IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
44. Tak ada pilihan


__ADS_3

Seharian Ahmad terlihat resah, beberapa kali keluar masuk kamar mandi. Arini merasa khawatir.


"Aku panggilkan dokter, ya?" Arini menatap khawatir suaminya yang terlihat pucat dan berkeringat.


"Aku baik-baik saja. Hanya emosiku yang sedang bermasalah" Ahmad merasa egois dan masih menyimpan amarah atas peristiwa pagi tadi di halaman rumahnya.


Arini tersenyum datar.


"Aku serius, bang. Wajahmu mengatakan tubuhmu sedang ada masalah"


"Sudah aku katakan aku baik-baik saja" suara Ahmad gusar. Dirinyapun merasa aneh dengan kondisi tubuhnya sejak kemarin. Agak pusing dan merasakan sesuatu yang sulit untuk di katakan apa.


"Apa kau yang menelpon David sepagi tadi dia bisa muncul di halaman rumah kita?" Ahmad menatap gundah pada Arini.


"Jangan berlebihan. Abang kan tau nomor siapa saja di ponselku" sindir Arini mengingatkan kepura-puraan suaminya. Ahmad menyeringai sinis.


"Yah, mana aku tau" ucapnya santai. Arini melemparkan bantal ke arah suaminya dengan kesal.


"Hmmm...dasar posesif" Arini mencibir.


"Itu juga karena aku cinta kamu, Rin. Jadi jangan salahkan sikapku ini"


"Lihat, butiran keringatmu itu semakin banyak. Apa abang yakin tidak mau di panggilkan dokter?" Arini tidak ingin terlihat seperti istri yang tak peduli. Suaminya menggeleng sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.

__ADS_1


"Bang.." Arini memanggil suaminya ketika dirasakan suasana hening di antara mereka. Ahmad enggan membuka matanya.


"Kemarilah..." Ahmad meminta Arini mendekat. Tanpa protes Arini berpindah tempat duduk ke sisi ranjang tempat suaminya berbaring. Ahmad meraih pinggang istrinya dan meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya.


"Mengapa aku merasa ada sesuatu di antara kita?" Ahmad menatap Arini dengan pandangan yang tak bisa diartikan.


"Jangan mengada-ada. Sesuatu seperti apa?" Arini menatap suaminya. Wajah tampan suaminya nampak berbinar. Senyumnya menghiasi bibirnya yang seksi. Mungkin semua keturunan bule punya bibir seksi dan menyenangkan untuk dilihat...Arini tersenyum kecil.


"Apakah kau tidak memimpikan dia hadir di tengah kita, sayang?" Arini mengerti sekarang kemana arah pikiran suaminya.


"Tentu saja. Apakah abang sudah tidak sabar menanti kehadirannya?" Arini bertanya dengan nada sendu. Arini sadar betul sebulan lagi genap setahun pernikahannya. Namun, Allah belum memberi mereka amanah dengan hadirnya bayi diantara mereka.


Arini bersyukur kedua orang tuanya dan mertua tidak pernah memaksa atau menanyakan kapan dan kapan akan diberikan penerus keluarga.


"Pertanyaan apa itu?" kening Ahmad berkerut tak suka mendengar pertanyaan istrinya. "Kita hanya wajib berusaha, sayang. Semua hanya masalah waktu kapan doa kita dikabulkan"


"Aku akan segera mengurus kepindahan kita, sayang. Nampaknya David sudah berani terang-terangan mendatangimu" Ahmad menyandarkan kepalanya di dashboard ranjang. Raut wajah suaminya nampak serius.


"Nanti malam kita beritau kedua orang tua kita. Aku rasa ini pilihan terbaik untuk hubungan kita, sayang" Ahmad menatap istrinya dan mengulurkan tangan menggenggam tangan istrinya.


"Apa peristiwa pemukulan tadi pagi tidak akan imbas lebih lebar, bang?"


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Maksudku, siapa tau berimbas ke perusahaanmu atau bahkan kampusmu"


"Aku kenal David dan keluarganya. Mereka sportif walau terkadang juga menggunakan kekuasaan dan pamornya untuk suatu hal yang mereka inginkan" Ahmad nampak sedang menahan sesuatu dalam dirinya. Kembali buliran keringat memancar dari dahinya.


Ahmad segera bangun dan berlari ke kamar mandi.


hueeeekkk....


Terdengar suara Ahmad berkali-kali. Arini bergegas mengikuti suaminya masuk ke kamar mandi. Terlihat suaminya berdiri lemas di depan wastafel. Arini memijit pelan tengkuk suaminya.


"Kamu masuk angin mungkin, sayang" Arini tak melihat ada muntahan di wastafel.


"Entahlah..." Ahmadpun merasa aneh pada tubuhnya. Apa mungkin efek kelelahan beberapa hari ini jadwalnya di kantor sangat padat. Dan beberapa kali melakukan kegiatan perkuliahan di kampus...selama seminggu ini dari pagi sampai sore sangat menguras tenaga dan pikirannya.


"Berbaringlah, aku olesi minyak kayu putih yaa...nanti aku buatkan minuman jahe biar hangat. Mungkin lambungmu butuh istirahat karena lelah"


Ahmad membaringkan tubuhnya yang terasa lemas. Arinu membaluri tibuh duaminya dengan minyak kayu putih dan memberinya selimut. Lalu melanglah keluar kamar untuk membuat minuman jahe hangat. Kata mama jahe sangat bagus untuk meredakan rasa mual.


Tak berapa lama Arini kembali ke kamarnya. Dilihatnya suaminya berbaring tanpa daya.


"Minum dulu, bang. Setelah itu baru tidur. Nanti sore aku panggilkan dokter untuk memastikan keadaanmu" Ahmad tak menolak perlakuan istrinya. Setelah meminum seduhan jahe hangat Ahmad mencoba untuk tidur. Kepalanya terasa berputar. Banyak yang dipikirkannya, salah satunya adalah David.


Tak ada pilihan yang terbaik untuk masa depan rumah tangganya kecuali pindah untuk sementara. Karena kekuatan David dan keluarganya sangat berpengaruh di kota. Dan Ahmad tidak ingin memicu keributan.

__ADS_1


Ya...tak ada pilihan...batinnya sendu sebelum akhirnya memejamkan mata.


🌷🌷🌷🌷vote, like, and terimakasih Readers...❤❤❤


__ADS_2