
Arshal menggerutu kesakitan menahan beban sesorang yang berada diatasnya saat ini. Siapa lagi kalau bukan istrinya.
"ya ampun maafkan saya tuan!" ucap Adara buru-buru berdiri. Arshal memegang bokongnya yang sakit lalu mendongak kearah Adara dengan tatapan tajam.
"ngapain kau manjat seperti maling hah?" sentaknya membuat Adara kelimpungan.
"sa-saya hanya ingin masuk kerumah tuan." jawab Adara gugup.
"kan bisa lewat pintu,karena itulah pintu itu diciptakan. Kenapa ada yang mudah kau harus lewat yang susah?"
"ta-tapi—"
"ah sudahlah," sarkas Arshal,baru saja ia ingin berdiri tulangnya terasa bunyi.
kretek.
Baik Arshal maupun Adara terdiam setelah mendengar suara tulang yang membuat telinga siapapun yang mendengarnya ngilu.
"tuan?" tanya Adara hati-hati. Ia masih ngilu dan merasa bersalah terhadap tuannya.
Arshal memegang pinggangnya,meringis kesakitan. "aduh."
Adara semakin merasa bersalah melihat kondisi tuannya. Ia pun menunduk, "maafkan saya tuan." ucapnya bersalah.
Arshal mendongak menatap wanita itu,bukannya marah tetapi tersenyum tipis. Tidak habis pikir jika istrinya begitu nekat masuk kerumahnya dengan cara ekstrim. Padahal pintu pagar sebesar itu,tetapi istrinya malah nekat memanjat seperti maling.
cih,dia masih sama seperti dulu,terlalu nekat melakukan sesuatu. Huft,mungkin kepalanya aja yang amnesia tetapi sifatnya masih sama. gumam Arshal menatap Adara.
Adara merasa salah tingkah terus dilihat oleh tuannya, "maaf tuan." serunya memecahkan keheningan keduanya. Arshal tersentak dari lamunannya lalu ia kembali menatap Adara.
"bantu saya berdiri." ucapnya pelan,Adara dengan sigap membopong tuannya masuk kedalam rumah sampai kamar. Adara melirik sekilas kearah Raid yang masih tertidur pulas membuat wanita itu tanpa sadar tersenyum menatap bocah kecil dan semua itu tak luput lepas dari pandangan Arshal.
Walaupun kau tidak ingat kami,tapi rasa ikatan denganmu begitu kuat Ra. gumam Arshal dalam hati.
Adara dengan perlahan membantu Arshal duduk dikasur. Ia pun langsung mengambil kotak obat dilemari Arshal tanpa ia sadari. Seolah-olah ia hapal tentang semua letak barang-barang milik pria itu.
__ADS_1
Arshal melirik kearah Adara, "bagaimana kau tau kotak obat disitu?" tanyanya membuat Adara terdiam.
Deg. Benar,bagaimana aku bisa langsung tau kotak obat itu disana? gumam Adara menggenggam kotak obat itu. Rasa penasarannya semakin bertambah,dan perasaan semu ini masih menggerogotinya.
"hmm saya refleks tuan,biasanya saya selalu meletakkan kotak obat itu di lemari saya. Tidak disangkah tuan juga menyimpan disana." jelas Adara tersenyum kikuk.
Arshal menghela napas pelan,lalu ia berbalik badan.
"tuan?" tanya Adara bingung dengan tuannya yang tiba-tiba membelakanginya.
Tanpa banyak bicara,Arshal langsung menyingkap bajunya keatas membuat Adara langsung memalingkan mukanya.
"cepat,apa yang kau tunggu. Bantu aku mengolesi salepnya." titahnya lagi. Adara menghela napas,menggerutu kesal sempat berpikir negatif.
Dengan perlahan ia mengolesi bagian punggung yang terlihat memar itu. Disaat sela-sela aktivitas mereka,seorang bocah bangun dari tidurnya. Ia pun menoleh kearah kedua orang dewasa itu.
"ba-baaa!!" serunya sayup.
Arshal tersenyum sambil mengelus kepala anaknya, "tidur lagi nak,kau masih mengantuk." ucapnya menidurkan anaknya sementara Adara mengoles salep dipunggungnya tesenyum melihat bocah itu.
"sudah?" tanya Arshal membuyar lamunan Adara. Adara tersentak lalu mengangguk pelan, "sudah tuan." ucapnya menutup obat salep itu dan meletakkan di kotak obat.
