IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
25. Meminta maaf part 1


__ADS_3

Cuaca di bandara BIL agak panas. Mungkin karena matahari telah lebih condong dan bersinar dengan kuat. Ahmad dan keluarganya akan menunggu penerbangan dengan pesawat berikutnya yang lebih kecil untuk bisa langsung ke kota kecil tempat Arini tinggal beberapa bulan belakangan ini.


Bunda duduk sambil berbincang dengan Papa, sesekali Arini tertawa mendengarkan cerita bunda dan papa Ahmad. Ajmad mengulum senyum bahagia besar harapannya keluarga Arini akan memaafkan kesalahannya dulu. Memang bukanlah hal yang mudah. Tetapi Ahmad telah bertekad akan melakukan apapun untuk menggapai impiannya yang pernah hancur.


Dering handphone Arini menghentikan obrolan antara mereka. Mata Ahmad memperhatikan Arini yang menjauh dari orang tuanya untuk menjawab telepon. Tak sampai lima menit dia kembali bergabung dengan Ahmad dan orang tuanya.


Kini mereka telah mendarat di kota pulau Sumbawa. Hawa panas menyergap kulit. Bandara Sultan Kaharuddin Sumbawa nampak imut dan megah tengah berbenah.


"Selamat datang di Sumbawa, Ren" ucap mama Arini menyambut sahabatnya dan keluarganya. "Kau nampak semakin cantik saja"


"Hahahahahaa...kau tak pernah berubah. Pujianmu benar-benar membuatku merasa cantik" ucap bunda Irene sambil memeluk erat sahabatnya. Nampak Ayah Arini berpelukan dengan Papa Ahmad, mereka saling bertukar canda dan menepuk bahu. Ahmad mencium tangan kedua orang tua Arini dengan canggung.


"Selamat datang di Pulau Sumbawa" ucap Mama Arini menyalami suami sahabatnya.

__ADS_1


"Aku gak nyangka kamu bisa tinggal di tempat ini berbulan-bulan" bisik bunda Irene pada mama Arini.


"Kamu perlu mencobanya. Kota ini tempat terbaik untuk mediasi. Tenang, jauh dari kemacetan dan hingar bingar. Pokoknya kamu akan lupa mewahnya Amerika" canda mama Arini mengajak mereka menuju tempat parkir bandara SK Sumbawa.


"Caramu mempengaruhi orang lain sangat manis. Tapi aku pikir lebih baik segeralah kembali ke rumah lamamu. Aku tidak ingin menantuku jauh dari jangkauan" ucap bunda Irene dengan panjang lebar sambil menutup pintu mobil. Mama Arini menarik nafas panjang. Tersenyum ringan sambil sesekali melihat kearah suaminya.


"Aku akan memikirkannya setelah ini" Mama Arini tersenyum tipis. "Semua tergantung pada suamiku. Berhubung tugasnya di kota Provinsi yah...aku lebih merasa nyaman di kota kecil ini"


"Kota kecil yang indah dan tenang" kembali bunda Irene tersenyum melepas pandangan ke kanan dan kiri jalan. Keramaian kota kecil itu sangat damai.


"Ada kerabat ayah Arini di sini. Dan yang lebih penting kota ini memberi rasa aman" ucap mama Arini tertawa lebar.


"Aku pikir karena Syam. Kau masih ingat dengan Syam bukan?" bunda Irene tertawa sambil berbisik. Mama Arini menepuk bahu bunda Irene dengan tawa tanpa suara.

__ADS_1


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di senuah rumah yang lumayan besar dengan ornamen khas daerah. Ayah Arini mempersilahkan tamunya untuk turun. Ahmad membawa kopernya berjalan santai di belakang kedua orang tuanya.


"Beginilah suasana kota kecil ini, Ja" ucap Ayah Arini setelah membuka pintu rumah. "Silahkan masuk. Semoga kalian betah. Tapi jangan nyari mall ya..." canda Ayah Arini yang langsung dibalas dengan senyum kecut dari Bunda Irene.


"Biarkan Arini menunjukkan kamar untuk kalian, Ren" kata Mama Arini sambil menuju ruangan dapur di sebelah kanan bangunan utama.


Malam itu mereka semua duduk bercengkrama setelah usai makan malam. Papa Ahmad beserta Ayah Arini nampak bersenda gurau. Sesekali mereka nampak bicara serius.


"Yah,..." panggil Ahmad yang melihat saat kedua laki-laki perkasa itu saling diam sejenak setelah menertawakan hal yang membuat mereka tertawa. Semua menoleh ke arah Ahmad yang terlihat grogi di tempat duduknya. Beberapa kali Ahmad memperbaiki letak duduknya agar terasa nyaman.


"Katakanlah" ucap Ayah Arini meletakkan cangkir kopi di meja di depan mereka.


Ahmad menatap papanya. Papa Ahmad tersenyum mengangguk memberikan kekuatan agar putranya tidak canggung berhadapan dengan ayah Arini dan mamanya.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Yah, Ma, atas peristiwa beberapa bulan yang lalu. Aku..." Ahmad ragu untuk menjelaskan alasannya. Ahmad sadar betapa sedih peristiwa itu bagi keluarganya, karena kehilangan saudara laki-laki satu-satunya untuk selamanya. Kesedihan itu jelas sekali menoreh hatinya.


"Maafkan kami..." parau suara Ahmad membuat kedua orang tua Arini menarik nafas sesak.


__ADS_2