I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 15


__ADS_3

Adara dengan lunglai berjalan masuk kedalam kamarnya. Hari ini lumayan begitu menguras energinya,ditambah lagi tekanan batin dari bosnya membuat Adara sedikit gemetaran.


"ya ampun pria itu kenapa dingin kek kulkas sih??!" gerutu Adara sambil melempar asal tasku ke kasur.


"fyuuh kan jadi lapar,mau makan apa yaa??" gumam Adara lagi melirik kearah jam tangannya. Ia pun langsung bergegas membersihkan dirinya ke kamar mandi.


"Adara!!" panggil Bibinya dari luar membuat Adara yang baru saja selesai mandi,langsung bergegas menemui Bibinya.


"ya Bi? ada apa?" tanya Adara melihat bibinya tengah bercengkrama dengan seseorang. Adara menyerngit heran menatap tamu yang hari ini hadir dirumahnya.


Bibi Elnara menoleh kearah Adara dan memanggilnya untuk duduk disebelahnya.


"Adara sini!!" seru Bibi,Adara langsung menuruti bibinya dan duduk disamping bibi. begitu ia mendongak,terkejut mendapati sahabatnya ada dihadapannya saat ini.


"eh Ezra??" seru Adara membuat Bibi Elnara menyerngit bingung menatap bergantian kearah Adara dan Ezra.


"kalian udah saling kenal?" tanya Bibi Elnara,langsung dianggukan keduanya.


"iyaa bibi, kami memang saling kenal kok. Dia sahabatku." ucap Adara pelan,Ezra juga mengangguk kearah bibi Elnara. Bibi Elnara manggut-manggut mengerti.


"bagaimana kau bisa tau aku disini Ez?" tanya Adara menatap sahabatnya. Ezra tersenyum simpul, "tadi,aku tidak sengaja melihatmu masuk kerumah ini. Kebetulan tadi aku mau kerumah saudaraku dekat sini." ucapnya pelan. Padahal alasan dirinya bisa berada disini karena ia membututi wanita pujaannya itu pulang,dan dengan berani sambil beralibi jika dirinya hanya mampir.


Oh Adara,kapan kau bisa menjadi milikku?. gumam Ezra dalam hati. Ia saat ini masih belum siap menyatakan perasaannya yang sudah lama ia pendam. Apalagi,tidak disangka jika wanita ini malah kerja satu perusahaan dengannya membuat pria itu semakin mendekatkan diri.


"Kalau begitu,saya permisi dulu bi. Terimakasih atas jamuannya." pamit Ezra dengan sopan,


"ya ampun, terburu-buru kali nak,apa kau tidak ingin berbincang-bincang dulu?"

__ADS_1


"maaf bibi,saya ada urusan mendesak sekarang. Lain kali saya akan datang kesini lagi, terimakasih." ucapnya langsung berjalan keluar dari rumah Adara.


Adara dan Bibi Elnara mengantarkan Ezra kedepan pintu pagar,sambil melambaikan perpisahan barulah kedua wanita itu kembali masuk kedalam rumah.


"Ezra ganteng banget ya Ra,sopan lagi." puji Bibi mengingat pertemuannya tadi dengan Ezra.


"iyaa Bi,dia memang lumayan populer. Di kampus dulu banyak yang ngincar Ezra." seru Adara mengingat sosok sahabatnya. Memang pertemuan Adara dengan Ezra berawal dari kampus. Ezra adalah pria yang baik tetapi tidak membuat Adara menyukainya. Adara hanya menganggap pria itu hanya sebatas sahabatnya bukan lebih.


"bibi sebenarnya ingin menjodohkan kamu dengan Ezra," ucap bibi tiba-tiba membuat Adara spontan menatap bibi.


"maaf bibi,aku berterimakasih atas niat baik bibi. Tapi,aku tidak bisa menerima Ezra sebagai suamiku." lirih Adara pelan. Ia juga sebenarnya sudah berusaha menyukai Ezra,namun tidak terasa desiran saat bersama sahabatnya itu. Lain hal bosnya itu yang membuat dirinya berdesir hebat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. padahal ia baru sebulan melirik bosnya diam-diam. Yap,aura pria dingin seperti kulkas membuat Adara penasaran dan menyukai pria itu.


"sayang,sulit digapai." gumamnya memandang kosong kearah jendela yang menampakkan rintikan hujan mulai membasahi daratan.


"fyuuh tiba-tiba hujan yaa?? kayak tau aja perasaanku sedang sendu seperti ini." lirihnya masih setia memandang jendela kamarnya.


Arshal kebingungan sekaligus panik harus melakukan sesuatu untuk anaknya. Pasalnya,Raid terus menangis kencang tidak mau berhenti. Apalagi tubuh bayi kecil itu terasa demam. Arshal langsung dengan segera mendekap putra kecilnya.


