
Adara hanya diam berjalan duluan menuju mobil Arshal,memang pria dingin itu langsung menyuruhnya duluan menolak dibantu olehnya pria itu memakai kursi roda. Adara masuk kedalam mobil bagian depan menunggu sang bos dingin itu.
"ya ampun,bagaimana aku bisa menyukai pria dingin itu??" gumam Adara pelan menatap kaca spion.
Sementara pria dingin yang dijuluki Adara tadi,tengah berbincang serius dengan dokter yang menanganinya.
"aku tidak mengerti Arshal." ucap Deon menatap kearah jendela.
"kau kan memang bodoh,makanya nggak ngerti apa-apa." ketus Arshal sambil melempar plastik yang berisi sehelai rambut Adara yang ia dapatkan tadi kearah Deon. Deon spontan menangkap plastik itu.
"ini apa?" tanyanya bingung.
"nggak usah banyak tanya,cepat cari DNA wanita itu." ucapnya to do point. Deon yang kebingungan dengan sahabat abstrudnya ini hanya bisa mengangguk pelan.
"tadi itu Adara kan Shal?,bukankah dia—" gumam Deon menyerngit bingung.
Arshal menggeleng, "entahlah,karena itulah aku menyuruhmu untuk tes DNA nya,aku ingin tau siapa wanita itu."
"maksudmu?" tanya Deon semakin tidak mengerti. Arshal menghela napas pelan, "akan ku kasih tau nanti,saat ini aku masih belum bisa menyimpulkan apa-apa. Kau harus selesaikan tes itu cepat. Oh ya,satu lagi jangan beritahu siapapun tentang hal ini termasuk sekretaris ku." ucap Arshal pelan,ia tidak ingin ada siapapun yang mendengar hal ini.
Deon menaikkan alisnya satu, "wow,kisahmu rumit sekali bro." ucap Deon menepuk pundak Arshal.
Arshal menepis tangan Deon dari pundaknya, "jangan menganggap ku lemah,cih lebih baik aku pergi saja dari sini." ketus Arshal dengan kata-katanya yang seperti silet.
Deon tersenyum miring menatap Arshal yang mendorong kursi roda itu sendiri kearah pintu, "jika memang dia Adara,apa kau akan membawanya pulang?"
Arshal tersenyum remeh kearah Deon, "nggak perlu kau tanya pun aku tetap akan membawanya pulang." ucap Arshal.
"tapi,kau juga harus mencari tau Shal, siapa yang mati waktu itu? Kita tidak tau kronologi ceritanya. Dan juga kedatangan wanita yang mirip sekali dengan istrimu itu,juga menjadi tanda tanya besar. Untuk jaga-jaga kau harus hati-hati." seru Deon sambil membuka pintu ruang kerjanya,Arshal hanya diam sambil keluar. Sepertinya pria itu lagi memikirkan sesuatu yang rumit.
__ADS_1
"pulang dan istirahat bro,jangan kau porsir semua." titah Deon langsung menutup pintu.
Arshal sedikit kesal dengan kursi roda tersebut,ia pun berdiri secara perlahan dan menjaga keseimbangan, "kursi sialan ini memperlambat gerakan ku saja,dan si dokter sialan itu bukannya peka membantu malah menutup pintu ruangannya!!" gerutu Arshal,ia pun berjalan tertatih-tatih menuju mobilnya.
Benar,aku juga tidak akan mempercayai wanita itu,aku akan menemukan semua kebenaran itu sekarang. Tekad Arshal dalam hati. Saat ia berjalan keluar,ia langsung terdiam menatap wanita yang mirip dengan istrinya itu sedang menunggunya. Arshal mendadak sendu menatap Adara yang tampaknya tertidur.
"cih,aku tidak suka suasana ini." kesal Arshal langsung menepis perasaannya,ia pun mengembalikan ekspresi wajahnya kembali datar. Sampailah ia didepan Adara,diamatilah wajah cantik Adara.
"cantik." ucapnya spontan membuat Arshal tersadar dan langsung menutup mulutnya.
Sialan nih mulut,cih aku tidak bisa berlama-lama dekat dengannya atau bisa jadi khilaf. gumam Arshal langsung meminta supir itu pulang terlebih dahulu.
