I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 12


__ADS_3

Hup


Adara begitu lega sekaligus gugup saat berhasil mendapat Raid yang jatuh dari lantai atas. Raid begitu keras menangis membuat Adara dengan cepat menenangkan bayi comel itu.


"tenang sayang." ucap Adara lembut menepuk pelan punggung Raid yang kini tengah menangis kencang. Adara yakin bayi itu sangat ketakutan dan syok saat jatuh tadi.


"Raiiiid!!" teriak seseorang dengan cepat-cepat menuruni anak tangga,tanpa memperdulikan dirinya hampir saja dirinyatersandung. Ia dengan langkah tergesa-gesa menghampiri Adara.


"hosh...hosh Raiid." lirihnya ketakutan,Adara begitu mempriatin melihat saudara kembar bosnya begitu ketakutan sampai bercucuran keringat dingin. Dapat ia lihat betapa menggigilnya Daiyan.


"Raid,Raid." panggilnya ingin mengambil alih menggendong Raid dari tangan Adara. Adara yang masih belum yakin dengan Daiyan,ia pun memundurkan langkahnya.


"apa yang kau lakukan?!" sentak Daiyan menatap nyalang kearah Adara. Adara terkejut tetapi berusaha menetralkan amarahnya,ia yakin pria ini tidak sengaja membentaknya. Pria didepannya ini masih syok dengan kejadian nyaris menjemput maut si malaikat kecil.


"tenang tuan,anda harus tenang dulu. Atau anda bisa membuat tuan Raid menangis kencang." ucap Adara pelan. Daiyan pun tersadar,lalu menghela napas kasar,sambil memijit keningnya.


"maaf." lirihnya saat sudah merasa lebih tenang. Sekilas Adara dapat melihat sudut mata pria itu tampak mengeluarkan air mata,Adara pun tertegun.


"terimakasih telah menyelamatkan nyawanya,untung kau tadi cepat menyelamatkannya. Kalau tidak,Arshal tidak akan pernah memaafkanku sekalipun." sesalnya pelan.


Tentu saja tuannya itu sangat marah bisa jadi akan terjadi pertikaian atau pemutusan tali persaudaraan jika kejadian tersebut terjadi dan untung saja Adara dengan cepat menangkap Raid.


"hmmm hmmmm hmmmm." ucap Adara lemah lembut membuat bayi itu bergelayut nyaman tertidur nyaman dipangkuan Adara.


Daiyan begitu takjub melihat Adara berhasil menenangkan Raid. Ia pun melirik kearah sekitar mereka ada beberapa orang yang banyak menatap mereka bahkan merekam kejadian tadi. Rahangnya mengeras saat melihat orang yang berani merekam kejadian tadi. Bisa-bisa Arshal dapat melihat semua itu cepat atau lambat gara-gara video itu.


"cepat hapus apa yang kalian rekam atau kalian yang akan berurusan denganku!" titah Daiyan dingin membuat semuanya berdigik ngeri,dengan segera mereka dengan cepat-cepat menghapus video yang sempat mereka rekam tadi.


"pastikan Arshal tidak tau akan hal ini,aku hapal wajah kalian. Jika berani macam-macam denganku siap-siap hidup kalian sengsara!" ancamnya membuat mau tak mau mereka langsung mengangguk ketakutan.


Adara hanya bisa menghela napas,ia pun sedikit ketakutan mendengar ancaman Daiyan. Jika pria itu dingin ia terlihat mirip dengan Arshal. Daiyan langsung menatap Raid dengan lekat lalu melirik kearah Adara.


"aku tidak tau harus balas budi seperti apa,yang jelas aku sangat berterimakasih karena sudah menyelamatkannya. Kau tau dia sangat berharga buat Arshal,aku dengan cerobohnya membiarkan dia bermain didekat situ." tunjuknya mendongak kearah atas.


"oh ya ngomong-ngomong aku belum tau namamu,aku Daiyan." ucap Daiyan sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Adara." ucap Adara sambil membalas uluran tangan Daiyan. Memang saat kejadian Adara pingsan,mereka belum pernah berkenalan satu sama lain.

__ADS_1


eh kalau nggak salah namanya sama seperti mendiang istrinya Arshal lah. gumam Daiyan mengingat-ingat nama istri yang pernah Arshal sebutkan waktu itu.


"tidak apa-apa tuan,ini sebagai pelajaran buat tuan agar kedepannya lebih berhati-hati lagi. Kalau gitu ini saya kembalikan pada tuan." ucap Adara sambil hati-hati memindahkan Raid ke gendongan Daiyan. Namun saat Daiyan menggedongnya, Raid terbangun dan kembali menangis kencang membuat pria itu mengembalikan pada Adara.


"sepertinya dia sangat nyaman denganmu,kau saja yang membawanya ke ruang Arshal." ucap Daiyan,Adara sedikit gugup.


Membawa anak tuan yang ia sukai memanglah kesempatan langkah yang ia dapat,gugup jelas pasti ada. Apalagi jantungnya masih berdebar kencang mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


Adara menyadari sesuatu lalu melirik kearah lantai yang banyak berserakan kertas-kertasnya.


"oh ya ampun,kertasnya berantakan." lirihnya menatap kertas-kertas itu.


