
Leta langsung mendobrak pintu Adara. Ia memandang nyalang kearah Adara,tanpa basa-basi ia menampar keras pipi Adara.
"apa yang kau lakukan?!"
"kau itu ja****!!" bentak Leta melempar tasnya kearah Adara.
"apa kau mau hah?!" sentak Adara,ia sudah tidak tahan diperlakukan seenaknya oleh Leta. Adara bergerak maju mendorong Leta,membuat wanita itu terkejut.
"sekarang kau sudah mulai berani yaa?!" Balas Leta mendorong Adara.
Adara dengan cepat mencekal tangan Leta, "dengar,aku sudah muak dengan semua ini kak,kalau kau memang sangat membenciku lebih baik aku pergi dari sini!!" bentaknya lagi.
"bagus! akhirnya kau sadar diri hanya benalu disini!!" hempas Leta mendorong Adara. Ia mengibas tangannya yang tadi dicekal Adara.
cih,kuat juga nih anak nyekal tanganku!!. gerutu Leta dalam hati.
Adara yang dipenuhi amarah,dengan cepat mengambil kopernya dan mengeluarkan baju-baju didalam lemari. Ia pun tak lupa memasukkan perkakas miliknya kedalam koper itu.
"pergi sekarang!!!" usir Leta sambil menyeret Adara beserta kopernya keluar dari rumah.
"pergi sejauh mungkin,jangan pernah kembali!!" bentak Leta sambil menutup pintu keras.
Adara mengepalkan tangannya menahan air matanya agar tidak jatuh,dengan pelan ia menyeret kopernya pergi dari sana tanpa tujuan yang jelas. Ia juga sudah muak dengan perlakuan Leta selama ini.
"maaf bibi,aku tidak bisa tinggal disini lagi." lirih Adara sekali lagi menoleh kebelakang menatap rumah tempat berteduhnya dari kecil.
***
Arshal melirik kearah jalanan,kosong,terasa hampa. Ia melirik jam tangannya menunjukkan sudah lima sore. Ia pun memutuskan untuk segera pulang.
"antar aku pulang." titah Arshal menyuruh Ezra membelokkan mobilnya menuju rumah. Namun baru saja ia melirik lagi kearah luar, tiba-tiba sekretarisnya itu berhenti mendadak membuat Arshal menyerngit bingung.
__ADS_1
"ada apa?" tanya Arshal.
"maaf tuan,saya melihat Adara diseberang sana tuan. Tunggu sebentar." jelas Ezra tanpa menunggu jawaban dari tuannya. Ia segera keluar dan menghampiri Adara. Arshal mengepal tangannya menahan kesal. Bagaimana bisa sekretarisnya itu begitu peduli dengan istrinya?
"aakh semakin lama,semakin melunjak. Tapi, tunggu kenapa Adara membawa koper? apa jangan-jangan??" gumam Arshal,ia pun cepat-cepat menyusul mereka berdua.
"Adara!!" panggil Ezra dari seberang,Adara mendongak dan terkejut saat Ezra memanggilnya.
Ezra berlari kecil menuju kearah Adara,ia terlihat begitu cemas, "kenapa kau membawa koper? apa kau pergi dari rumah?" cercanya menatap koper yang dipegang Adara. Adara sedikit tidak nyaman dan hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Ezra,walaupun pria itu sahabatnya entah kenapa hatinya kini tidak nyaman.
"ah,tidak apa-apa jangan khawatir. Aku duluan yaa." ucap Adara sambil berjalan mendahului Ezra. Ia tidak ingin juga merepotkan orang lain karena masalah yang dialaminya saat ini.
"tunggu!" seru Ezra menahan tangan Adara. Adara dengan cepat menepis tangan Ezra, "maaf Ez,tolong biarkan aku sendiri dulu yaa. Kalau aku udah tenang,nanti aku akan kabari." usir Adara secara halus,Ezra yang mendengar hal itu cukup membuatnya sakit hati dan ia juga menyadari jika Adara sedikit tidak nyaman dengannya. Mau tak mau Ezra harus pasrah dan membiarkan Adara mengambil keputusannya.
"baiklah,kalau ada apa-apa hubungi aku langsung." ucapnya lagi. Adara mengangguk pelan sebagai jawabannya.
Ezra merasa ada getaran disaku celananya,ia pun merogoh sakunya dan langsung mengambil ponsel. Ia cukup terkejut saat mendapatkan pesan dari bosnya.
