
Ara tersenyum miring kearah keponakannya itu. "bagus,kau bangun juga arogan." ledeknya sambil duduk disamping kasur Almo. Almo menghendus kesal menatap kearah tantenya itu.
"sejak kapan kau sudah sadar hah?" tanya Ara.
"apa kau perlu tau?"
"cih,pria arogan satu ini,kau tau kasus mu itu sangat rumit sekarang bodoh. Kak Hazel sampai kehilangan bukti tentang kecelakaan mu." gerutunya mengingat cerita kakak iparnya itu.
"aku tau." ucapnya santai,lalu berusaha untuk duduk. Ara pun membantu pria itu untuk duduk, "haiis pria arogan ini sekarang sudah mulai melemah." ledeknya lagi.
"kalau kau tidak ingin membantu,nggak usah bantu!" ketusnya. Ara terkekeh pelan, "tidak mungkin aku membiarkan orang lemah kesusahan." ledeknya lagi.
"Aleta." ucap Almo membuat kening Ara mengerut, "Aleta? siapa dia?" tanya Ara penasaran. Almo yang sangat dingin mendekati seorang wanita? wow sungguh diluar dugaannya.
"wanita ja**ng itu yang membuatku terbaring disini." geramnya mengingat malam kecelakaan itu.
"kenapa kau bisa bersama dengannya?" tanya Ara penasaran lagi.
Almo memijit kepalanya pelan, "karena Arshal." jawabnya.
"Arshal?"
***
Arshal tersenyum puas menatap istrinya tengah tertidur pulas. Ia pun langsung bergegas membersihkan dirinya. Sudah lama dirinya tidak segar seperti ini,Arshal seperti terlahir kembali. Selesai ia mengenakan pakaiannya,ia pun menghampiri istrinya dan mencium kening istrinya itu. "aku harap kau tidak pergi lagi Ra." lirihnya menggenggam tangan Adara lembut.
Arshal harus giat mencari tau lebih dalam lagi kasus kecelakaan yang hampir merenggut nyawa istrinya. Ia harus mencari cara agar pelaku itu segera ditangkap. Tepat ia berkutat dengan pikirannya,Arshal melirik ponselnya berdering. Ia pun langsung mengangkatnya.
"hallo?"
"ini aku." ucap Almo dari seberang sana.
__ADS_1
"kau sudah sadar?" tanya Arshal terkejut sekaligus lega.
"iya,kau kesini sekarang!" pintanya langsung menutup teleponnya. Arshal menyergit heran, daripada penasaran tidak karuan,ia pun langsung bergegas menuju rumah sakit.
Ezra yang melirik kearah Arshal yang tergesa-gesa keluar, tersenyum smirk saat tahu tuannya akan keluar. Ia melakukan hal gila ini demi merebut kembali apa yang diinginkannya. Sungguh ia tidak rela jika Adara bersama dengan tuannya.
Arshal tergesa-gesa keluar lalu mengemudikan mobilnya melesat keluar dari perusahaannya. Tanpa menyadari jika ada yang merusak mobilnya karena niat jahatnya.
Arshal mengemudikan sambil menelpon Daiyan,saudara kembarnya itu untuk menjaga Raid seminggu kedepan. Ia ingin fokus mencari tau seluk beluk kecelakaan istrinya itu. Ia penasaran siapa perempuan yang meninggal waktu itu?
Ia bahkan menambah kecepatan mobilnya,namun sedetik kemudian ia merasa ada yang janggal. Saat ia menginjak pedal remnya,ia merasakan mobilnya tidak kunjung berhenti. Arshal menginjak pedal remnya lagi namun terasa tidak berfungsi,seolah remnya blong.
"sial,tenang Arshal cari cara!" gumamnya lalu membelokkan mobilnya menuju jalanan yang sepi,tidak ingin membuat yang lainnya celaka,lebih baik dirinya yang celaka.
Ia berusaha tetap tenang dengan menginjakkan pedal setengah kopling bersamaan dengan pedal gas. Ia pun menurunkan gigi mobil,dari gigi empat ke gigi tiga. Perlahan kecepatan mobil berkurang dari kecepatan sebelumnya. Ia berusaha menyimbangkan kopling dan gasnya, berharap dirinya akan baik-baik saja nantinya.
Semoga saja.
***
Ia mondar-mandir dalam ruangannya,berusaha menetralkan emosinya yang sedari meningkat drastis gara-gara perempuan diluar ruangannya saat ini. Yap,Batsyua yang sudah berganti profesi menjadi sekretarisnya,tetapi membuatnya selalu naik darah setiap berdebat dengan wanita itu.