"fyuuh badan kamu panas nak," lirihnya sambil menggedong putranya. Ia bahkan rela membiarkan panas anaknya mengenai tubuhnya. Biarlah panas anaknya berpindah padanya.


"tenang Raid,papa disini." ucap Arshal menenangkan anaknya. Ia berjalan memandang kearah jendela kamarnya,menatap derasnya hujan diluar. Arshal menatap sendu kearah luar,sesekali ia menepuk punggung Raid dengan lembut. Ia pun langsung duduk disofa yang tepat disamping jendela.


Tok...tok...tok...


Suara gedoran membuyarkan lamunan Arshal,ia pun menoleh pelan kearah pintu kamarnya, "masuk." ucapnya membuat bi Yana masuk sambil membawa secangkir teh hangat serta kompres.


"tuan,ini kompresnya." ucapnya sambil meletakkan diatas nakas. Arshal mengangguk,lalu ia melirik kearah Raid yang mulai tenang.

__ADS_1


Bi Yana memandang iba kearah tuannya. Ia berharap sekali lagi agar Arshal kembali menemukan kehidupannya yang baru dan mengikhlaskan kepergian nyonya muda. Tetapi,ia tidak berkata apapun karena tuannya itu masih sangat mencintai mendiang istrinya itu.


"ada yang perlu dibantu lagi tuan?" tanya Bi Yana pelan. Arshal menggeleng menandakan tidak ada lagi yang ia perlukan. Bi Yana mengangguk lalu mengundurkan diri dari kamar tuannya.


Arshal menghela napas lega melihat Raid sudah mulai tertidur,dengan perlahan ia meletakkan anaknya diatas kasur,lalu mengompres pelan bayi kecil itu.


Esok paginya,Arshal merenggangkan ototnya sambil mengucek matanya. Semalaman ia tidak bisa tidur karena selalu terjaga menemani Raid yang terus saja terbangun dari tidurnya. Mungkin efek dari sakit membuat pria kecil itu tidak nyenyak tidur.


"sial,udah jam tujuh aja." gerutunya menatap jam dinding kamarnya. Ia menoleh kearah anaknya,yang baru saja tertidur lelap. Arshal tidak mungkin melanjutkan tidurnya,ia harus bergegas bersiap-siap ke kantornya.


Arshal sedikit pusing ditambah ia hanya sarapan sedikit membuat perut lelaki tampan itu masih keroncongan. Banyak karyawan yang menyapanya,ia pun mengangguk pelan dan tetap berjalan menuju lift.


"tuan,anda baik-baik saja?" tanya Ezra menatap wajah bosnya terlihat pucat. Arshal menggeleng pelan,sambil mengucek matanya lagi.


"huft,kenapa aku merasa lelah sekali." lirihnya sambil bersandar didinding lift sambil menunggu lantai tempat ruangannya.


"Apa anda sebaiknya tidak istirahat dulu?" saran Ezra sedikit iba memandang bosnya. Lagi-lagi Arshal menggeleng pelan,saat pintu lift terbuka ia berjalan keluar,lalu berhenti mendadak membuat Ezra otomatis mengerem cepat sebelum menabrak bosnya.


"ada apa tuan?" tanya Ezra bingung. Arshal berbalik kearah sekretarisnya, "sudah sampai mana penyelidikan itu?" tanya Arshal,Ezra langsung mengecek ponselnya. "maaf tuan,data itu akan segera diproses,mereka katanya ada menemukan sesuatu. Kalau sudah selesai saya akan menyerahkannya pada tuan." jelas Ezra pelan. Arshal mengangguk pelan,sebenarnya ia ingin memprotes kan kinerja yang lambat pencari info itu yang menyelidiki kasus kecelakaan istrinya.


Sudah setahun lebih,tetapi sampai saat ini masih belum membuahkan hasil membuat Arshal mau tak mau harus turun tangan sendiri. Pria itu sudah mempersiapkan rencana diotaknya itu,tinggal menunggu waktu yang tepat. "Ezra,gantikan aku rapat yang siang ini. Aku sedikit lelah." titahnya langsung dianggukan Sekretarisnya itu.


"baik tuan." ucapnya lalu bergegas pergi dari sana menyiapkan laporan yang akan dibawa kedalam raapt nanti.


Rasa pusing yang ia rasakan,semakin menjadi-jadi. Sampai pandangannya melihat seorang wanita yang tengah memandangnya dengan raut khawatir, perlahan-lahan pandangannya mulai redup dan langsung menjatuhkan kepalanya ke bahu wanita itu.


Bruuk.

__ADS_1


"astaga,Tuan Arshal. Anda kenapa??" pekik wanita itu yang tak lain Adara. Ia begitu syok saat mendapati Tuannya pingsan dalam pelukannya.


__ADS_2