I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 20


__ADS_3

Adara merenggangkan ototnya sambil berjalan ke kamarnya. Hari ini begitu melelahkan, sampai-sampai pekerjaannya yang belum selesai ia pun membawa pulang kerumah.


"huft melelahkan." ucapnya sambil menjatuhkan dirinya ke kasur. Ia pun melirik kearah jam dinding telah menunjukkan pukul delapan malam.


"astaga aku lapar sekali." gumamnya pelan,tetapi ia malas bergerak dari tempatnya. Adara berdecak kesal karena perutnya terus berbunyi ingin diisi membuatnya mau tak mau harus beranjak dari kasur. Adara dengan langkah gontai berjalan kearah lemari.


Bruuk.


Adara menggerutu kesal saat ada yang menimpah badannya sampai jatuh kelantai,ia membuka matanya pelan dan mengerjap-ngerjap melihat seseorang yang menindih tubuhnya saat ini. Beberapa detik kemudian ia langsung tersadar dan terkejut menyadari bosnya yang tampan itu ada disini lebih tepatnya ada dikamarnya.


Arshal langsung menutup mulut Adara agar tidak berteriak. Ia menggerutu pelan karena kakinya begitu pegal menahan tubuhnya bersembunyi di lemari selama hampir enam jam.


"tu-tuaan apa yang anda lakukan disini??" bisik Adara pelan,jangan lupa jantungnya kini tidak dapat dikondisikan mengingat wajah tuannya sangat dekat dengannya. Sedangkan Arshal tertegun melihat wajah Adara yang begitu cantik dimatanya. Ia ingin sekali memeluk dan mencium bibir ranum itu,tetapi akal sehatnya mengingatkannya untuk tidak melakukan semua itu karena istrinya dalam mode amnesia.


Ternyata benar,dia tidak mengingatku. Aku janji akan membuatmu mengingatku kembali sayang. tekadnya dalam hati,lalu ia berdiri dari Adara.


Arshal duduk ditepi kasur sambil mengusap kasar wajahnya. Adara masih tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini,pria itu ada dikamarnya? sungguh membuat dirinya bertanya besar bagaimana pria itu bisa masuk? ah,lebih tepatnya bagaimana pria itu tau rumahnya?


"tu-tuan,mau minum sesuatu?" tanya Adara memecahkan keheningan keduanya. Ia merasa canggung duduk berdiam diri bersama Arshal.


Arshal mengangguk sebagai tanda jawaban dari pria itu,tanpa permisi Arshal menarik bantal dan ia pun berbaring disana. Adara masih mode loading hanya menurut dan keluar dari kamar.


"astaga jantungku tolong tenanglah." gumamnya sambil memegang dadanya. Adara menggeleng pelan,lalu berjalan kearah dapur.


"kamu sudah pulang nak?" tanya Bibi Elnara datang dari belakang. Adara terperanjat sambil mengelus dadanya, "kaget bi."


"ya ampun Adara,jangan bilang kamu lagi melamun yaa??" tanya Bibi sambil mengambil minuman dingin didalam kulkas.


"bibi belum tidur?" tanya menatap bibi meneguk air dingin itu.


"belum." ucap bibi Elnara,Adara sedikit memperhatikan pakaian yang dikenakan bibinya. Terlihat memakai piyama tidur yang mahal. Tetapi,Adara tidak ingin menanyai hal yang tidak penting itu pada bibi.

__ADS_1


"kamu sedang apa?" tanya Bibi menatapku sedang menyeduh teh.


"ah,aku sedang ingin minum yang hangat-hangat Bi. Hari ini aku sedikit kecapean."


"ya sudah,kalau gitu pergi istirahat." ucap bibi dengan penuh lemah lembut.


"oke,Adara ke kamar dulu yaa bi." pamit Adara sambil membawa secangkir teh. Sesampai dikamar Adara tertegun melihat Arshal sudah tertidur dikasurnya.


ini pasti mimpi yaa,seorang CEO tidur dikamar ku yang kecil ini. gumam Adara dalam hati,ia pun meletakkan teh hangat itu diatas meja. Ia lebih memilih membiarkan tuannya tidur sambil memakaikan selimut padanya.


"aku tidak tau tuan,bagaimana kau bisa sampai disini? Tapi entah kenapa aku begitu senang seperti keajaiban datang padaku." lirihnya menatap paras tampan Arshal. Kesempatan yang begitu langka untuk seorang wanita sepertinya yang begitu beruntung melihat dengan puas dari jarak dekat wajah tampan bosnya ini. Alisnya yang begitu tebal,hidung mancung,bibir yang merah.


Adara sering mendengar gosip-gosip ditempat kerjanya. Yap,beberapa karyawan disitu sering memuji ketampanan Arshal. Bahkan ada yang rela menyerahkan tubuhnya untuk Arshal,beruntungnya Arshal yang tampan itu sangat dingin untuk didekati sehingga semua wanita hanya bisa memandang dari jarak jauh. Banyak yang bilang jika banyak wanita disini resign gara-gara berani menggoda Arshal entah berapa banyak catatan keluar masuk karyawan yang bekerja diperusahaan Arshal. Yang pastinya jika ingin bekerja disini,jangan mengharapkan lebih pada bosnya.