"huft." helaan napasnya kasar duduk dikursi kebesarannya. Setelah merasa ia sudah tenang barulah ia memanggil sekretaris laknatnya itu.
Braaak
Ingin rasanya Daiyan mengumpat keras memasang sekretarisnya itu seenaknya menendang pintu ruangannya. perempuan itu juga tidak menunjukkan etika dan tata Krama yang benar.
"ada apa tuan?" tanyanya tanpa merasa dosa tidak sopan pada bos barunya saat masuk. Walaupun wajah pria didepannya ini mirip dengan bosnya yang lama,tetapi aura pria ini sangatlah berbeda,bisa membuat orang naik darah.
"kau jemput Raid dirumah Arshal." titahnya sambil menandatangani dokumen ditangannya. Batsyua menyergit heran, "tuan muda? ada apa tuan muda sampai dijemput tuan?"
__ADS_1
Daiyan menghela napas, "ya Karna kau yang akan mengasuhnya seminggu kedepan!" pintanya membuat perempuan itu melotot kearahnya.
"nggak bisa!" sentaknya membuat Daiyan menatapnya tajam, "kenapa? kau nggak suka menjaga Raid?"
"bukannya nggak suka,tapi kenapa aku yang menjaganya? kalau kau ada kenapa harus aku??" ucapnya sekarang berbahasa informal.
"memang kau sungguh membuatku trus naik darah batu." gerutunya tersenyum menahan kekesalan mendalam pada wanita itu. Batysua mengedik bahu acuh tak acuh, "aku yakin tuan Arshal menyuruh Anda,bukan saya. Kalau hanya itu yang tuan sampaikan,saya permisi." ucapnya langsung berbalik menuju pintu keluar.
"sekali kau keluar,akan kubuat kau tidak bisa keluar sama sekali Batu!" sentaknya langsung berdiri menghampiri Batsyua.
Batsyua menghela napas lalu berbalik menatap bosnya itu, "namaku Yua,bukan batu." gerutunya. Sedangkan Daiyan terus maju melangkah kearah Batsyua tanpa memperdulikan protes Batsyua. Batsyua menatap awas saat bosnya itu mulai mendekatinya,merasa ada yang tidak beres ia pun siap siaga memegang knop pintu.
"tuan berdiri disana aja!" serunya mencegah tuannya itu mendekat. Ia tidak ingin hal yang aneh terjadi. Daiyan tesenyum seringai saat melihat tatapan awas wanita itu,dirinya semakin gencar mendekati wanita itu.
Batysua yang sudah gelagapan langsung keluar dari ruangan itu cepat.
Braak.
Daiyan terjingkat kaget sambil mengumpat pelan dengan tindakan sekretarisnya itu. Baru saja ia hendak berjalan menuju kursinya kembali, sekretaris sialan itu tanpa berdosa membuka pintu tiba-tiba hingga membuatnya terbentur.
"eh...maaf Daiyan!!" serunya spontan memegang kening kepala bosnya. Daiyan baru sadar jika jarak mereka terlalu dekat, tetapi ia membiarkan tanpa memberitahu wanita itu yang tengah khawatir dengan kening kepalanya.
Batsyua tersadar dengan jaraknya,spontan langsung melangkah mundur. Ia sedikit salah tingkah sambil memegang tengkuknya.
"kenapa kau kembali?" tanya Daiyan memecahkan keheningan diantara mereka. Batsyua menyerngit laku teringat kenapa dia buru-buru datang menghampiri bosnya itu kembali.
"i-itu ada berita buruk tuan!" serunya menatap kearah Daiyan serius. Dahi Daiyan mengerut menunggu penjelasan wanita itu selanjutnya.
"mobil tuan Arshal ditemukan jatuh di jurang!" serunya lagi membuat mata Daiyan membulat sempurna.
"apaa??" tidak percaya dengan apa yang ia dengar,Daiyan tergesa-gesa mengambil ponselnya diatas meja. Ia menelpon saudara kembarnya itu cepat.
__ADS_1
Batsyua dapat melihat raut cemas,ia tahu jika bosnya saat ini tampak khawatir dengannya. Teringat jika bosnya tadi menyuruhnya untuk menjemput Raid,ia pun bergegas keluar dari ruangan Daiyan.
"tuan saya akan jemput Raid dulu!" pamitnya pada Daiyan, sedangkan Daiyan menoleh sekilas pada Batsyua dengan tatapan yang susah diartikan.