Sang supir mengangguk dan membiarkan tuannya membawa mobil itu sendiri.
"ya ampun si bos saya ditinggal,aduuh pulang pakai apa saya?" bingung sang supir celingak-celinguk disekitarnya.
"selamat datang tuan." ucap Bi Yana terkejut mendapati tuannya sudah pulang siang hari ini. Tidak biasanya tuannya itu pulang secepat ini.
Arshal mengangguk,lalu berjalan ke kamarnya guna menemui Raid cepat. Arshal berjalan pelan sambil mengelus kepala putranya yang sepertinya baru saja tertidur.
"kenapa nak? kau sakit lagi?" tanyanya menatap lekat kearah Raid. Bi Yana langsung menghampiri tuannya, "maaf tuan,tadi tuan muda menangis sekencang-kencangnya,sudah satu jam tidak mau berhenti,tapi saat lima menit tuan mau datang dia langsung terdiam dan terlelap dalam tidurnya." jelas Bi Yana pada Arshal.
Arshal hanya diam dan mengangguk, "Alhamdulillah lah kalau gitu,ya sudah terimakasih bi." ucapnya pelan,Bi Yana mengangguk lalu pamit undur diri.
Arshal yang masih tidak enak badan,langsung menghempaskan badannya ke kasur. Tanpa mengingat sosok wanita yang masih tertidur didalam mobilnya.
***
Adara tersentak bangun dari tidurnya,sambil mengucek matanya pelan memandang sekelilingnya. "astaga aku ketiduran dong,ini di mobil siapa yaa??" tanya Adara bingung,lalu ia melirik kearah rumah yang begitu mewah didepannya. "ya ampun ini dimana??" tanyanya bingung lagi,dengan langkah ragu ia keluar dari mobil dan memandang sekelilingnya. Tampak rumah besar itu keliatan sepi dan hening membuat Adara sedikit ketakutan.
__ADS_1
"ya ampun ini rumah siapa sih???" gerutunya lalu seketika ingat sesuatu. Adara menepuk pelan jidatnya,dan menggeleng pelan. "masyaAllah,aku lupa, sepertinya ini rumahnya tuan Arshal. Aduh kenapa aku ini? lalu kenapa aku ditinggal sendirian tadi???" tanyanya lalu berjalan pelan menuju teras rumah besar itu.
"permisi, assalammualaikum." sapanya sambil mengetuk pintu itu,
"wa'alaikumsalam." ucap seseorang dibalik pintu lalu membukanya.
Praang.
Adara terkejut langsung membantu wanita paruh baya itu menjauh dari serpihan kaca,ia pun dengan cepat mengambil bening kaca itu satu persatu.
"ya ampun nyonya!!" pekiknya menatap Adara syok,Adara menoleh kearah wanita itu yang tak lain adalah Bi Yana.
"maaf buk,saya tidak sengaja." sesal Adara pelan,ia pun membersihkan cepat serpihan kaca tersebut sebelum ada yang terluka.
"nyonya ya tuhan ini benaran nyonya???!" pekiknya tidak percaya menatap Adara. Adara bingung dan tidak tau harus menanggapi seperti apa. Yang jelas,Adara berhasil menyingkirkan bening kaca yang berserakan dilantai tadi.
"maksud ibuk gimana yaaa?" tanya Adara pelan.
Bi Yana bingung dengan sikap Adara, "nyonya tidak kenal saya?" tanya Bi Yana lagi.
"nggak buk,kan saya baru pertama kali kesini." ucap Adara lagi.
"tidak mungkin," ucap Bi Yana pelan menatap Adara tidak percaya.
"ada apa??" tanya seseorang dibelakang membuat Bi Yana dan Adara mendongak kearah pria tampan itu.
"tu-tuan?" ucap Bi Yana pelan,lalu ia melirik kearah Adara yang masih terdiam seperti sapi ompong.
"huft,ikut aku Adara." ucap Arshal lalu berjalan keatas,Adara yang masih terdiam hanya mengikuti tuannya berjalan, "permisi buk." pamitnya sopan sedikit membungkukkan kepalanya saat melewati Bi Yana. Bi Yana malah kelabakan saat Adara melewatinya, " ya ampun,ada apa dengan nyonya?" ucapnya bingung menatap kedua majikannya sudah naik ke atas.
__ADS_1