IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
13. Menangis


__ADS_3

"Aku saat itu juga mengambil penerbangan ke New York bersama kedua orang tuaku. Mama meminta salah satu kerabatnya untuk menyampaikan pesan kepadamu dan keluarga besar. Tapi sungguh, aku tidak tau apa pesannya"


"pesannya bahwa kau tidak bisa menikahiku" sambut Arini dengan emosi dan perih di hatinya. Ahmad terperanjat. Menatap Arini dengan nanar.


"Bukan, Rin" katanya cepat "Bukan itu pesan yang harus disampaikan. Tetapi meminta penangguhan acara sampai semua masalah di New York selesai"


"Kamu tau saat itu aku benar-benar terpuruk. Aku shock. Keluargaku malu" tiba-tiba Arini sesenggukan dan pipinya penuh dengan air mata. Ahmad dengan cepat berpindah dan duduk di sebelah Arini. Diraihnya tubuh Arini ke dalam pelukannya. "Menangislah, Rin. Keluarkan semua kesal dan sakitmu. Aku akan setia memberikan bahuku untukmu. Aku mencintaimu, Rin. Sangat mencintaimu." Ahmad mengelus punggung Arini dengan penuh penyesalan dan sayang. Tangis Arini pecah. Semua sakit, kesal, kecewa, dan rindu dalam hatinya yang selama 6 bulan ia pendam seakan tumpah ruah di bahu Ahmad. Kemeja Ahmad basah oleh air mata Arini. Ahmad menunggu Arini merasa tenang, lalu menarik tubuhnya dan menatap mata Arini yang sembab dan merah.


"Aku mengurus jenazah abangku, Rin. Menunggui istrinya melahirkan dan mengurus semua masalahnya hingga selesai."


"Kenapa tidak menghubungiku" cecar Arini di sela tangisnya. Ahmad menyingkirkan rambut yang jatuh di wajah Arini dengan lembut.


"Itu kesalahanku. Ponselku tertinggal entah dimana. Dan aku tidak menghafal nomor ponselmu" ucap Ahmad tertawa kecil mengingat hari itu.


"Aku sangat mencintaimu" ucap Ahmad berulang kali.


"Sebenarnya mama ingin aku menggantikan abangku dan menikahi istrinya yang sedang hamil besar. Karena mama khawatir anak mereka tidak terurus"


"Lalu..." tanya Arini masih dalam keadaan menangis. Ahmad menarik nafas berat dan mengelus wajah Arini dengan lembut.

__ADS_1


"Sekali lagi aku katakan aku mencintaimu, Arini. Susah payah aku memberi pengertian mama dan akhirnya mau memahami. Mama tidak ingin kebilangan cucu pertamanya" ucap Ahmad pelan.


"Setelah Mbak Maudy melahirkan dan aku mengurus masalah abangku di New York aku kembali ke Indonesia, tapi aku tak menemukanmu. Rumahmu terkunci. Berhari-hari aku menunggu tapi rumahmu benar-benar tanpa penghuni" Ahmad mengelus lengan Arini dengan penuh kerinduan.


Arini kembali menangis sesenggukan.


"Tetanggamu mencemoohku dan mengatakan bahwa aku lelaki tak tau malu dan memalukan. Melamar anak orang dan meninggalkannya di hari pernikahan" Ahmad tersenyum getir


"Aku bersalah, Rin. Tapi cintaku ini hanya untukmu" Ahmad menggenggam jari Arini dengan erat "Mama dan papa menyesali mengutus kerabatnya saat itu pada keluargamu. Terutama mama sangat menyesal pada sahabatnya sendiri karena merasa telah berhianat" ada genangan air di mata Ahmad yang menyeruak keluar dan menetes di pipinya.


"Begitulah keadaan yang sebenarnya, Rin. Mohon maafkan aku dan keluargaku"


"Aku...aku..." Arini kembali menangis tak terkendali.


"Apakah kau masih mencintaiku dan mau memaafkanku, Rin?" tatap Ahmad penuh harapan. Dan tatapan itu membuat Arini sesenggukan. Ahmad meraih kepala Arini untuk disandarkan di bahunya. "Peluklah aku, Rin. Agar semua sakitmu ringan. Aku sangat mencintaimu. Tak ada seorangpun yang bisa menempati hatiku ini selain dirimu"


"Aku akan pulang" ucap Arini tiba-tiba setelah meredam tangisnya dengan paksa. Ahmad terkesiap. "Pulang??" tanyanya bingung.


"Iya. Aku harus pulang" kata Arini menyeka air matanya dengan tissu.

__ADS_1


"Kau belum memberi jawaban. Dan lagi kemana kau akan pulang?" Ahmad menatap Arini dengan tajam.


"Aku akan memaafkanmu, jika kau bersungguh-sungguh memperjuangkan cintamu itu. Aku tinggal di pulau kecil di ujung timur negara ini setelah hari kau menghancurkan semua rencana itu. Aku...aku tidak tau apakah orang tuaku bisa menerimamu kembali" sambung Arini pelan.


Ahmad sumringah. Ada setitik harapan yang memberinya kekuatan untuk kembali berjuang dan memperjuangkan cintanya yang hampir tenggelam karena sebuah peristiwa.


"Berikan alamatmu aku akan datang melamarmu" ucap Ahmad mantap. Lalu mengelus lembut punggung tangan Arini. Arini menarik nafas panjang. Ahhhh...sakit itu mengikis meninggalkan debaran cinta dan rindu yang kuat melalui genggaman tangan Ahmad dan tatapan tajam matanya.


"Dimana kamu menginap?" tanya Ahmad yang merasa telah ringan sedikit beban di dadanya.


"Hotel di depan itu" tunjuk Arini dengan dagunya. Ahmad tersenyum bahagia. Tangannya terulur mengelus penuh sayang surai Arini yang diikat ke atas.


"Maukah kamu menceritakan hari-harimu tanpa aku, Rin?" Ahmad menggenggam erat tangan Arini. "Aku mohon maaf padamu. Kedua orang tuaku masih di luar negeri, secepatnya aku akan membawa mereka meminta maaf pada keluargamu. Aku janji, Rin" Ahmad mengecup punggung tangan Arini.


"Sudah jam 12 lewat" bisik Arini melihat beberapa petugas resto sudah mulai berbenah. "Kalau kau mau kita bisa melanjutkan pertemuan ini di penginapanku. Penerbanganku besok jam 11 lewat" kata Arini menatap Ahmad dengan malu-malu. Arini tidak ingin Ahmad berfikiran negatif padanya. Bagaimanapun cinta dalam hatinya tak bisa dihapus begitu saja.


Maafkan Arini, bun...


😊😊😊🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2