
Daiyan menatap serius kearah jendela ruangannya. Ia pun langsung bergegas mengambil kunci mobilnya dan berjalan kearah luar. Daiyan langsung melajukan mobilnya menuju suatu tempat. Tak lupa ia menghubungi keluarga tentang keadaan Arshal.
Sementara Adara terbangun dari tidurnya menatap sekeliling mencari sosok yang membuatnya terkapar dikasur ini. Adara perlahan-lahan beranjak dari kasurnya sambil memungut pakaiannya yang berantakan di lantai dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia merasa heran menatap seisi ruangan tidak menemukan suaminya ada disini,setelah menyisir rambutnya ia pun bergegas keluar dari kamar pribadi Arshal.
"kemana dia?" tanya Adara bingung,lalu ia melirik kearah pintu luar mendengar suara samar-samar seseorang. Ia pun mendekati secara perlahan untuk mendengar lebih jelas suara itu.
"bagus,dia udah tewas. Saatnya sekarang mendapatkan Adara." serunya pelan tanpa ia sadari jika Adara mendengar ucapan yang ia lontarkan barusan.
Deg. Mata Adara membulat sempurna,ia langsung refleks menutup mulutnya agar tidak berteriak. Walaupun tidak melihat wajah pria itu tetapi ia sangat mengenal suara ini,suara sahabatnya.
Ezra kenapa kau??. gumamnya dalam hati. Tidak ingin semakin membuat runyam masalah,ia pun celingak-celinguk mencari ponselnya. Ia tersenyum lega saat melihat ponselnya tergeletak diatas meja kerja Arshal dengan segera ia menghubungi suaminya itu.
Ia masih belum percaya dengan apa yang ia dengar tadi. "ayo Arshal,angkat telpon mu,jangan membuatku cemas." ucapnya cemas. Ia begitu ketakutan jika memang yang dikatakan Ezra tadi.
Sial. umpat Adara dengan segera ia berjalan menuju pintu. Tetapi,sebelum ia membuka pintu,ia berusaha untuk tidak panik dan bersikap biasa saja agar Ezra tidak merasa curiga padanya. Adara menarik napas pelan walaupun tangannya terasa menggigil memegang gagang pintu.
"tenang Adara,tenang. Ayo kita cari tau dulu. Jangan percaya omongan brengsek itu." gumamnya seraya memberikan semangatnya untuk mempercayai jika Arshal masih hidup. Adara membuka pintu itu dan membuat Ezra yang berdiri tak jauh dari sana langsung menoleh kearahnya.
Aku muak dengan wajah polosmu Ez. Adara berusaha memasang eskpresi biasa saja dan tersenyum terpaksa pada Ezra. Ezra dengan semangat menemui kekasih hatinya itu, "Adara,kau darimana saja?" tanyanya pelan.
"oh,aku tadi dari ruang kerja tuan Arshal,nyusun dokumen yang berantakan. Ngomong-ngomong tuan Arshal ada dimana? aku harus menyerahkan dokumen yang aku susun tadi." serunya sekedar basa-basi.
Syukurlah,dia tidak melakukan lebih dari yang aku lihat tadi. Cih,aku tidak rela bibirmu disentuh oleh pria itu Adara. Kau milikku.
"aku tidak tau,tadi dia buru-buru keluar." jawabnya acuh tak acuh. Adara hanya mengangguk pelan,lalu pamit menuju ruangannya. Tetapi,saat Adara hendak melangkah,Ezra menahan tangannya.
"hmm Adara." panggilnya membuat siempunya nama menoleh. Adara berusaha menetralkan rasa takut yang menjalar ditubuhnya.
"ya?"
"apa nanti malam kau kosong?" tanyanya menatap lekat kearah Adara. Adara tampak berpikir,disisi lain ia masih mencemaskan keadaan suaminya yang masih belum jelas itu. Ia yakin dalam hatinya bahwa suaminya itu masih hidup dan tidak ingin mempercayai apa yang dikatakan Ezra tadi sebelum bukti itu ada dihadapannya.
"hmm aku harus ngurus pajak rumah,memangnya kenapa?" tanya Adara lagi.
"oo gitu yaa,kalau malam besok gimana?" tanyanya lagi penuh harap.
__ADS_1
"boleh." jawab Adara. Ezra tersenyum hangat lalu membiarkan wanita yang ia sukai itu berjalan menuju ruangan wanita itu.
Adara merasa sesak napas, tubuhnya seketika menggigil. Ia bersyukur bisa melewati Ezra dengan mudah. Adara menepuk pipinya pelan agar tetap bangkit dan tidak lemah,suaminya membutuhkannya saat ini.
Aku harus bertanya pada siapa? gumamnya. Lalu ia teringat adik iparnya itu,dengan segera ia menghubungi Daiyan.
"ck,kenapa nomornya sibuk?" gerutunya menghela napas kasar.
***
"ck,kenapa kau mengheningkan cipta disini hah?" gerutu Daiyan menatap pria yang sedang duduk disamping pohon. Arshal menoleh sekilas kearah Daiyan sambil terkekeh pelan.
"untung selamat." ucapnya langsung duduk disamping kakaknya itu. Arshal berdecak pelan tidak menanggapi ocehan Daiyan.