Daiyan menyadari tatapan Adara,ia pun langsung berinisiatif memanggil seseorang untuk membantu Adara membereskan semua kertas yang berserakan dilantai itu.


"kau tenang saja,yang ini biar aku urus. Kau bawa saja Raid ke ruangan Arshal sekarang. Disana ada box bayi,kau bisa meletakkannya disitu." titah Daiyan langsung dianggukan oleh Adara.


Adara berjalan pelan menuju ruangan Arshal. Sesekali ia menepuk pelan si kecil agar semakin nyenyak. Batsyua yang sedang kerja dimejanya terkejut mendapati Adara tengah menggendong Raid.


"eh? bagaimana kau bisa bersama tuan muda?" tanya Batsyua terkejut.


"Tapi Ra,tuan Arshal belum datang. Tidak sopan langsung main masuk aja. Ntar kau juga dikira mencuri." ucap Batsyua membuat Adara sejenak berpikir.


"tapi Bu Iva bukannya didalam?" tanya Adara mengingat beliau.


"oh,Bu Iva hanya bentar aja tadi. trus keluar tapi nggak tau kemana." terang Batsyua,Adara mengangguk mengerti.


Adara menghela napas pelan,lalu ia memutuskan untuk menunggu terlebih dahulu tuannya datang. "kalau gitu gimana aku duduk disampingmu Yu. Biar aku sekalian liat-liat kerjamu." serunya langsung dianggukan Batysua.


"okee sinilah." ajaknya langsung mengambil kursi yang lain dan menepuk kursi itu agar menjadi termpat duduk Adara. Adara pun dengan perlahan duduk agar tidak membangunkan Raid. Ia dapatelihat senyuman kecil terbit diwajah bayi yang sedang dalam gendongannya ini.


"tampan sekali dia." ucapnya sambil mengelus pipi tembam Raid. Batsyua melirik kearah Raid,ia pun ikut tersenyum. "kau benar,tapi ngomong-ngomong Raid seperti mirip denganmu." ucap Batsyua membuat Adara menoleh kearahnya.


"hah? mirip darimananya?" tanya Adara bingung.


Masa iyaa bayi mungil yang tampan ini mirip denganku? tidak mungkin,ini mah lebih mirip ke bapaknya. gumam Adara dalam hati.


***

__ADS_1


Arshal menunggu sekretarisnya menjemputnya saat ini dibandara. Ia memainkan ponselnya sambil menunggu Ezra datang. Tak lama kemudian,Ezra berlari kecil menghampirinya.


"maaf tuan,tadi macet."


Arshal mengangguk, "hm." Ezra dengan sigap mengambil alih koper tuannya dan membawanya ke mobil. Arshal duduk dikursi penumpang sambil melihat jadwalnya di ponselnya.


"jadwalku cukup padat juga ternyata." gumam Arshal lalu melirik kearah jalanan yang mereka lewati saat ini.


"bagaimana Raid?" tanya Arshal pelan kearah Ezra yang tengah mengemudikan mobilnya.


"aman tuan,ia bersama tuan Daiyan saat ini." terangnya lalu Arshal mengangguk pelan.


"tuan tidak ingin pulang dulu?" tanya Ezra menatap Arshal dari kaca spion tengah.


"nggak,antar aku langsung ke kantor." titahnya langsung dianggukan Ezra.


Sampailah mereka diperusahaan Arshal. Kedatangan Arshal membuat semua karyawan terbirit-birit membereskan barang-barang yang tampak berserakan, data-data yang harus dilaporkan,dan masih banyak lagi yang membuat mereka lalu lalang dengan panik. Saat Arshal mulai berjalan kearah lobi. Langkah sepatu pria itu terdengar horor dan suasana yang tadinya cerah seperti pelangi kini mulai suram seperti mendung.


Banyak karyawannya menelan salivanya saat berpapasan dengan Arshal. Arshal yang acuh tak acuh,ia pun langsung menaiki lift pribadinya.


"astaga!!" kejut Daiyan saat mendapati Arshal sudah didepan matanya. Arshal menyerngit aneh menatap saudara kembarnya, "kenapa kau melihatku seperti panik gitu?" tanya Arshal tajam. Daiyan bercucuran keringat dingin berusaha menetralkan gugupnya.


"ka-kau sudah pulang ternyata yaa." ucapnya kikuk sambil menggaruk tengkuknya tidak gatal,Arshal menghela napas pelan lalu berjalan mendahului Daiyan.


"dimana Raid?" tanya Arshal menyelidik,


"diruangmu Arshal." ucap Daiyan lagi. Arshal lagi-lagi menatap heran kearah Daiyan,pasalnya Daiyan tampak menggeretek dan banyak mengeluarkan keringat. Ia terlihat seperti melakukan kesalahan besar.


"kau kenapa?" tanya Arshal.


"tidak ada." ucap Daiyan bohong.


"kau tampak mencurigakan,"


"jangan menuduhku seperti itu,itu hanya perasaanmu saja Shal,ya udah aku pergi yaa."


Thanks Adara kau menyelamatkanku dari amukan Arshal. seru Daiyan dalam hati sambil berjalan ke dalam lift.

__ADS_1


__ADS_2