
Setelah beberapa hari Adara dirawat dirumah sakit,akhirnya bisa pulang kerumah. Adara begitu semangat berjalan menuju mobil membuat Arshal sedikit kesusahan menyeimbangkan langkahnya dengan istrinya itu sedangkan dirinya harus membawa barang-barang milik Adara.
"Arshal,ayo cepatan!" serunya melambai-lambai tangan pada Arshal yang masih jauh berjalan kearahnya.
"ya ampun,dia terlalu bersemangat sekali." gumamnya menggeleng heran melihat tingkah istrinya. Tetapi,ia senang senyuman indah kembali diwajah cantik istrinya.
"ba-baa!!" seru bocah yang kini ada digendongan Ara. Ara berjalan menghampiri mereka.
"Raid sayaaang!!" seru Adara menyambut anaknya,tak lupa ia mengecup semua wajah putranya yang comel itu. Bahkan air matanya kini kembali turun membasahi pipinya,mengingat bagaimana putranya selama setahun ini tanpa dirinya.
"maafkan mama ya sayang,ini mama nak." ucapnya lirih menatap putra kecilnya. Raid tampak tersenyum senang dan betah dalam dekapan mamanya.
"mam-maa!" celoteh si kecil membuat Adara terkekeh pelan. Sedangkan Ara dan Arshal tersenyum tipis memandang anak dan ibu itu.
Ara mendekati Arshal, "apa kau tadi melihat Almo?" tanyanya langsung membuat Arshal menoleh.
"kami baru ketemu kemarin,kenapa emangnya?"
"ck,dia menghilang lagi. Kali ini dia kemana sih?!" gerutu Ara menggeleng-geleng kepala melihat keponakannya yang satu itu. Baru saja keluar dari rumah sakit,malah keluyuran tidak jelas diluar sana.
"aku pergi yaa,jaga istri sama keponakanku!" serunya melenggang masuk kedalam mobilnya. Lalu melajukan kesuatu tempat mencari Almero.
Orang yang dicari oleh Ara kini menikmati udara segar dipinggir sungai menatap langit yang mulai mendung. Terdengar suara langkah kaki mendekati kearahnya,membuat Almero menoleh kearahnya sekilas.
"kurang kerjaan kali." gerutunya kesal memandang Almero duduk santai,sementara ia harus susah payah mencari lokasi keberadaanya.
"aku tidak menyuruhmu mencari bukan kak,kenapa kau mencariku?" tanya Almero menatap Ara yang masih berdiri menatapnya.
"huft,kau itu masih sakit Almo. Harusnya kau duduk berdiam didalam rumah,jangan berkeliaran kayak tikus!" kesalnya duduk disamping Almero.
Almero terkekeh pelan,lalu bersandar dipundak Ara membuat gadis itu terkejut dengan tindakan keponakannya.
"kenapa kau tiba-tiba manja gini?" tanya Ara heran. Almero mengedik bahu,membiarkan kepalanya tetap bersandar dipundak gadis itu.
"kak,kita kan nggak ada hubungan darah kan?" tanya Almero menatap Ara,membuat Ara menyerngit bingung.
"kenapa? apa kau tidak suka dengan hal itu?" tanya Ara sedikit tersinggung. Memang benar,Ara adalah anak dari Bahar dan Liam.
__ADS_1
Mengingat bagaimana ayahnya dulu melakukan kejahatan pada keluarga itu membuatnya merasa tidak layak dilahirkan ke dunia ini. Mau membencu atau tidak pada sang ayah,sekarang tidak ada gunanya lagi. Walaupun begitu,mereka semua menyayangi seperti keluarga sendiri. Tetapi,tetap saja bagi Ara semua ini masih ada pembatas antara keluarga itu.
"kak,kau hanya terhubung darah dengan om Muaz sedangkan dengan mama kau tidak ada hubungan darah kan?" tanya Almero membuat Ara kesal.
"emang kenapa?! oh aku tau,kau pasti ingin mengejekku bukan?"
"buahahaha,untuk apa aku mengejekmu kak. Tidak ada guna sama sekali." ucap Almero lalu duduk berhadapan dengan Ara.
"jawab dulu pertanyaanku." ucapnya datar memandang Ara lekat.
"kenapa pertanyaan itu sangat penting untukmu hah?"
"karena aku ingin memastikan semua itu."
"kau kan bisa mencari dataku tanpa aku kasih tau."
"nggak asyik,aku ingin mendengar dari mulutmu Ara."
Ara menghela napas,apa lagi yang diminta Almo?. Ara mengangguk membuat Almero tersenyum tipis. Pria itu menggenggam tangan Ara membuat gadis itu terhenyak menatapnya.
"aku mencintaimu Ara, ayok kita menikah!"
