IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
1. 'Panggilan ghaib"


__ADS_3


Panggilan ghoib


__ADS_1


Arini mengusap peluh yang menetes di dahinya dengan punggung tangannya. Sesekali Arini mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hanya untuk melepaskan lelah pada lehernya. Ada keputus asaan dalam hatinya, ketika tugas yang diberikan oleh Sang Dosen belum juga selesai.


"Andai aku tak membantah perintahnya mungkin tugas ini tidak akan pernah aku lakukan" bisik hati Arini sambil menarik nafas panjang. Pak Ahmad adalah dosen termuda di kampus xx di kotaku. Umurnya baru 26 tahun dengan gelar S2 dan sekarang sedang menyelesaikan S3nya.


Sebenarnya pak Ahmad baik, hanya tatapan dingin, tajam, dan bermulut 'cerewet' membuatnya disegani dan di juluki 'the hunter' oleh hampir seluruh mahasiswa di kampus Arini. Kembali Arini tersenyum masam, mengingat Sang Dosen.

__ADS_1


Arini yang tak tega akan kesabaran sahabat karibnya, akhirnya membereskan pekerjaannya. Menumpukkan menjadi dua bagian, skripsi yang sudah di periksa dan yang masih belum diperiksa. Setelah merapikan meja kerja yang diberikan khusus oleh pak Ahmad untuknya Arinipun meraih lengan Melda. "Ayo, sekarang waktunya kita bersantai" Arini menekankan kalimatnya. "hahhahaaha..., dasar mahasiswi penurut" balas Melda menanggapi kalimat Arini.


Merekapun keluar dari ruangan dosen di kampus tersebut, tak lupa Arini mengunci pintu ruangan dosennya. Sambil bergandengan tangan, dua sahabat itupun berboncengan menuju kota dengan sesekali melemparkan candaan dan tertawa lepas. Sementara itu, pak Hoiri penjaga kampus memandang mereka dengan tersenyum, sambil memastikan ruangan dosen yang ditinggalkan oleh dua sahabat itu sudah dalam keadaan aman.


Saat pak Hoiri melangkah meninggalkan ruangan tersebut, tiba-tiba terdengar dering panggilan Hand Phone. Pak Hoiri berbalik dan mengintip ke dalam ruangan yang tadi ditinggalkan oleh dua sahabat tadi. Ruangan yang di pintu depannya tertulis Drs. Ahmad Al Akhtar, MS i. Dengan kunci cadangan pak Hoiri membuka pintu itu, dan mendapatkan Hand Phone yang entah sudah berapa kali berdering panjang. Tertera panggilan dari "the hunter devil' saat deringnya berhenti. Tertulis 15 panggilan tak terjawab disana, dan nampak walpaper pemilik hand phone yang tak lain adalah Arini.

__ADS_1


Baru saja pak Hoiri hendak keluar, tiba-tiba Arini telah herada di pintu dengan nafas terengah. "Maaf, pak. Saya lupa mengambilnya" ucap Arini terbata-bata. Pak Hoiri tersenyum memaklumi kebiasaan Arini. Pak Hoiri sangat hapal kebiasaan Arini yang telah 3 tahun lebih menjadi mahasiswi kampus xx. Sambil menggeleng pak Hoiri menyodorkan ponsel Arini, "ada lima belas panggilan ghaib tadi" goda pak Hoiri yang disambut dengan tawa geli Arini mengingat siapa sosok dibalik nama itu. Sambil mengucapkan terimakasih Arini berlari meninggalkan pak Hoiri.


"Apakah kau tidak ingin mengonfirmasi panggilan pak Ahmad, Rin?" tanya Melda sambil menikmati bakso yang mereka pesan. Arini tertawa kecil, "sesekali kalau kita membangkang tak masalah bukan?. Lagipula pak hunter itu terlalu kejam kepadaku. Hanya karena masalah kecil masak aku harus menerima hukuman mengoreksi Skripsi segunung" Arini mencoba mencari pembenaran dari Melda. "Kamu sih, ketawa nyaring saat beliau menjelaskan materi. Pantas saja beliau tersinggung" balas Melda sambil membayangkan saat kejadian.


__ADS_2