I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 7


__ADS_3

"Adara?" tanya Daiyan lagi,Arshal pun mengangguk pelan.


"Adara Aurelia."


***


Deg.


"hachi...hachi." Adara terbersin-bersin sambil mengambil tisu.


"fyuuh,ya ampun kenapa aku tiba-tiba bersin. Huft,seperti ada yang membicarakanku." gumamnya pelan sambil menyandarkan badannya ke kursi,memandang langit ruangannya yang polos dan hening,rasanya seperti hampa.


Cih,aku tidak suka suasana ini. Ya ampun,aku harus melakukan sesuatu. gumam Adara pelan dalam hati,lalu ia melirik beberapa berkas diatas meja. Setelah makan siang bersama Bu Iva, beliau memberikan tugas padanya untuk mengecek kembali berkas tersebut. Adara dengan senang hati menerima tugas itu.


"baiklah,kita akan coba mengerjakannya." ucap Adara dengan tekad yang kuat,ia sendiri sebenarnya kurang paham dengan masalah seperti ini,tetapi dirinya ingin mencoba untuk mengerjakan berkas itu.


"wah banyak juga pemasukan dan pengeluaran yang didata. Ya ampun apa aku bisa??" lirihnya menatap data-data tersebut. Adara mencoba mempelajarinya terlebih dahulu. Tanpa terasa langit senja sudah menampakkan dirinya,namun wanita cantik sederhana itu masih berkutat dengan tugasnya.


tok...tok...tok


Adara melirik kearah pintu, dan berlari kecil untuk membukakan pintu. "oh,maaf Bu. Silahkan masuk." ucap Adara sopan saat mendapati Bu Iva didepan pintu ruangannya.


"ya ampun,kamu bisa bilang silahkan masuk dari tempat dudukmu,kenapa kamu harus repot-repot membukakan pintu?" tanya Bu Iva berjalan masuk kedalam ruangan kerja Adara.


Adara menggaruk tengkuknya tidak gatal,ia tidak terbiasa dengan kebiasaan seperti yang dibilang Bu Iva. Baginya,itu sedikit tidak sopan.


"maaf Bu,saya tidak terbiasa."


"kamu harus membiasakannya Ra." ucap Bu Iva lalu melirik berkas diatas meja Adara. Bu Iva mengamati berkas itu dan kagum dengan hasil kerja Adara.


"ini kamu yang ngerjain semuanya?" tanya Bu Iva berbalik menatap Adara dibelakangnya.


"iya Bu,apa ada yang salah?" tanya Adara menghampiri Bu Iva. Bu Iva menggeleng cepat dan berdecak kagum.


"saya salut lho sama kamu. Sudah saya duga kamu memang hebat dalam hal ini. Lihat,perhitungan yang kamu buat sangat bagus Adara." puji Bu Iva disambut dengan senyum tipis Adara.


"terimakasih atas pujiannya Bu."


"Heem,ckckck ternyata penjualan kita beberapa hari ini menurun yaa,kamu tau ini dari mana?" tanya Bu Iva.

__ADS_1


Adara langsung mengambil berkas lain yang sebagai panduan wanita itu mengerjakan data tersebut. Adara membuka lembaran dan menunjukkannya pada Bu Iva.


"saya mendapat data itu dari sini Bu. Ibu bisa lihat,jika didata ini penjualan produk perusahaan kita ada penurunan karena komplain konsumen kita. Tapi,saya masih tidak tau sebab kenapa mereka komplain Bu." jelas Adara membuat Bu Iva mengangguk mengerti.


"itu biar saya urus. Pekerjaan kamu sudah bagus,sekarang kamu boleh pulang." ucap Bu Iva lalu beranjak dari tempat duduknya, "gimana? kamu betah kerja disini kan?" tanya Bu Iva tersenyum pada Adara.


Adara tersenyum tipis kearah Bu Iva, "iyaa,kedepannya mohon bantuan ya Bu."


"pasti." ucapnya sambil menutup pintu ruangan Adara. Adara langsung membereskan berkas-berkas yang berserakan diatas mejanya. Dengan cepat ruangannya langsung menjadi rapi. Adara menyambar ranselnya lalu keluar dari ruangannya.


Kini ia mulai menikmati pekerjaannya,walau masih terasa sulit tetapi ia pelan-pelan pasti bisa dengan sendirinya. Adara berjalan menuju lift,lift yang terletak disudut ujung yang jarang digunakan oleh karyawan lain. Sebenarnya Adara sendiri bingung,kenapa mereka tidak menggunakan lift yang ini?


Dengan langkah santai ia menekan tombol lift menuju lobi perusahaan. Setelah keluar dari lift tersebut,Adara bingung banyak pasang mata yang menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ia ungkit satu-satu. Tetapi,ia tidak terlalu memperdulikan hal itu dan langsung keluar.


"uhuk...uhuk." Adara berdecak kesal dengan kendaraan yang lalu-lalang didepannya ini. Ia pun langsung mengeluarkan maskernya dan memakainya. Ia merogoh ranselnya tidak menemukan ponsel didalamnya.


