
Daiyan menggeleng-geleng pelan melihat Arshal. Setelah selesai dengan tugasnya,Arshal langsung menyeret Daiyan keluar dari ruangannya.
"Ezra,jaga Raid. Aku ada urusan dengan bocah ini!" seru Arshal sambil menarik paksa lengan Daiyan. Ezra hanya menghela napas sambil mengangguk melaksanakan perintah tuannya. Ia pun melirik sekretaris bosnya yang satu lagi dengan tatapan iba.
Batsyua hanya mengedik bahu seolah tidak peduli apa yang terjadi didepan matanya. Cukup mereka saja yang mengurusi masalah sendiri.
***
Adara dengan bersenandung riang membawa makanan yang sudah ia bawa kedalam ruangan Bu Iva.
"permisi Bu,ini makanannya." ucap Adara sambil meletakkan makanannya di atas meja. Bu Iva tersenyum tipis, "terimakasih." Ucap Bu Iva sekilas. Tampak Bu Iva terlihat gusar dengan laporan yang dikerjakannya membuat Adara ingin membantunya.
"Bu Iva ada yang bisa saya bantu?" tanya Adara pelan.
Bu Iva mendongak kearah Adara, "hmm kalau boleh,bisa tolong fotokopikan laporan ini? saya membutuhkan dua rangkap." ucap Bu Iva langsung dianggukan oleh Adara. Adara dengan semangat langsung melesat melaksanakan tugas pertama yang diberikan Bu Iva. Walau baru sekedar memfotokopi tetapi wanita itu dengan lapang dada melaksanakan tugasnya.
Adara berjalan menuju tempat biasanya para karyawan memfotokopi berkas-berkas mereka.
"ish kau ini ngapain aku diseret kayak kambing woi!" gerutu seseorang membuat Adara menoleh kearah sumber suara tersebut.
Deg. Adara tertegun melihat wajah tampan pria yang menyeret pria yang hampir mirip dengan pria itu. Adara penasaran mengikuti para pria itu diam-diam.
"kau mau kemana?" tanya seseorang membuat Adara terkejut lalu menoleh kebelakang. Orang itu terkejut menatap Adara, "Adara!!" serunya membuat Adara seketika ingat dengan wajah orang didepannya.
"Batsyua?? kau disini??" serunya saat mengingat temannya yang pernah satu sekolah dengannya.
"ya ampun,aku tidak menyangka kau disini. Kau bekerja disini?" tanya Batsyua melirik kearah tangan Adara yang tengah memegang kertas.
__ADS_1
"iyaa,aku baru hari ini masuk." ucap Adara tetapi matanya menyapu segala ruangan yang dimana pria tadi sudah menghilang dari pandangannya.
"kau sedang mencari siapa Ra?" tanya Batsyua mengikuti arah pandang Adara. Adara menoleh kearah Batsyua dan menggeleng pelan, "tidak ada. Kau disini sebagai apa Yu?" tanya Adara sambil berjalan menuju tempat fotokopi tadi,Batsyua mengikuti Adara dari belakang, "aku sebagai sekretaris direktur disini. Cuman yaa tidak sekretaris utama." ucap Batsyua sekenanya.
Batsyua mengikuti Adara, "ngomong-ngomong kau sebagai apa disini Ra?" tanya Batsyua melirikku menekan tombol mesin fotokopinya. Aku melirik kearahnya, "iyaa,aku sebagai asisten Bu Iva." ucap Adara membuat Batsyua manggut-manggut mengerti.
"nicelah kalau kau kerja disini. Aku akan mengajakmu berkeliling untuk mengenalmu seluruh area perusahaan ini. Kau pasti penasaran kan??" serunya semangat membuat Adara tersenyum lebar kearahnya.
"wah,makasih yaa Yua. kau memang baik deh." seru Adara,setelah ia selesai memfotokopi berkasnya ia pun segera bergegas pergi keruangan Bu Iva.
"Yua,aku luan yaa." pamit Adara pada Batsyua. Tetapi,Batsyua menahan Adara, "eitss tunggu sebentar." ucapnya membuat Adara berbalik menatap bingung kearah Batsyua.
"kita belum berbagi kontak Ra." selorohnya sambil mengeluarkan ponselnya dari saku. Adara terkekeh pelan lalu mengeluarkan ponselnya. Setelah bertukar nomor,ia pun bergegas ke tempat Bu Iva.
"ini Bu." ucap Adara saat sudah berada didalam ruangan Bu Iva. Bu Iva mengangguk dan menyuruh Adara untuk duduk didepannya.
