I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 40


__ADS_3

Ezra menyerngit sekaligus bingung harus mengeskpresikan perasaanya seperti apa. Disisi lain ia sangat menghormati bosnya yang selama ini sudah membantunya dari kepurukan namun disisi lain ia mencintai gadis yang sedang dipacari bosnya itu. Lalu apa yang harus ia lakukan? apa ia harus percaya dengan wanita ini?


"kenapa kau diam? apa kau tidak percaya?"


Ezra menatap wanita didepannya itu, "apa kau ada bukti? lagian tuan Arshal tidak akan mencintai orang lain selain istrinya." tanyanya serius. Leta tertawa pelan dan mengangguk, "kau bisa liat sendiri di kantor besok. Kau kan sekretarisnya jadi kau bisa melihat keseharian bosmu. Kalau aku benar,kau bisa menghubungi nomorku yang ada dikartu kemarin." ucap Leta berdiri dari tempat duduknya.


"oh ya,aku ini tunangan tuan Arshalmu itu. Aku tidak ingin calon suamiku ada hubungan dengan adikku,kau mau kan membantuku Ezra?" ucap Leta memohon. Ezra tampak terdiam mencerna semua yang diucapkan Leta. Cukup terkejut dengan pernyataan jika bosnya itu sekarang sudah memiliki tunangan.


"aku tunggu telpon darimu Ezra." lanjutnya berlalu meninggalkan pria itu yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


***


"kak Beyza." panggil Hazel memegang berkas data yang hasil pemeriksaan DNA kecelakaan itu. Beyza melirik kearah putranya yang masih terbaring koma lalu memandang kearah Hazel—adik iparnya.


"apa kau sudah menemukan sesuatu?" tanya Beyza penasaran. Sedangkan Hazel menggeleng pelan, "aku tidak menemukan apapun,ini aneh." gusar Hazel memijat kepalanya. Selama ia menjadi pengacara, baru kali ini kasusnya lebih berat dibandingkan dengan kasus pembunuhan suaminya dulu yang sempat ia pecahkan. Kasusnya kali ini tampak lebih rapi dan tidak meninggalkan jejak sedikit pun.


"maksudmu?" tanya Beyza tak mengerti.


"aku tidak tau harus berkata apa kak,tapi kasus kali sangat susah dipecahkan. Aku sendiri terkejut dengan bukti itu tiba-tiba hilang dan juga tes DNA..."


"ada apa dengan tes DNA?" tanya Beyza bingung.


"dokter yang menangani pemeriksaan DNA ditemukan tewas didalam Labor saat tengah malam dan tes itu menghilang seperti tertelan bumi."


"apa?? lalu apa kau sudah mengecek cctv rumah sakit?" Kepala Beyza rasanya pusing sekali,ia begitu marah dengan pelaku yang menyebabkan anaknya terbaring koma disini.


Hazel menggeleng, "percuma,cctv itu sudah dihapus."


Beyza menghela napas sejenak,"dimana Muaz?" tanya Beyza lagi menatap adik iparnya.


"kenapa kau mencariku kak?" tanya Muaz yang baru saja masuk kedalam ruangan Almero. Ia langsung berjalan menuju kakaknya.

__ADS_1


"apa kita ada punya dendam dengan orang lain?" tanya Beyza membuat Hazel dan Muaz mengerut keningnya.


"maksud kakak?" tanya Muaz lagi,Beyza sekilas melirik kearah Almero lalu melirik kearah Hazel dan Muaz.


"huft,ini kecelakaan yang disengaja. Aku tidak tau kenapa Almo bersama wanita asing itu,dan juga sepertinya wanita itu sangat hati-hati,kita harus waspada." jelas Beyza.


"iyaa,bahkan bukti ikat rambut kemarin pun hilang,sepertinya mereka waspada sekali." gumam Hazel kesal.


"suamiku yang akan menyelidiki wanita itu." ucap Beyza segera menelpon suaminya yang ada diluar kota. Memang Iram datang kemarin,namun karena ada suatu masalah besar di perusahaannya mau tak mau ia terpaksa harus turun tangan.


***


"untuk apa kita kesini Arshal?" tanya Adara melirik villa besar ditengah sawah itu. Sangat cocok sekali melihat pemandangan bagus dari sana. Rasa lelah setelah berjam-jam menempuh perjalanan yang jauh langsung sirna seketika.


Arshal tidak menjawab,ia malah berjalan masuk kedalam villa tanpa menunggu istrinya. Adara berdecak kesal segera menyusul suaminya yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam villa itu. Baru saja ia menginjakkan kakinya didalam villa itu, tiba-tiba terlintas dibenaknya gambaran semu. Sekilas ia samar-samar merasakan pernah berada divilla ini sebelumnya.


