IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
21. Nasehat Lelaki Tangguh


__ADS_3

Suara mikrofone pengumuman bahwa pesawat yang ditunggu Ahmad telah tiba membuat Ahmad dengan cepat menghabiskan kopinya dan membuang gelasnya di tempat sampah tak jauh dari tempatnya berdiri.


Ada getaran tertentu di hatinya saat menjemput kedua orang tuanya. Bagaimanapun ini adalah sebuah misi kehidupannya untuk masa depan. Ahmad menyisir rambutnya dengan tangannya kala mengingat Arini di kamar tadi.


Sungguh, jiwa lelakinya sangat terpancing melihat Arini di tempat tidur tadi. Ahmad tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Belum saatnya, boy" bisiknya pelan pada hasrat dalam jiwanya.


Mata Ahmad berbinar ketika melihat sepasang suami istri yang dinantinya berjalan bergandengan tangan dengan mesra. Ahhh, bunda dan papanya selalu mesra walau usia mereka telah menginjak angka lima puluhan lebih.


"Hai, Son" sapa pria bule berdarah Amerika yang selalu tampan dan berwibawa. Ahmad tersenyum memeluk papanya.


"Hai, Bunda, Papa...Assalamualaikum" Ahmad menyalami keduanya bergantian.


"Apakah kau kurang makan selama tiga bulan ini di Indonesia?" sindir papanya memperhatikan putra tersayangnya. Bunda Ahmad melotot ke arah suaminya.


"oh come on, Beb. Aku melihatnya kurus dan tak terawat. Dia sudah seperti pendaki gunung yang kehilangan kompas" ucap Papa Ahmad menatap istrinya dan mengacak rambut Ahmad dengan penuh sayang.


"Katanya Arini bersamamu. Mana dia?" bunda Ahmad menebar pandangannya mencari sosok Arini. Ahmad menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Arini ketiduran, Bun" ucap Ahmad sambil melangkah mendahului orang tuanya.


"Apa kau membuatnya kelelahan, Son?" goda Papa Ahmad yang langsung mendapat pukulan dari istrinya. Lelaki bule itu tertawa riang. "Hei, kalian para Wanita tidak tau saja bagaimana kami para lelaki tangguh pandai memanage jiwa kami"

__ADS_1


"Don't worry, honey. Anak kita tak sekejam itu. Sekalipun dia tersesat di jalan yang benar" Papa Ahmad masih tergelak melihat raut wajah istrinya.


"Jangan kelewatan bercandanya, pa. Tetaplah di jalan yang benar" sambut Bunda Ahmad sambil membuka pintu mobil.


Ahmad tersenyum melihat interaksi Bunda dan Papanya. Begitulah mereka jika telah berkumpul. Ahmad merasa bahagia dan bersyukur dengan keharmonisan keluarganya.


"Apa kabar kakak ipar dan keponakanku?" tanya Ahmad sambil menjalankan mobilnya keluar dari area parkiran Bandara. Bundanya tersenyum riang. "Mereka akan menyusul ke Jakarta jika kau sudah akan melangsungkan pernikahan"


"Apakah kakak ipar tidak akan menetap di Jakarta, bun?" tanya Ahmad lagi. Bunda menggeleng dengan pelan.


"Masa depan mereka di Amerika, Son. Abangmu juga berpulang dan dimakamkan disana. Tentu tidak mudah untuk meninggalkan semua itu" jawab Papa Ahmad dengan suara berat.


"Belum keduanya, Pa. Itupun kemarin hanya berbicara meminta izin untuk Arini. Aku merasa sangat bersalah, pa. Tapi mungkin ini takdir Tuhan yang memang harus aku jalani." Ahmad menghentikan mobilnya ketika lampu merah menyala.


"Menurut papa apakah mereka akan menerimaku kembali setelah apa yang aku lakukan pada mereka beberapa bulan yang lalu?" tanya Ahmad mencari dukungan dari lelaki tangguh yang kini duduk tegak disebelahnya. Rahang papa Ahmad mengeras dan menghembuskan nafas kasar ke udara. Seakan mewakili apa yang menjadi pikirannya selama ini.


"Apa kau takut karena jabatan dan posisi ayahnya, Son?" selidik Papa Ahmad masih tanpa menatap anaknya.


Ahmad menghembuskan nafas berat.


"Salah satunya itu, Pap" jawabnya galau.

__ADS_1


Lelaki bule di sebelah Ahmad tertawa menyeringai.


"Hei, keturunanku tak boleh menyerah dan pesimis. Bertanggungjawablah dengan benar. Papa mengenal siapa ayah Arini. Dia bukanlah orang yang patut ditakuti. Karena dibalik pakaian dinas dan pistolnya itu hatinya sama dengan Papamu ini" ucap Papa Ahmad dengan bangga.


"Lelaki yang baik adalah lelaki yang mengatakan maaf dan terimakasih dengan benar. Tidak takutt selama itu adalah bukan hal yang salah. Kesalahanmu di masa lalu mintalah maaf dengan benar, Son. Selama hatimu yakin bahwa itu adalah hal yang benar" sambung lelaki bule itu dengan tersenyum.


"So, untuk meraih sesuatu yang menjadi tujuan kita yang penting yakin Allah adalah kekuatan tertinggi, Son"


"Perjuangkan tujuanmu dengan benar. Yakin kamu pasti bisa"


Papa Ahmad mengacak rambut putra kesayangannya.


"Thank you, Pap" ucap Ahmad dengan bangga.


...hai Readers...maaf yaaa...


aku sambung esok lagi 3 bab yaa..


hihihi...jangan lupa


kritik, saran, dan likenya yaaa

__ADS_1


__ADS_2