"makanlah." ucap Bu Iva sambil membuka bekal makanan yang sudah Adara beli tadi. Ia pun dengan telaten layaknya seorang Ibu menghidangkan makanan untuk mereka berdua. Adara sedikit tersentuh merasakan kebaikan Bu Iva.
Sementara pria tampan tadi berhasil membawa saudara kembarnya pergi jauh dari lokasi banyaknya orang. Daiyan berdecak kesal menatap Arshal yang seenaknya menyeretnya keluar. Sudah hancur citranya sebagai pengusaha didepan mata orang karena saudara laknatnya ini.
Daiyan menghela napas sebentar,percuma dirinya marah toh kakak kembarnya juga tidak peduli dengan ocehannya. Jika berbicara dengan Arshal layaknya berbicara dengan dinding. Entah kenapa Arshal sangat berbeda dengannya,padahal sama-sama lahir diwaktu yang sama.
"kau mau bicara kan? bicaralah!" seru Daiyan,ia pun langsung duduk didekat batuan besar yang ada disekitar mereka. Arshal menarik napas pelan sambil berkacak pinggang, "huft,yang ku gendong tadi adalah Raid. Dia anak kandungku,aku sudah menikah dengan seseorang. Wanita itu yang pernah kau lihat didompetku itu adalah istriku!" jelas Arshal membuat Daiyan mendongak kearahnya.
"lalu kemana dia? kau seperti duda yang ditinggalkan istri." oceh Daiyan membuat Arshal menatapnya tajam, "memang,istriku sudah tiada karena kecelakaan." lirihnya pelan,mengingat tentang istrinya membuat Arshal seketika rapuh. Memang benar,ia sengaja memasang wajah dingin hanya untuk mengalihkan perhatian dari orang.
"kau sangat mencintainya ternyata," ucap Daiyan menepuk pelan bahu Arshal. Ia pun berdiri didepan Arshal, "apa mama sama papa tau kau menikah?" tanya Daiyan,Arshal menggeleng sebagai tanda jawaban dari pria itu.
__ADS_1
Cih,nekat sekali dia. Kalau mama tau,dia bakalan. diintrogasi habis-habisan. gumam Daiyan dalam hati. Namun,dirinya sedikit tertegun melihat ekspresi yang ditunjukkan saudara kembarnya layaknya mayat hidup. Seperti tidak ada tujuan hidupnya.
"kenapa kau tidak memberitahu dengan orang tua kita? kau terlalu nekat Shal." celutuk Daiyan lalu duduk disamping Arshal.
"aku ingin memberitahu tentang istri dan anakku,tapi kejadian itu sudah duluan menyambutnya."
Sekarang Daiyan paham kondisinya,ia tidak ingin bertanya lebih dari ini. Sudah cukup informasi yang ia dapatkan langsung dari sumbernya. Daiyan masih tidak menyangka saudara kembarnya ternyata memiliki beban hidup yang cukup berat.
"kau itu lemah." ledek Daiyan,Arshal langsung memukul kepala Daiyan.
"awww sakit bodoh!" gerutu Daiyan memegang kepalanya,
"aku bukan orang yang lemah Yan,kau tau sendiri gimana sifatku." ucapnya pelan.
"aku tau. Sudahlah,kau harus semangat untuk hidup Arshal,lihat anakmu masih membutuhkanmu disini. Kau itu tidak sendirian,ada aku dan yang lainnya juga." ucap Daiyan bijak lalu berjalan kedepan, "aku mau lihat keponakanku itu." ajak Daiyan membuat Arshal berdecak kesal.
"aku sudah susah payah menidurkannya,kau jangan membangunkannya!" ancam Arshal
"ya...ya...aku tau tenang saja,dasar ayah posesif." ledek Daiyan lagi. Mereka berjalan menuju perusahaan Arshal.
"gimana sih kalian bisa bertemu? serius aku tidak menyangka??" tanya Daiyan hanya dibalas dengan raut masam Arshal.
"istri mu itu cantik ternyata." ucapnya lagi-lagi membuat Arshal memukul kepalanya.
"sial, sakit woii!!" gerutu Daiyan meringis.
"jangan memuji istriku. Hanya aku yang boleh memuji dirinya!" seru Arshal tidak terima jika ada yang bilang istrinya cantik. Untung saja Daiyan adalah saudara kembarnya,kalau bukan mungkin Arshal sudah mencolok matanya agar tidak memuji istrinya lagi.
__ADS_1
"lalu siapa nama istrimu?" tanya Daiyan membuat Arshal berhenti ditempat. Arshal hanya menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
"Adara."