Tuan Arshal
Ezra menghela napas,lalu ia menoleh kearah Adara tadi. Ia menyerngit bingung tidak menemukan Adara disekitar tempatnya. Walaupun Adara tadi sudah berjalan duluan,tetapi ia harusnya masih bisa melihat punggung gadis itu yang kian menjauh.
"kemana dia? kenapa cepat sekali dia menghilang?" tanya Ezra bingung. Ia berdecak kesal lalu berjalan ke mobilnya.
Sementara Adara kini dibekap oleh seseorang yang tak lain adalah Arshal. Ia sangat terkejut saat ditarik oleh tuannya ke lorong yang lumayan gelap.
Adara kebingungan sekaligus takut menatap tuannya. Ia berusaha melupakan kejadian tadi pagi,tetapi ia sekarang malah bertemu dengan orang yang membuatnya uring-uringan.
Arshal menyadari tingkahnya tersebut,ia pun langsung menurunkan tangannya dari mulut Adara, "maaf." ucapnya pelan.
Adara hanya diam saja tanpa menjawab sekata apapun. Ia hanya diam sambil memegang ujung bajunya.
__ADS_1
"dan maaf untuk tadi pagi,aku benar-benar menyesal." lirihnya membuat Adara mendongak kearahnya.
"tidak apa-apa tuan,saya yang harusnya minta maaf disini." ucap Adara sopan,walaupun ada sedikit tergores dihatinya saat mendengar ucapan Arshal tetapi dirinya juga begitu lega ketika tuannya menyadari perbuatannya.
Memang ia menyukai Arshal,tetapi bukan dengan cara seperti ini ia lakukan. Ia ingin jika memang ada kesempatan memiliki Arshal,maka ia dengan senang hati menerima kesempatan itu. Tetapi,jika menggunakan cara kotor,tentu hubungan itu tidak akan bertahan lama.
"apa kau diusir dari rumah?" tanya Arshal menatap lekat kearah Adara. Wajah cantik itu masih membuat jantung Arshal berdetak kencang.
Adara mengangguk, "iyaa." lirihnya lagi. Entah kenapa dirinya begitu nyaman melontarkan jawaban itu tanpa berpikir panjang. Padahal tadi saat bersama Ezra dirinya begitu tidak nyaman menceritakan masalah pribadinya.
"kau pasti banyak menderita disana." lirih Arshal mengelus kepala Adara. Tangisan Adara langsung pecah,terserah jika tuannya mengatakan dirinya cengeng dan pengecut. Dirinya kini butuh sandaran.
Arshal langsung memeluk Adara,menepuk punggung wanita itu pelan. Ia pun juga merasa sedih dan pilu,tanpa terasa air matanya juga tumpah.
Adara sudah merasa lebih tenang dan perasaannya sudah jauh lebih baik. Ia melepaskan pelukannya dari tuannya yang rela memeluknya demi menenangkannya.
"tuan,sekali lagi saya minta maaf." cicit Adara menunduk. Arshal tersenyum tipis,ia pun merapikan anak rambut Adara kebelakang telinga wanita itu.
"kau tidak perlu minta maaf Adara. Sekarang perasaanmu sudah lebih baik kan?" tanya Arshal lembut. Adara mendongak kearah Arshal,ia terkejut melihat mata sembab pria itu.
Tuan menangis? menangis karenaku?. gumam Adara pelan.
"tuan,anda menangis?" tanya Adara penasaran. Arshal Lagi-lagi hanya tersenyum tipis sambil mengelus kepala Adara. "aku menangis karena melihat hidupmu yang menyedihkan itu." sahutnya.
"Anda tidak perlu membuang air mata untuk saya tuan. Saya ini hanya karyawan tuan,bukan lebih. Tetapi,saya berterima kasih pada tuan telah membiarkan saya menangis meluapkan perasaan yang saya rasakan saat ini." jelas Adara.
"kau itu bukan karyawanku Adara." sela Arshal membuat Adara kebingungan.
"maksud tuan? saya dipecat?" tanyanya sedikit cemas.
"bukan juga." jawab Arshal lalu ia melepaskan jas kantornya dan memasangkannya pada Adara.
__ADS_1
"kau itu adalah istriku,Adara."
Deg. Mata Adara membulat sempurna mendengar pernyataan Arshal.