"ya ampun,kemana ponselku?" tanya Adara bingung sambil terus mencari ponselnya. Adara menepuk jidatnya pelan saat mengingat jika ponselnya tadi tertinggal diatas meja kerjanya. Mau tak mau Adara harus kembali lagi ke ruangannya.


"cih,kenapa aku bisa pelupa begini??" gerutunya pelan sambil berjalan kearah ruangannya. Lagi-lagi Adara tertegun saat melihat sosok pria tampan tengah berjalan kearahnya.


"ya ampun, tampannya." gumamnya pelan,Adara merasa hangat melihat wajah pria tampan itu.


"kenapa kau menatapku seperti itu?" ketusnya membuat Adara tersadar dari lamunannya.


"astagfirullah." ucap Adara pelan.


"kau siapa?" tanya Arshal menyelidik wanita yang memakai masker didepannya ini. Lebih tepatnya kearah mata wanita itu yang tampaknya tidak asing baginya. Untungnya,kesadaran Arshal pulih dengan cepat membuat dirinya menggeleng kuat untuk tidak menatap wanita selain istrinya.


Sial. umpat Arshal dalam hati,tidak ingin terlalu larut dalam tatapan yang terasa aneh itu. Dengan cepat ia meninggalkan wanita itu tanpa menanyakan hal yang lebih lagi. Adara bingung menatap pria yang menurutnya tampan itu. Ia bahkan tidak sanggup berkata karena sangking gugupnya berhadapan langsung dengan pria itu.


"ya ampun,jantungku." ucapnya pelan,sedikit tersenyum ia pun langsung berjalan keruangannya.


Pria tadi siapa yaa namanya?? aku jadi makin penasaran dengannya. gumam Adara sambil mengambil ponselnya diatas meja,lalu ia berjalan keluar.


Adara menunggu dengan sabar bus yang akan dinaikinya saat ini. Tetapi,bus yang seharusnya menuju rumahnya tidak menunjukkan dirinya. Adara melepaskan maskernya dan menghela napas pelan saat waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.


"Adara!!" seru seseorang membuat Adara menoleh kearah sumber suara itu.


"Eh? Yua?" seru Adara terkejut saat Batsyua menghampirinya dengan motor maticnya.

__ADS_1


"kau menunggu bus?" tanyanya.


"iyaa,tapi busnya belum datang-datang juga." ucap Adara lagi.


"yok,biar aku antar." tawar Batsyua.


"eh nggak usah,aku malah merepotkan jadinya. Nggak papa aku tinggal nunggu busnya sebentar lagi." tolak Adara halus.


"nggak papa kok Ra,aku juga mau jalan-jalan juga. Suntuk sih." ucap Batysua. Adara tampak menimang-nimang tawaran Batysua. Jika ia pulang dengan Batsyua otomatis uangnya jadi hemat,tetapi ia tidak ingin menyusahkan Batsyua.


"ayolah,nggak usah pikir terlalu banyak. Santai ajaa." ucapnya lagi membuat Adara mengangguk setuju.


"ya udah ayo." ajaknya,Adara langsung naik motor Batsyua dibelakang. Selama diperjalanan mereka asyik mengobrol nonstalgia tentang kehidupan di sekolah mereka dulu. Tanpa terasa mereka sudah tiba didepan rumah bibi Elnara.


"Alhamdulillah sampai. Makasih banyak ya Yua." ucap Adara sambil tersenyum tipis.


"iyaa sama-samaa,aku duluan yaa. Nanti kita sambung cerita dichat okee??" seru Batsyua langsung dianggukan Adara.


"hati-hati!" teriaknya saat Batsyua sudah menjauh dari perkarangan rumahnya. Adara berjalan masuk kedalam rumah Bibi.


"Assalammualaikum." ucap Adara saat masuk kedalam rumah,


"akhirnya pulang juga kau." ketus seseorang membuat Adara mendongak kearah orang itu.


Deg.


Adara hanya menatap datar kearah wanita seumuran didepannya ini,yang tak lain adalah Leta anak kandung bibi Elnara.


Leta yang memiliki tubuh bak gitar spanyol dengan wajah Asianya mampu membuat wanita itu hampir sempurna cantik Dimata siapapun termasuk Adara. Adara memang mengakui hal itu,tetapi ia tidak suka dengan sifat Leta.


Leta melipat tangannya didepan dada sambil mengitari Adara. "ckckckck kau sangat tidak pantas untuknya." ketus Leta membuat Adara menyerngit bingung.


ck,dia ini sebenarnya ingin membahas apa sih?? siapa orang yang dimaksudnya sih!?. kesal Adara dalam hati.


°~°


Maaf yaa upload nya lama karena ada kesibukan dunia nyata🙏


Terimakasih sudah membaca novelku,semoga suka yaa. Ikuti terus kisah mereka yaa🤗

__ADS_1


__ADS_2