
Arini buru-buru lari kecil dari dapur ke depan rumahnya ketika mendengar suara ribut. Arini terkejut melihat pemandangan yang terjadi di halaman rumahnya.
Dua laki-laki tangguh sedang saling mencengkeram kerah baju dengan tangan terkepal siap melayangkan tinjunya.
Bukkk...
Kepalan tangan Ahmad melayang ke wajah David dengan keras.
Uhkk...suara David mengerang.
Arini terkejut bukan main. Nafasnya seakan tertahan dalam beberapa detik melihat apa yang terjadi di depan matanya.
Sungguh sebuah situasi yang tidak nyaman untuk mencari siapa yang salah. David juga salah, entah apa yang dicarinya sepagi ini ke rumahku...batin Arini tak menentu. Sementara suaminya biasanya bersantai di halaman belakang menghabiskan pagi sambil berjemur. Ahhh...memang situasinya yang tidak menguntungkan...Arini menetralkan hatinya.
"Hentikan, bang" Arini telat sepersekian detik ketika pukulan itu mengenai wajah tampan David yang langsung menyapu wajahnya. Darah menetes keluar dari sudut bibirnya. Tubuh kekar yang tak beda jauh dengan Ahmad itu tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Dave. Aku mohon maafkan suamiku. Pulanglah. Suamiku sedang tidak baik" Arini memohon ke arah David dengan air mata yang sudah tidak dapat ditahan lagi. Rasa iba pada David, juga kecewa pada suaminya yang tidak dapat menahan emosi setiap kali bertemu dengan David.
__ADS_1
David tersenyum sinis sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
"Apa lagi yang kamu lihat. Bukankah istriku sudah menyuruhmu pulang?" ketus Ahmad dari balik punggung Arini menatap tajam penuh amarah pada sosok laki-laki tampan mantan mahasiswanya dulu.
"Pukulanmu sungguh keras pak Ahmad yang terhormat. Sayangnya, itu membuatku semakin kuat untuk mendapatkan wanita impianku yang berada dalam genggamanmu" David menyeringai jahat. Menatap penuh cinta pada Arini yang berdiri diantara suami dan sosok David.
"Ck...buka matamu dengan baik saudara David yang terhormat. Wanita yang dihadapanmu itu adalah istriku. Ingat ISTRIKU!" Ahmad menatap David dengan gusar.
"Pulanglah, Dave. Aku mohon" Arini tak tau apa yang harus dilakukannya. Kecuali membujuk David untuk segera berbalik meninggalkan halaman rumahnya.
Arini semakin terpojok. Mata suaminya penuh amarah.
"Apapun alasanmu untuk hal itu, kau perlu tau. Banyak wanita yang lebih sempurna dari aku di luar sana. Harap kau buka matamu dengan baik, Dave. Jangan memancing di kolam yang bertuan. Kamu salah besar" suara Arini bergetar menahan berbagai rasa dalam suasana yang tak pernah dipikirkannya akan terjadi.
"Kamu tidak akan pernah memahami prinsip hidupku. Untukku kamu adalah obsesiku, cinta pertamaku, dan kamu tau...untuk seorang David yang pertama adalah miliknya dan akan kuperjuangkan tak peduli berapa lama dan berapa besar waktu dan tenaga yang dibutuhkan. Suatu hari kau pasti akan jadi milikku" David membalikkan tubuhnya setelah tersenyum manis untuk Arini yang selalu istimewa dan cantik menggemaskan di matanya.
"Kamu hanya perlu mengingat kata-kataku. Perjuanganku tak akan lama. Anda beruntung pak Ahmad, rasa hormatku karena tercatat sebagai mahasiswamu dulu tak pernah pupus dalam dadaku. Tapi untuk rasa cinta dalam hidupku adalah sisi lain yang harus aku perjuangkan" David menatap tajam penuh obsesi pada Ahmad yang masih berdiri terhalang tubuh Arini istrinya.
__ADS_1
"Ck...bermimpilah. Aku harap saat kau terbangun otakmu itu dalam keadaan normal. Dan aku harap kau tidak menjadi sakit setelahnya" sindir Ahmad sinis.
"Fine. Tunggu saja saat itu tiba" David mengalah dan membalikkan tubuhnya keluar. Senyum liciknya menghiasa wajah tampannya tanpa merasa berdosa dan bersalah. Tubuh tingginya menghilang di balik gerbang rumah Arini. Tak berapa lama terdengar suara mesin mobil dihidupkan. Arini merasa sedikit lega. Langsung mengunci gerbang dan mendorong tubuh suaminya memasuki rumah.
"Kesalahanku adalah membiarkannya melihat kamu ketika itu" suara Ahmad pelan nyaris tak terdengar. "Seharusnya aku lebih mengenal laki-laki brengsek itu dulu"
"Ahhhh..." pekiknya pelan mengibas-ngibaskan tangannya. "Keras juga rahang si Brengsek itu" keluhnya pelan.
Arini mengambil air minum dan menyodorkan ke arah suaminya.
"Sudah reda emosinya?" Arini duduk di hadapan suaminya di sofa.
"Aku heran. Apa yang istimewa darimu sehingga Si brengsek itu begitu menginginkanmu" Ahmad menelisik wajah istrinya.
"Jangan mencurigaiku. Aku hanya ingin istimewa untukmu. Bukan yang lain" Arini jengah melihat tatapan suaminya yang tajam dan seakan mencari sesuatu yang aneh dari wajahnya.
....tinggalkan jejak yaaa, Readers...❤❤❤🌷🌷🌷
__ADS_1