
Ara berjalan cepat masuk kedalam kamarnya,membanting semua barang yang ada didalam kamar. Napasnya tidak teratur mengingat semua kejadian tadi bersama Almero, keponakan gilanya.
"nggak...nggak mungkin. Almo suka sama aku? yang benar saja!!" elaknya mengingat pernyataan cinta Almero. Sungguh,diluar dugaan Ara mendapatkan pernyataan itu dari keponakannya sendiri.
"Tapi kita kan nggak sedarah kak,jadi aku bisa menikahi mu."
Ucapan Almero terus mengiang dikepalanya. "anak sialan itu,apa tidak bisa mengucapkan kata-kata yang lain hah?!" kesalnya membantingkan diri ke kasur.
Sial. Ia bahkan tidak bisa tidur dengan tenang berguling sana sini,matanya tak ingin memejam. Ungkapan hati Almero terus mengiang dikepalanya.
"huwaah Almo sialan,kau bikin aku nggak bisa hidup dengan tenang!!!" pekiknya kesal.
Ara membenamkan wajahnya pada bantal,berusaha untuk terlelap.
Tok...tok...tok.
Suara ketukan pintu membuatnya menoleh kearah pintu, menyergit menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. "siapa yang menggedor malam-malam?" gumamnya pelan. Dengan malas ia beranjak dari kasur berjalan menuju pintu kamarnya.
"siapa?"
"maaf nona,ini saya." ucap salah satu pelayannya dari luar. Ara membukakan pintu dan menatap kearah pelayan itu.
"ada apa?" tanyanya pelan.
"ini non,itu nyonya tadi saya dengar batuk-batuk. Tapi nyonya bilang jangan ganggu,saya khawatir dengan keadaan nyonya non."
Ara tertegun, akhir-akhir ini ia terus mendapatkan laporan tentang penyakit Bahar. Dengan segera ia berjalan menuju kamar bundanya setelah mengucapkan terimakasih pada pelayan itu.
"bunda." panggilnya menatap wanita yang sudah tak lagi muda itu,usianya kini sudah mencapai delapan puluh. Wajahnya masih cantik hanya saja sudah mulai keriput diwajahnya,apalagi rambutnya yang dulu hitam legam kini mulai memutih.
Bahar menoleh pelan,tersenyum melihat putri bungsunya sudah menjadi gadis cantik. Ara menatap sendu kearah Bahar dan duduk disamping wanita itu.
"Bunda,kita kerumah sakit yaa??" bujuknya agar sang bunda mau ikut diperiksa kerumah sakit. Ara takut,jika ada suatu penyakit berbahaya pada diri Bahar dan Ara tidak ingin hal itu terjadi.
__ADS_1
"nggak papa nak,toh memang usia tua banyak sakit-sakitan."
"tapi ya tetap saja Bun,kita harus periksa. Jangan pasrah gini." lirihnya tetap bersikukuh untuk membawa bunda kerumah sakit. "bunda,aku tidak mau tau,bunda harus kerumah sakit sekarang!" pintanya tidak bisa menolak. Sedangkan Bahar hanya pasrah mengingat betapa keras kepalanya putrinya itu.
Sesampai dirumah sakit,Ara terus menemani sang bunda dalam pemeriksaan dokter. Ia begitu gelisah menunggu hasil pemeriksaan tersebut,takut hal yang tidak diinginkannya terjadi.
Matanya tidak sengaja menangkap kearah seseorang yang tengah berdiri sambil bersandar. Ia menyerngit pada pria itu yang hanya tertunduk memakai topinya.
Dia Kenapa?
Ara mengedik bahu tidak peduli,dirinya kembali duduk sambil menunggu bundanya keluar dari ruangan. Ara terkejut dengan kedatangan pria itu yang duduk disampingnya membuat Ara menatapnya curiga.
Pria tadi langsung mengecup pipi Ara sontak membuat gadis itu marah. "apa yang kau laku—"
Mata Ara melotot melihat pria itu dengan brengseknya mencium bibirnya singkat,apalagi melihat wajah pria yang membuatnya sakit kepala kini tersenyum menunjukkan gigi gimsulnya merekah.
"ALMERO!!!" pekiknya mendorong pria itu kasar dan membuat pengunjung lain melihat kearah mereka. Sedangkan Almero hanya tersenyum licik dan duduk santai seolah tidak melakukan kesalahan apapun.