"mau sampai kapan kau terus memandang wajahku?" tanya Arshal masih tertutup matanya membuat Adara tersentak kaget.


"tu-tuan?? Anda sudah bangun,kapan anda bangun tuan??" tanya Adara gugup. Ya ampun,tuannya itu suka sekali membuat dirinya syok terapi.


"sejak kau terus memandang wajahku." ucap Arshal tersenyum tipis kearah Adara.


"sa-saya tidak memandangi wajah tuan,sa-sa—" ucapannya terhenti saat mendengar suara langkah kaki menuju kamarnya,sontak membuatnya panik.


"tuan,ayooo ikut aku!!!" sangking paniknya ia tidak sadar menarik keras Arshal turun dari kasurnya,Arshal yang masih belum siap hampir saja terjatuh akibat ulah Adara. Adara dengan sekuat tenaga membawa Arshal kedalam kamar mandi. "tuan,anda sembunyi dulu disini,jangan bersuara." ucap Adara panik langsung menutup pintu kamar mandi.


Arshal menghela napas melihat kelakuan Adara. Tetapi senyumnya terbit memandang tangannya yang baru saja digenggam Adara. "masih sama seperti dulu tanganmu sayang." gumamnya pelan,ia pun menuruti Adara menunggu didalam kamar mandi.


Sementara Adara sedikit panik berusaha menetralkan rasa gugupnya saat seseorang menggedor pintunya. Setelah merasa cukup tenang,barulah ia membuka pintu kamarnya.


"kenapa lama sekali buka pintunya nak?"


"maaf bi,tadi Adara lagi ke kamar mandi tadi.Ada apa ya Bi?"

__ADS_1


"oh,ini bibi bawakan kamu makanan. Kamu pasti belum makan kan??" tanya Bibi sambil menyodorkan makanannya kearah Adara. Adara tersenyum tulus sambil menerima makanan itu dari bibinya. Adara sangat bersyukur bisa memiliki bibi sebaik itu.


"terimakasih bibi." ucapnya senang.


"sama-sama sayang. Kalau gitu bibi pergi dulu yaa." ucap bibi berlalu melangkah menjauh dari kamar Adara. Adara langsung menutup pintu dan meletakkan makanannya di atas nakas. Ia langsung bergegas membuka pintu kamar mandi, "fyuuh aman tuan." ucapnya menatap pria yang berdiri berkacak pinggang menatap cermin.


Arshal menoleh kearah Adara,dan berlalu berjalan mendahului wanita itu,matanya pun tertuju pada makanan yang tergeletak diatas nakas.


Adara yang melihat Arshal menatap makanannya itu membuat hati wanita itu merasa iba,


Sepertinya tuan Arshal belum makan lah. gumam Adara pelan,ia pun langsung menarik tangan Arshal untuk duduk dan meletakkan makanan itu dipangkuan pria itu. Arshal terkejut dengan tindakan Adara yang tiba-tiba, "apa ini?"


"tuan sepertinya lapar,tapi maaf tuan saya hanya bisa memberikan ini pada tuan." ucap Adara pelan,walaupun dirinya lapar tetapi ia harus mengalah demi tuannya.


Arshal tersenyum tipis, "ayo kita makan berdua." ucapnya membuat Adara mendongak terkejut kearahnya.


Deg.


Makan berdua?? dengan tuan Arshal? ini seperti mimpi. pekik Adara dalam hati.


Adara masih enggan menuruti kemauan Arshal,lancang sekali dirinya makan sepiring berdua dengan bosnya itu. Arshal yang melihat Adara enggan,sedikit jengkel dan memasukkan sesuap sendok kedalam mulutnya.


Deg.


Damn,makanan ini ada sesuatu yang dimasukkan!!. umpat Arshal langsung memuntahkan makanan itu.


"ada apa tuan? kenapa? apa tidak enak?" tanya Adara panik melihat tuannya mencari minum.


"bu-bukaan." ucap Arshal tergesa-gesa langsung berlari ke kamar mandi.


Braak. Arshal langsung menutup pintu kamar mandi dengan keras tepat didepan wajah Adara.

__ADS_1


"sial,siapa yang memasukkan makanan yang ada narkobanya disini??" Gerutu Arshal sambil membersihkan lidahnya dari barang haram itu. Tentu saja Arshal tau jika itu narkoba karena dirinya pernah sekali mencicipi barang haram itu tanpa sengaja waktu dulu.


"jadi kalian mulai melakukan aksi kalian untuk mencelakai Adara,tidak akan ku biarkan!!" rahang Arshal mengeras dan ia pun mengepalkan tangannya.


__ADS_2