***
Daiyan menyerngit sekaligus heran menatap sepupunya bertengger diapartemennya. Bukannya mengajak mengobrol melainkan berdiam diri duduk disofa sambil menikmati alkohol ditangannya.
"kau kenapa?"
Almero menggeleng sambil tersenyum aneh, "apa aku kurang tampan?" tanyanya Abstrud membuat Daiyan bingung.
"apa aku perlu lempar kau ke rumah sakit jiwa? kau ini kenapa sih?!" gerutu Daiyan kesal.
Almero hanya diam tanpa menanggapi ocehan Daiyan membuat pria itu duduk disamping Almero.
"hei bro,kau tidak biasanya seperti ini Al,ada apa? kau ada masalah?" tanya Daiyan pelan. Benar, tidak biasanya Almero diam tanpa mencelanya. Biasanya pria itu nomor satu soal mengejek,tetapi kini umpatan pun tidak ada keluar dari mulutnya.
"apa aku salah menyukai seseorang?" tanya Almero lirih membuat Daiyan menatapnya tidak percaya. Daiyan bahkan menepuk punggung Almero keras, "gilaa, akhirnya kau menyukai gadis juga!! aku kira kau belok!"
__ADS_1
"brengsek!" umpat Almero kesal,bukannya membantu meringankan masalah malah diledek.
"hehehe,maaf bro. Katakan,siapa gadis yang berhasil merebut hati es kau itu?"
"kau mengenalnya." jawab Almero singkat.
Daiyan menyergit, "aku mengenalnya?" gumamnya pelan mengingat berapa banyak gadis yang ia temui dan ingat. Mendadak kepalanya tertuju pada satu nama yang membuatnya takut dan bingung untuk menebak nama itu pada Almero.
Bukan dia kan? gumam Daiyan berpikir keras.
"siapa?" tanya Daiyan dengan perasaannya yang tidak karuan. Ia berharap bukan nama orang itu yang tersebut nanti. Almero menatapnya sekilas lalu memandang kosong kedepan.
Please jangan Yua...jangan Yua,aku mohon Al,biarkan dia untukku.
"Ara." jawab Almero membuat Daiyan mengorek telinganya berkali-kali memastikan apa yang ia dengar kali ini benar dan dirinya tidak tuli. Ia terdiam sejenak memandang mata Almero,jika pria itu mengatakan dengan serius.
"Al,kau jangan buat aku jantungan. Ara? maksudmu kak Ara?!" tebak Daiyan tidak percaya langsung dianggukan Almero.
Daiyan langsung berdiri, mondar-mandir mengusap wajahnya kasar. "nggak mungkin...nggak mungkin,kak Ara? yang benar saja Al?! kak Ara kan..."
"kak Ara tidak ada hubungan darah denganku,tetapi denganmu ada." sela Almero mengambil kertas dan pena diatas meja.
Ia pun mengambar silsilah keluarga mereka yang nano-nano itu. "lihat,sebelah sini itu adalah kakek dan nenek kandungku lahirlah mama,setelah nenekku meninggal, nenek Bahar menikah dengan kakek,lalu lahir om Muaz." jelasnya.
"trus kakek dibunuh,lalu pria bengis itu menikah dengan nenek Bahar,lalu lahirlah kak Ara."
"mama dan papaku menikah lahirlah aku,Tante Hazel dan om Muaz nikah,lahirlah kalian berdua. Jadi intinya aku dan kak Ara tidak ada hubungan darah sedikit pun,dan dia bisa aku nikahi." ucap Almero panjang lebar membuat Daiyan mendengar celoteh pria itu sedikit kebingungan.
Berusaha memahami maksud pria itu secara perlahan,dan akhirnya ia mengerti dengan maksud Almero. Sontak ia tertawa terpingkal-pingkal membuat mood Almero kembali badmood.
"kau mau ku hajar hah?!" sentak Almero menatap tajam kearah Daiyan. Daiyan yang masih tergelak tadi langsung terdiam dan berdeham pelan.
"ah,bukan itu maksudku. Ya ampun Al,diantara banyaknya wanita bertebaran didunia ini,kenapa kau bisa jatuh cinta pada kak Ara??" tanya Daiyan merasa aneh dengan hubungan itu. Walaupun tidak ada hubungan darah,tetap saja terasa aneh.
"jadi kau tadi melamarnya lalu ditolak?" tebak Daiyan langsung dianggukan Almero.
Daiyan terkekeh, "jelaslah kak Ara nolak,kita dari kecil selalu bersama,pasti tidak akan mungkin salah satu darinya menikah dengan orang yang satu circlenya. Itu juga berlaku untuk kak Ara,Al." ucapnya lagi.
__ADS_1