"aaargh apa yang kau lakukan tadi hah?!" bentaknya menatap tajam kearah Almero. Ini sudah keterlaluan,apalagi sampai dilihat oleh keluarga besar akan seperti apa nantinya.
"cium." jawab Almero sambil menyengir seperti kuda.
Ara menjitak kepalanya,bahkan sesekali menampar pipinya agar terbangun dari mimpi buruknya saat ini. Almero langsung menahan kedua tangan Ara yang terus memukul pipi perempuan itu,ia pun menarik Ara dan memeluknya erat.
"kan sudah kubilang,kita harusnya menikah kak." ucapnya pelan,Ara terus memberontak ingin dilepas namun Almero berbisik sesuatu yang membuatnya langsung terdiam.
"itu tidak akan pernah terjadi!!" cercanya kesal mendorong Almero saat pria itu lengah.
"apa maksud kau Al? ini Gilak!!"
"nggak gila,lagian aku udah minta restu sama papa mama,apalagi sama bunda." serunya semangat membuat Ara menatapnya tidak percaya.
Dimana adikku yang dulu? tolong kembalikan dia seperti dulu!!!
__ADS_1
"KAU SUDAH GILA ALMERO!!" pekiknya langsung dibungkam Almero. Pria itu berdecak pelan mengingat jika mereka berada dirumah sakit, sekali merusuh bisa-bisa diusir oleh petugas.
"hei kak,jangan sampai karna suara kau dokter gagal operasi pasien lain." ledek Almero dihadiahi bogem mentah dari Ara.
Bugh.
"aarrg,woii!" ringisnya sakit. Walaupun Ara perempuan tetapi tenaganya kuat. Entah makan apa gadis itu yang membuatnya sekuat ini.
"Al,yang benar saja lah. Apa otakmu ketinggalan dijurang? kau sudah gila yaa menyukaiku?" cerca Ara,ia tidak habis pikir apakah pria ini sadar dengan ucapannya?
Almero mengangguk,menatap lekat gadis pujaannya ini. "kan sudah kubilang,kita nggak sedarah kak,kita nggak ada hubungan darah. Jadi kita bisa kan menjadi suami istri. Nggak ribet kok,tinggal akad dah selesai."
"enak kali kau ngomong!" ketusnya kesal. Ia memalingkan muka agar pria itu tidak melihat wajahnya yang merah padam. Siapa yang tidak salah tingkah jika dilamar oleh pria tampan dan keren itu? hanya saja Ara sadar jika mereka hanyalah keluarga dan tidak lebih dari itu.
"ish,kau ini susah diajak kerja sama. Padahal orang tuaku sudah menentukan tanggal nikahnya,dan kuta tinggal terima bersihnya doang." serunya membuat Ara menatapnya tidak percaya.
"apa kak Beyza?!" pekiknya pelan,ya ampun ada apa dengan kakak tirinya itu? bagaimana bisa membiarkan anak tunggalnya ini menikah dengannya?
Ara tidak habis pikir lagi,ia bahkan tidak bisa berkata-kata melihat keanehan Almero.
"apa racun ditubuh kau itu masih ada?? sampai kau berbicara tidak waras kayak gini??" Cerca Ara lagi.
Almero mengedik bahu,"jauh lagi sebelum itu kak,aku menyukai kakak dari dulu loh. Awalnya aku kira menyukai kakak salah karena kau tanteku. Eh,ternyata setelah aku liat silsilah keluarga kita, ternyata kita tidak sedarah kak." serunya membuat Ara mengusap wajahnya kasar.
Tepat saat itu,Bahar keluar menggunakan kursi roda dibantu oleh perawat dibelakangnya. Dengan segera Ara menghampiri bundanya.
"bunda? bagaimana? apa hasilnya?" tanya Ara sekaligus. Bahar hanya tersenyum lalu menoleh kearah Almero yang terlihat senyum padanya.
"oh ada Almo,kamu sudah sembuh nak? kemari lah!" seru Bahar tersenyum pada cucunya. Almero menghampiri sang nenek dan memeluknya sayang.
"nek,aku minta restu yaa." ucapnya membuat Bahar menatap Almero dengan bingung,sedangkan Ara terlihat tegang menatap bergantian antara Bahar dan Almero.
"restu apa nak? kamu mau nikah?" tebak Bahar lagi,dianggukan Almero. "iyaa nek,aku ingin menikah dengan kak Ara." ucapnya tegas tentu membuat Ara syok setengah mati,apalagi ia semakin tegang saat melihat raut wajah Bahar yang sulit ditebak.
__ADS_1