I'M Behind You,Arshal

I'M Behind You,Arshal
Bab 41


__ADS_3

Arshal sampai lupa bernapas,sedetik kemudian ia menatap lekat kearah istrinya yang terlihat berani itu menatapnya tajam. Dengan perasaan tidak bersalah ia langsung mengecup bibir istrinya yang daritadi menarik untuk dilihat. Adara terkejut spontan memukul bahu Arshal.


"ish kau ini!!" gerutunya pergi dari sana,berhadapan dengan Arshal membuat perasaannya nano-nano. Adara melenggang keluar menghirup udaranya segar,namun napasnya kembali tercekat saat merasa tubuhnya dipeluk oleh suaminya itu.


"jangan pergi." lirihnya semakin mengeratkan pelukannya. Adara hanya menghela napas,lalu berbalik menatap suaminya dengan tatapan yang susah diartikan.


"tolong bantu aku ingat tentang kita Arshal, aku ingin mengingat semuanya." lirih Adara pelan membuat Arshal mendongak kearah wajah istrinya. "tenang saja,aku yakin kau bisa ingat tentang kita,Raid sekalipun. Tapi, perlahan-lahan saja,jangan dipaksakan oke?"


***


Ezra terus memikirkan perkataan Leta saat itu. Kini pikirannya sangat kacau dan tidak konsentrasi dalam mengerjakan tugasnya. Bahkan saat ini Arshal memanggilnya berkali-kali ia tidak dengar.


"Ezra!!" bentak Arshal membuat pria itu terkejut menoleh kearah tuannya yang menatapnya tajam. Ezra gelagapan, "maafkan saya tuan." ucapnya menunduk.


"kenapa kau tidak fokus?" tanya Arshal menatap kearah sekretarisnya.


"maaf tuan,saya sepertinya sedang lelah." kilahnya,tidak ingin dintrogasi lebih lanjut oleh bosnya. Sedangkan Arshal hanya menghela napas pelan dan menyuruh sekretarisnya untuk beristirahat hari ini.


Setelah ia keluar dari ruangan bosnya,ia melihat Adara berjalan menuju kearah ruangan bosnya. Penasaran akan kegiatan wanita itu,ia pun mengikuti Adara dari belakang.


Tok...tok.


"masuk." seru Arshal dari dalam,Adara pun membuka pintu ruangan suaminya dan masuk kedalam. Ia berjalan mendekati suaminya dan menyerahkan proposal yang ada ditangannya.


"tuan,ini ada data yang perlu kau tandatangani." ucap Adara membuka proposal itu. Sedangkan suaminya mendongak tersenyum lebar kearah istrinya. "kau makin cantik." pujinya. Bukannya menjawab pertanyaan Adara,ia malah menggobal pada istrinya. Adara tersipu malu,tetapi kewibawaannya sebagai anggota tetap ia jaga. Berdeham pelan,ia menatap serius kearah Arshal.


"tolong kondisikan mata anda tuan." ucap Adara menyadari jika suaminya itu terus menatapnya. Arshal menjadi gemas sendiri melihat tingkah istrinya itu.

__ADS_1


"tuan,cepatlah tolong tanda tangan proposal ini." gerutunya melihat suaminya itu tak kunjung memberikan tanda tangan pria itu. Arshal terkekeh melihat raut kesal yang ditunjukkan Adara,ia pun menunjuk pipinya pada Adara.


"kenapa pipi Anda?" tanya Adara tidak mengerti dengan kode Arshal. Arshal menghela napas, "kalau mau dapat tanda tanganku,harus cium pipi aku dulu." ucapnya manja.


Astaga,aku tidak menyangka jika suamiku kekanak-kanakan gini,apa saat aku sebelum amnesia dia seperti ini juga denganku? gumam Adara dalam hati.


"apa yang kau pikirkan lagi sayang,ayo cepat!" desak Arshal,Adara berdecak pelan lalu menghampiri Arshal. Saat bibirnya ingin mendarat dipipi Arshal, tiba-tiba pria itu langsung memalingkan mukanya membuat bibir Adara mendarat sempurna dibibirnya. Tidak ingin menyia-nyiakan momen itu,Arshal mencium bibir Adara dalam.


Deg.


Ezra melihat semuanya tanpa mereka sadari,hatinya begitu sakit melihat wanita yang dicintainya kini sedang berciuman dengan bosnya. Ia membenarkan apa yang dibilang Leta semalam. Seketika ia gelap mata,Ezra yang awalnya tidak ingin membuat masalah dengan bosnya,kali ini ia ingin memberontak untuk mendapatkan wanita itu kembali. Bagaimanapun caranya,akan ia pikirkan demi menyingkirkan Adara dari Arshal.


"tuan maafkan aku jika aku bertindak kurang ajar." gumamnya lalu berjalan berbalik arah. Semakin lama ia melihat hal yang tidak diinginkannya semakin membuncah emosi yang ia rasakan. Ia mencintai Adara sejak lama dan bosnya seenaknya mengambil darinya,itu tidak akan pernah terjadi!