"siapa yang melakukan ini padamu Shal?" tanya Daiyan membuka topik.
"siapa lagi kalau bukan sekretaris ku." sahut Arshal santai. Sedangkan Daiyan terkejut, "apa? sekretaris mu? kok bis—"
"iya bisalah bodoh. Tentu saja dia melakukan itu karena ingin mendapatkan istriku." sela Arshal.
"hah? tunggu...tunggu,dia menyukai kakak ipar?!" Arshal mengangguk.
Arshal sejenak hening, " sejak pertama bertemu Adara."
"lalu kenapa kau diam saja bodoh? lihat apa yang dia lakukan, dia saja berani membuatmu hampir celaka. Kau tau,kau dikabarkan mati bodoh,kenapa kau melakukan itu?" gerutunya.
"kalau aku masih selamat,kau tau sendiri kan orang jahat bakalan seperti apa,dia pasti akan merencanakan lebih dari ini. Aku tidak ingin membuat resiko yang bisa membuat Adara dan Raid dalam celaka."
"tapi biasanya kau menitipkan Raid padanya."
"itu sebelum dia nampak aku sama Adara bersama. Dia sebenarnya baik cuma dia terlalu obsesi dengan istriku. Mereka bersahabat." jelas Arshal pelan. Ia tidak terlalu peduli dengan keberadaan Ezra waktu itu,padahal mereka satu kampus. Ia lebih tertutup dan tidak ingin diganggu oleh siapapun. Mengingat masa kuliahnya membuat ia teringat bagaimana ia bertemu dengan Adara.
Pertemuannya yang pernah membuatnya syok dan tidak bisa berkata-kata. Awalnya istrinya itu berlari kencang melewati kosnya,entah mengapa ia malah menyuruh wanita itu masuk kedalam kosnya untuk bersembunyi dari pada rentenir yang mengejarnya.
Siapa sangka,hal itu membuat yang membuat warga disekitar kosnya salah paham. Dan membuat mereka berakhir dalam ikatan pernikahan. Pernikahan mereka awalnya tidak didasari cinta apalagi sempat keblalasan sehingga Adara hamil. Ia baru mencintai Adara setelah wanita itu memasuki usia kehamilan lima bulan.
"hei kau melamun!!" sentaknya membuat Arshal tersadar drai lamunannya. Arshal menatap tajam kearah Daiyan, "cih,kau menganggu saja."
__ADS_1
"emangnya aku melakukan apa hah? kau itu melamun apa sih?" gerutunya kesal disalahkan.
"nggak ada." ketusnya beranjak dari tempatnya. Daiyan yang melihat Arshal berdiri ia pun langsung berdiri disamping Arshal.
"selanjutnya apa rencana kau?" tanya Daiyan.
"kita temui Almo dulu."
***
Almo menatap jengah kearah dua manusia yang baru saja tiba diruangannya. Berita mobil Arshal sudah menyebar luas didalam keluarganya.
"oh belum mati ya?" tanya Almo menatap remeh kearah Arshal. Arshal mencebik kesal tidak menghiraukan ocehan almo, ia langsung duduk disamping tantenya itu. "kak,kenapa dia bisa sadar dari koma?"
"dia sebenarnya nggak koma." ketus Ara menatap kesal kearah Almo. Sejak daritadi kedua orang itu bersiteru berdebat tak henti sampai Arshal dan Daiyan datang.
"baguslah kau masih hidup Arshal,aku baru saja ingin mengabari kak Hazel." lanjutnya.
"cepatlah langsung ke intinya saja. Ngapain kau manggil aku kesini?" tanya Arshal langsung to do point.
"oh itu,kau tau Leta kan?"
Mata Arshal menatap curiga kearah Almo. Menunggu pria itu menjelaskan lebih lanjut. "dia yang menyebabkan kecelakaan yang kualami, aku bersamanya kemarin. Dan kau tau kenapa bukti itu menghilang semua?"
"hah bukti itu menghilang?" tanya Arshal terkejut. Pasalnya ia baru mengetahui hal itu. Almo mengangguk, "berhati-hati lah pada Wilson,Bram,dan Theo. Aku dengar dari mata-mataku yang mengawasi mereka itu adalah pacar gelap Leta. Kemampuan mereka tidak diragukan lagi,dan Leta memanfaatkan mereka tanpa mereka sadari." jelas Almo panjang lebar.
"pantas saja saat aku bertemu dengan Wilson,dia terlihat gelisah menatapku."
"iyalah jelas,dia kok yang menyebabkan kecelakaan istrimu itu."
"ck,kau bahkan tau juga aku sudah punya istri." kesal Arshal. Almo itu seolah-olah mengetahui semua tentangnya.
Ara begitu terkejut mendengar fakta barusan, "eh! kenapa kau tidak memberitahu kami Arshal?!"
"karena pernikahan ku masih rahasia. Tenang saja,sudah dapat restu kok dari mama papa." serunya menyungging senyum lebarnya itu.
"dasar keponakan kurang ajar." gerutu Ara.
__ADS_1
"jadi apa yang akan kau lakukan?" tanya Almo kembali ke topik awal. Arshal tersenyum seringai, "kita akan buat mereka mendekam di penjara."