Adara berjalan pelan sambil melirik satu persatu perabotan yang ada disana.


Ia pun berjalan mendekati figuran besar itu,matanya berkaca-kaca memandang foto itu, "kenapa aku tidak ingat siapa diriku sebenarnya?" lirihnya kesal tidak mengingat apapun. Tanpa sadar Adara menyenggol barang yang ada diatas nakas dengan sigap Adara langsung menangkap benda itu.


"fyuuh hampir saja." ucapnya lega memegang benda itu. Matanya menyipit memandang benda yang dipegangnya,sebuah kalimba akrilik yang sangat cantik.


Jarinya pun dengan iseng menekan salah satu not kalimba itu. Dirinya tersenyum memandang benda itu dan duduk dipinggir kasur seraya mengusap pelan kalimba yang cantik itu. Tampak Adara ingin sekali memainkan musik menggunakan kalimba,ia pun sempat melirik sekilas kearah pintu kamar.


"hmm dia ada dimana ya?" gumamnya lagi,iapun mengedik bahu lalu mengangguk pelan, "Arshal aku pinjam alat musikmu yaa." bisiknya pelan sambil tertawa kecil.


Jarinya mulai memainkan kalimba itu,menikmati alunan musik yang mulai menggema seluruh ruangan. Adara terkejut jarinya begitu mahir menggunakan alat itu padahal dirinya baru pertama kali memegang kalimba.


Sedangkan Arshal yang baru saja selesai memasak makanan mereka,terkejut mendengar alunan musik yang sudah lama ia tidak dengar. Dengan perasaan menggebu ia berlari menuju arah suara musik itu berasal.


Adara terus memainkan musik itu lalu terlintas ucapan seseorang dibenaknya.

__ADS_1


Kau sangat buruk memainkan lagu itu.


Deg. Tanpa Adara sadari ia melempar kalimba itu kearah kasur,dirinya terus dihantui dengan kata-kata yang lain.


Kau ini sangat menyebalkan sekali.


Siapa sih dia?!. gerutu Adara dalam hatinya.


Huft,ini semua salahmu,kau membuat kita terjebak dalam pernikahan konyol ini.


Dahi Adara mengerut,ucapan orang itu begitu menjengkelkan. Tidak ada kata-kata yang bagus ia ingat dari suara semu yang terlintas dipikirannya itu.


Kau menyebalkan tetapi aku mencintaimu. Kau ini terbuat dari apasih?!


Adara menghela napas memejamkan matanya,rasanya ingin mengutuk pria brengsek itu. Ingatan menyebalkan itu membuat moodnya langsung buruk seketika.


"Adara!" seru Arshal berlari menghampiri istrinya. Adara mengerut menatap kearah Arshal yang kebingungan menatapnya. "kau tidak apa-apa kan?" tanya Arshal pelan. Sekilas ia melirik kalimba yang tergeletak diatas kasur.


"kalau tidak ingat,tidak perlu dipaksa sayang." ucap Arshal tidak ingin Adara memaksa mengingat kenangan mereka. Ia tidak ingin membuat Adara tertekan,biarlah waktu yang mengingatkan Adara tentang dirinya.


Mata Adara menyorot tajam kearah pria didepannya itu. Yah,suara semu yang terlintas dibenaknya sangat mirip dengan suara pria didepannya ini. Adara menghendus kesal.


"kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Arshal sedikit merinding dengan tatapan istrinya. Adara bangkit dari tempatnya lalu berjalan mendekati Arshal. Arshal yang sedikit kebingungan sekaligus gugup saat istrinya mendekat membuatnya spontan melangkah mundur kebelakang. Adara terus masuk dan membuat Arshal semakin terpojok menabrak dinding. Arshal menelan saliva saat melihat istrinya menunjukkan aura mencengkam.


Adara langsung meletakkan tangannya disamping Arshal, menghadang pria itu kabur darinya. "a-ada apa sebenarnya Ra? apa kau baik-baik sa-saja?" tanya Arshal gugup. Sumpah demi apapun,ia tidak pernah segugup ini berhadapan dengan istrinya,apalagi dengan jarak sedekat ini.


Ada apa dengannya? kenapa tiba-tiba seperti ini? gumam Arshal heran dalam hatinya.


"kau menyebalkan sekali!!" gerutunya kesal membuat Arshal melongo kearahnya. "hah? maksudnya?"


"haiiss kau itu,kenangan yang terlintas di pikiranku sama sekali tidak ada yang bagus kalau bersangkut paut denganmu,kau bilang aku menyebalkan lah,aku sangat buruk memainkan lagu lah,trus kau bilang mencintaiku tapi kau mengataiku terbuat dari apa? kau pikir aku ini barang apa???" ocehnya panjang lebar membuat Arshal lagi-lagi pria itu memasang tampang seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa arah pembicaraan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2