
Seminggu telah berlalu sejak peristiwa di restaurant. Sikap Arini seperti biasa, melakukan pekerjaan rumahnya dengan tekun. Pagi itu dia menyiapkan pakaian kantor suaminya. Tak lupa meletakkan jaket untuk suaminya karena akan meninjau proyek propertynya yang sudah selesai.
"Yakin kamu nggak mau ikut, sayang?" Ahmad keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk. Tangannya masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Arini tersenyum. Tubuh suaminya semakin kekar saja. Hanya kulitnya yang agak kecoklatan karena seringnya dia turun lapangan.
"Yakin. Aku di rumah saja. Toh tidak ada yang bisa aku lakukan disana kecuali mengikuti langkahmu dengan kolega-kolega bisnismu" Arini memakaikan pakaian suaminya. Rutinitas harian yang selalu dilakukannya atas permintaan suami tercintanya.
"Aku tak ingin kamu merasa bosan di rumah, sayang. Setidaknya kita menikmati udara kota ini sebelum kita benar-benar pindah"
"Abang bisa mengajakku lain waktu dengan suasana santai dan bukan sedang bekerja" Arini memasangkan dasi suaminya.
"Baiklah, sayang. Hati-hati di rumah. Jika tidak ada keperluan kunci pintunya" Ahmad meraih tas kerjanya dan melangkah keluar kamar diikuti Arini.
Mobil putih yang dikendarai Ahmad melaju perlahan meninggalkan halaman rumah mereka. Arini dengan cepat menutup dan mengunci pintu gerbang. Belum sempurna gerbang tertutup tetangga sebelah rumahnya memanggilnya dengan suara lantang.
"Bu Arini..."
"Ooh, bu Dini. Tumben pagi-pagi udah di luar. Ada apa nih?" Arini berdiri tepat di gerbang yang masih terbuka, ehhh...tidak yang sengaja terbuka karena mendengar panggilan tetangganya. 😁😁
"Bu Arini jarang kelihatan. Sibuk apa?" bu Dini menatap Arini dengan senyum sumringah.
"Tidak ada, bu. Hanya beberapa hari ini berkunjung ke rumah orang tua suami dan orang tua saya. Biasa, bu...rutinitas jika suami tidak ada kerja di kantor atau di kampus"
"Saya nyoba resep kue baru lho...nanti saya antar ke rumahnya yaaa..."
"Hebat dong. Boleh, nanti saya kasi penilaian masalah rasa seperti biasa. Bu Dini cocok bikin kue-kue lho...bisa buat bisnis itu"
"Hhhhh...sudah, bu. Saya sedang mengelola cafetaria. Makanya sesekali jalan-jalan ikut saya ke cafe biar tahu. Jangan diem di rumah aja" bu Dini tertawa seakan paham keadaan Arini. Secara mereka bertetangga sudah lama. Arini paling jarang berinteraksi dengan penghuni komplek karena suaminya yang posesif berlebihan.
"Ahhhh, bu Dini memang hebat. Semoga usahanya lancar ya, bu. Oya, saya masuk dulu yaa...saya tunggu nih kue dengan resep barunya" Arini tertawa datar.
__ADS_1
"Sip. Nanti aku antar kalau udah matang. Tunggu saja di dalam rumah. Jangan lupa kunci pintu"
Arini tertawa geli mendengar sindiran bu Dini. Tetangganya ini memang sedikit sering menggoda dan menyentuh kebenaran jika sedang berbicara. Bu Dini istri seorang manager bank swasta yang sukses. Memiliki dua orang anak yang lucu. Dulu mereka sering duduk bersama sebelum akhirnya sikap posesif Ahmad membuat malu Arini karena sering menyindir jika mereka sedang berbincang bersama suami bu Dini.
Arini mengunci gerbang dan sekalian mengunci pintu rumahnya. Terkadang rasa bosan dengan rutinitas dalam rumah membuatnya ingin menangis bahkan ingin marah. Tapi, Arini sadar ini pilihan hidupnya.
"Kamu hanya perlu mensyukuri, menikmati, dan menjalani semua pilihan hidupmu. Setiap pilihan pasti punya kekurangan dan kelebihan. Lebih kamu syukuri, kurang kamu nikmati. Jangan pernah mengeluh. Semakin kamu menyabarkan hati Allah makin sayang. Melangkah bersama dalam setiap masalah adalah pilihan tepat dalam sebuah rumah tangga" Mama mengusap puncak kepalanya kala itu. Arini pernah berkeluh tentang sikap suaminya.
