itu.
"kau kenapa? menyingkirlah,aku sedang buru-buru saat ini."
"nggak boleh,emangnya kau mau kemana hah?"
"ck, ya jelaslah aku mau kesana!" tunjuk Arshal kesal kearah resepsionis disana.
"ish,kenapa kau nanya terus? emangnya kenapa aku nggak kesana hah? aku mau jenguk mama!"
Daiyan terkejut mendengar penuturan Arshal, "hah? mama dirawat?"
"iyaa,barusan papa nelpon. Tunggu,jangan bilang kau nggak tau kalau mama masuk rumah sakit?"
Daiyan menyengir pelan membuat Arshal menggeleng -geleng kepala. "dasar anak durhaka. Jadi Ngapain aja kau disini hah?"
"nenamin Yua." jawabnya santai.
"idih,kenapa nggak dinikahi tuh anak? kalau cuma ngajak pacaran doang,mending mundur aja. Ku dengar orang tua Yua galak loh. Aku duluan yaa." pamit Arshal berjalan kearah resepsionis sendiri,Daiyan yang barusan mencerna ucapan Arshal langsung menyusul kearah kembarannya. "woi tungguin!!"
***
Kabar Hazel masuk rumah sakit membuat kedua anak kembarnya tergopoh-gopoh memasuki ruangannya. Bahkan tanpa sopannya mereka mendobrak pintu membuat semua orang didalam terkejut dengan kedatangan mereka.
"ck,kalian nggak bisa baik-baik datangnya hah?!" kesal Muaz menatap kedua putranya yang berdiri diambang pintu.
__ADS_1
"hehehe maap paa, khilaf. Ini salah Arshal paa bukan Daiyan." ucap Daiyan langsung mendapat tatapan tajam dari saudara kembarnya.
"cih." kesalnya berjalan menuju mamanya. Ia begitu sedih melihat kondisi sang mama saat ini,tidak ada yang menyangka jika Hazel memiliki penyakit diabetes melitus.
"mama kok nggak ada bilang sama kami kalau mama selama ini sakit?" lirih Daiyan menghampiri sang mama.
Hazel tersenyum tipis, "mama nggak ingin kalian khawatir nak,tenang aja mama kuat kok."
"mama..." lirihnya,lupakan umurnya saat ini mulai memasuki kepala tiga. Baginya jika berdekatan dengan Hazel ia rasanya ingin bermanja-manja.
Sedangkan Muaz hanya diam mengamati keluarga kecilnya,ia hanya menghela napas memilih berjalan keluar ruangan.
Apa lagi yang kau rencanakan Hazel?? kau mau membuat Daiyan segera menikah cepat?? gumam Muaz dalam hati. Sifat abstrud istrinya tetap masih melekat diwanita itu,ia pura-pura masuk kerumah sakit agar anak keduanya segera menikah cepat. Ia begitu gemas melihat putranya masih menyendiri sedangkan anak pertamanya bahkan sudah mau memiliki cucu kedua.
Arshal menyadari gelagat curiga disini,melihat sang papa yang biasanya sangat protektif dengan mamanya,saat ini merasa acuh tak acuh. Sampai akhirnya ia paham dengan situasi saat ini, terkekeh pelan dengan aksi konyol mamanya.
"mama mau minta sama sama kamu Yan,menikahlah demi mama." lirih Hazel.
Daiyan menatap sendu kearah mamanya,lalu mengangguk cepat. "maa aku akan pastikan nikah kok hari ini juga. Tapi mama harus sembuh yaa." ucapnya menyakinkan sang mama. Memang diantara mereka berdua,Daiyan lah yang paling menyayangi sang mama. Tanpa berpikir panjang ia pun berlari keluar membuat keduanya bingung.
"eh,Yan kau mau kemana?" tanya Arshal tetapi sang pemilik nama sudah menghilang dari pandangan membuat mereka berdua menghela napas.
"ya ampun maa." ucap Arshal menghela napas,walaupun ia sudah menyadari tetapi sama saja ia tertipu mendengar kabar sang mama. Apalagi tadi ia cepat-cepat meninggalkan Adara dengan Raid dirumah mengingat istrinya itu masih lemas untuk berjalan.
"heheheh,gimana akting mama? baguskan?" seru Hazel menatap kearah Arshal. Arshal menepuk jidatnya pelan.
*
*
*
Maaf ya teman-teman,aku kira cerita yang ini udah tamat eh ternyata belum wkwkwkkwk,kelamaan Hiatus jadinya🥲😂🙏
Sama seperti novelku yang Shattered,episodenya nggak banyak-banyak kali,jadi aku tamatin di episode 60. Jadi aku up 2x sekaligus hari ini.
Mohon maaf sekali lagi yaa,karena keteledoran author cerita ini jadi tenggelam🥺
Terimakasih sudah menjadi pembaca setia author!! 🤗
__ADS_1