Arshal langsung beranjak dari tempatnya dan berjalan pelan menuju kamar mandi tanpa menoleh kearah Adara. Adara sekilas melirik kearah Arshal,lalu matanya beralih kearah Raid.
Entah dorongan apa yang membuatnya berani mengelus kepala bocah itu,melihat wajah tampan bocah kecil itu membuat air mata Adara menetes.
Perasaan apa ini?. gumamnya pelan,perasaannya kini terasa ambigu tak menentu. Ia pun melirik kearah pintu kamar mandi memastikan ayah dari bayi ini masih didalam,dengan pelan-pelan Adara memeluk bocah itu dengan perasaan hangat.
Ia begitu nyaman memeluk Raid,aroma bayi terus menyeruak ia hirup. Lama memeluk bayi kecil itu tanpa ia sadari malah tertidur bersama Raid.
Arshal yang sedari mengatur perasaannya,hampir saja ia melahap istrinya. Ia berdiam diri membiarkan air shower membasahi semua tubuhnya. Sudah cukup lama,Arshal langsung menyambar handuk dan keluar dari kamar mandi.
Ia begitu terkejut melihat Adara dan Raid tengah tertidur pulas sambil berpelukan,terlebih Raid terlihat memeluk kearah Adara. Ia dengan cepat memakai baju dan ikut bergabung dengan mereka.
Arshal tidak memperdulikan jika Adara akan marah dengannya karena dianggap mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia pun memeluk Adara dari belakang.
__ADS_1
"aku sangat merindukanmu sayang." ucapnya sambil menghirup aroma rambut istrinya,lalu memejamkan mata ikut bergabung dengan keduanya masuk kedalam mimpi tanpa memperdulikan matahari sudah terbit.
***
Plaaak.
"kerja nggak becus!!" sarkas Leta menampar kembali anak buahnya. Ia begitu kesal dan marah saat mengetahui informasi mengejutkan. Ia mengepal tangannya,dan mengeluarkan umpatannya.
"harusnya aku dulu membunuhnya!" geramnya lagi,namun ada kedua tangan yang memeluk dirinya dari belakang membuat Leta tersentak.
"sayang jangan marah-marah dong,nanti kamu cepat tua." ucap pria itu memeluk Leta erat. Leta menarik napas pelan,berusaha tenang. Ia tidak boleh terlalu gegabah mengambil tindakan apalagi pria tua dibelakangnya ini masih ia butuhkan untuk memisahkan Adara dan Arshal.
"huft,maaf aku terlalu emosi yaa." ucapnya berbalik menatap pria tua yang genit itu. Ia tersenyum nakal sambil memegang pipi pria tua itu.
"kau sangat cantik hari ini." pujinya mencium sekilas bibir Leta.
Damn menjijikkan! sabar Leta kau harus bertahan. umpat Leta dalam hati. Ia harus menyenangkan pria itu agar rencananya berjalan mulus.
"sayang,boleh aku minta sesuatu?" tanya Leta menatap pria itu.
"apa yang kau inginkan, semuanya akan aku kabulkan." ucapnya dengan bangga.
"akuuu mau beli tas branded ini yang." ucapnya manja sambil melihatkan barang yang ingin ia beli.
"okee,nanti kamu pilih sepuasnya. Nih,kartunya." tutur pria itu memberikan kartu legend pada Leta dan langsung menyuruh anak buahnya menemani kekasihnya itu.
"wow,kau sangat baik sekali sayang, terimakasih." ucap Leta sambil mencium pipi pria itu dan melenggang menuju pintu. Sedangkan pria itu menatap punggung kekasihnya lalu berbalik menatap anak buah yang sempat disumpah serapah oleh kekasihnya.
"bagus,kamu sudah bertahan. Aku akan buat wanita itu menderita." geramnya lalu ia mengambil berkas dalam meja lacinya dan menatap semua foto Leta sedang bersama pria lain yang diambil secara diam-diam oleh anak buahnya.
"Leta,kau main-main dibelakangku,tidak akan kubiarkan kau hidup dengan tenang." ucap pria itu dingin lalu ia berjalan menuju pintu.
"oh yaa,awasi wanita yang bernama Adara itu,pastikan dia tidak terancam bahaya. Wanita itu anak dari sahabatku,aku menyesal karena baru mengetahuinya identitasnya setelah kecelakaan yang telah kuperbuat. Ini semua gara-gara wanita ja*****!!" titahnya langsung dianggukan oleh anak buahnya tadi.
"baik tuan,akan saya laksanakan perintah anda." ucapnya lalu ia pamit undur diri.
__ADS_1