Yah, Arini harus banyak bersabar. Cinta itu adalah perjuangan yang sesungguhnya ketika diperjuangkan di jalan yang tepat.
Rutinitas dalam rumahnya telah selesai. Hanya perlu menyiapkan makan malam nanti, sebab Ahmad akan pulang menjelang sore karena banyaknya kegiatan di kantornya.
Arini baru saja membaringkan tubuhnya di sofa ketika bel rumah berdering nyaring. Mata Arini melihat jam yang terpampang di dinding ruang keluarganya. Baru pukul 10.15 pagi.
Bel rumah kembali berdering kali ini agak panjang. Arini segera membuka pintu rumahnya dan melangkah ke arah gerbang yang selalu di kunci jika tidak ada keperluannya di luar.
"Siapa?" Arini mengintip dari celah gerbang. Nampak bu Dini tersenyum dengan satu pan kue ditangannya.
"Iiihhhh...lama sekali buka gerbangnya. Kakiku hampir lumpuh menunggu gerbangmu terbuka. Kamu ngapain sih di dalam rumah?" Dini mengeluarkan kekesalannya pada Arini sambil berjalan masuk tanpa di silahkan.
Usia Dini hanya berbeda satu tahun diatas Arini. Dan Dini sudah menganggap Arini seperti adiknya sejak pertama Arini tinggal di komplek perumahan itu. Arini tertawa mengikuti langkah Dini dan mengambilkan piring untuk kue, sendok, dan pisau.
"Aku semedi, bu Dini cantik" Arini menyodorkan pisau kuenya.
"Jangan dulu di potong. Tunggu dingin sebentar rasanya akan lebih nikmat dan lezat. Kamu bisa coba nanti setelah mencoba rasanya buatanku"
"bu Dini harus mengajariku untuk resep baru"
"Tentu. Tenang saja. Apa yang tidak buatmu"
"Oya, anak-anak bu Dini disembunyikan dimana?" canda Arini
__ADS_1
"Sejak kemarin dijemput Eyangnya. Besok mereka akan kembali. Maklum rumah Eyangnya lagi ramai dengan pasangan baru jadi mereka ingin anak-anakku. Makanya kalian segeralah program anak biar rumah nggak sepi, say" Bu dini menowel dagu Arini dengan akrab. Arini tertawa.
"Rin, tunggu sebentar yaa...aku lupa ngunci pintu rumah" ibu muda itu berlari kecil keluar tanpa menunggu jawaban Arini.
Belum sempurna tubuhnya keluar dari rumah Arini seorang laki-laki muda yang tidak asing bagi Arini muncul di depan pintu dengan wajah sunringah bahagia.
"Mbak Dini, aku nyari ke rumahnya nggak taunya di sini"
"Ngapain kamu nyari aku mau apa?. Abangmu keluar kota, Dave" teriak Dini sambil berkacak pinggang.
"Ck, aku tau. Karena itu aku kesini abang minta diambilkan berkas di laci meja kerjanya. Hari ini harus ku kirim ke Malang"
"Baiklah. Tunggu disini sebentar, mbak akan ambilkan" Dini mendorong tubuh adik iparnya dan berteriak ke arah Arini. "Rin, titip kadal ini. Kalau dia macam-macam kamu pukul saja pakai apapun yamg membuatnya jera"
Arini tak bisa mengucapkan kata apapun. Dini telah melesat keluar dengan cepat. Pintu masih terbuka lebar dan sempurna. Arini merasa serba salah dalam situasi ini.
"Silahkan duduk, Dave" Ucap Arini pelan dan bergetar. David tersenyum penuh kemenangan.
"Jodoh lagi kan?" David mendudukkan dirinya di sofa paling ujung dekat pintu.
"Dengan melihatmu saja aku merasa takdirku semakin dekat membawaku kepadamu. Ingat, jangan menghindariku"
"Aku mohon, Dave. Aku tidak ingin ribut dengan suamiku"
"Kau mampu mengatasinya"
Arini enggan berdebat. Situasi ini saja sudah membahayakan hubungannya jika tiba-tiba suaminya pulang.
"Aku kembali" Dini muncul dengan senyum lebar dan sebuah map di tangannya.
"Pergilah. Tempatmu bukan disini" Dini menyerahkan map ke tangan adik iparnya. "Hei, jangan menatap Arini seperti itu. Dia wanita bersuami. Ayo pergilah!" Dini menarik lengan iparnya. Dan mendorongnya keluar rumah. Arinj hanya diam tak bergeming dari kursinya.
__ADS_1
...janga lupa tinggalkan jejak ya Readers...❤❤❤❤🤝🤝🤝🤝