***


Leta membakar bukti-bukti yang hampir saja membuatnya dalam masalah besar. Untung saja asisten pribadinya membereskan semuanya untuknya. Bisa dibilang sangat beruntung memiliki asisten sepeka pria itu.


Leta menghampiri Theo dan menangkup wajah pria itu, "owh manis sekali kesayanganku ini." gumamnya mengecup bibir pria itu langsung. Leta tersenyum tipis lalu mengambil ponselnya.


"Theo,aku ingin kau menghack semua video yang berkaitan dengan kecelakaan itu. Aku ingin semuanya bersih,oh ya satu lagi." serunya sembari memberikan ponselnya pada Theo.


"hancurkan ponsel ini,jangan sampai ada yang tau!" titahnya langsung dianggukan pria itu. Dengan sigap,Theo keluar melaksanakan perintah dari Leta. Leta tersenyum miring setelah Theo keluar,dirinya mengambil sebatang rokok dan menghirupnya.


"Almer...cih kenapa dunia ini sempit sekali,kenapa dia harus ada kaitannya dengan Arshal. Ah,untung saja aku kemarin bawa suntik itu,jadi hidupnya nggak akan bakalan lama lagi." gumamnya pelan, sambil memutar-mutar kursinya ia tampak berpikir untuk rencana kedepannya.


"jika dia cepat mati,tentu masalahku tinggal menyingkirkan Adara." ucapnya. Mengingat adik tirinya itu membuat perasaannya semakin membenci wanita itu dan ingin melenyapnya sekarang juga. Tetapi,dirinya tidak ingin mengotori tangannya sendiri,ia membutuhkan perantara untuk melakukan hal itu semua.

__ADS_1


"benar juga,digenggamanku sekarang sudah ada Wilson,Bram,dan juga Theo. Pion-pion yang sangat andal dan juga bisa dimanfaatkan." gumamnya bersenandung riang.


***


Pria tampan itu masih terbaring koma,sudah tiga Minggu dari kejadian itu belum juga menunjukkan tanda-tanda sadar. Beyza begitu sedih menatap wajah putranya yang terlihat pucat dan penuh alat-alat yang dipasang membantunya bertahan untuk hidup.


"nak, cepatlah bangun. Katakan pada mama siapa pelaku semua ini,mama akan membalasnya untukmu sayang." lirih Beyza mengelus wajah putranya.


"halo kak." sapa seseorang yang berdiri diambang pintu menatap kearah kakak tirinya dan keponakannya yang terbaring lemah itu. Wanita berambut kepang satu itu berjalan mendekati Beyza.


"Ara kau disini? sejak kapan kau sampai?" tanya Beyza melihat adik tirinya itu. Ia tidak menyangka jika balita itu sudah tumbuh menjadi wanita cantik.


"tadi pagi,makanya aku langsung kesini." ucapnya lalu melirik kearah keponakannya, "aku sudah mendengar kabar Almo dari Arshal,tidak kusangka pria angkuh itu sekarang terbaring lemah disini." gerutunya menatap kesal kearah Almero.


Beyza terkekeh pelan,sudah tidak asing baginya jika Ara terus mengomel tentang anaknya. Mereka itu bagaikan air dan minyak susah disatukan. Setiap ada pertemuan keluarga mereka terus yang menjadi tontonan karena sering adu mulut bahkan adu tangan. Beyza sendiri sedikit heran dengan adik tirinya yang setomboi itu. Tetapi,Beyza sangat menyayanginya,walaupun secara garis keturunan ia tidak sedarah dengan Ara,ia tidak pernah membedakan perlakuannya antara Muaz dan Ara. Bahkan bisa dibilang Beyza sangat beruntung memiliki saudara perempuan walaupun jarak usianya lumayan jauh darinya.


Ara berjalan mendekati keponakannya yang usianya tak jauh darinya. Diliriknya lekat wajah pria tampan itu,tetapi ia merasa ada yang janggal. Lalu ia mengecek nadi pria itu.


Oh,kau ternyata sudah sadar pria arogan sialan,kenapa kau tidak bangun dan membuat mamamu khawatir hah?! gerutu Ara dalam hati sambil tersenyum smirk.


"Ara,kau tolong jaga Almo bentar,kakak mau keluar sebentar." pamit Beyza buru-buru keluar. Ara mengangguk pelan lalu kembali menoleh kearah pasien yang sedang pura-pura belum sadarkan diri itu.


Dengan perasaan dongkol ia membangunkan pria itu dengan cara menghentakkan kasur pria itu dengan kakinya.


"woi! woi bangun sialan!! kau udah sadar kan?!" serunya terus menghentakkan kasur itu.


Duk...Duk...Duk.

__ADS_1


Pria yang terbaring itu perlahan membuka matanya dan menatap tajam kearah manusia yang mengusiknya.


"ck,Ara sialan!!" umpat Almo menatap kesal kearah Ara.


__ADS_2