
Bima tersenyum mencibir melihat sikap Ahmad yang bermanja dan bersandar pada bahu istrinya selama dalam perjalanan ke rumah sakit pagi itu.
"Jangan menatap dan berbicara dengan dokter itu ketika dalam ruangan nanti tanpa izin dariku, sayang" suara Ahmad tegas walau sikapnya nampak seperti enggan berjauhan dari tubuh istrinya.
"Iya, bang" Arini enggan berdebat. Dia selalu menjadi istri penurut tanpa protes atas sikap suaminya yang membatasinya berinteraksi terutama drngan lawan jenis.
Lagi-lagi Bima melrik dengan perasaan yqng entah seperti apa pada pasangan di belakangnya itu. Padahal kalau laki-laki yang kini sedang bermanja dengan istrinya itu jika berhadapan dengan wanita lain suaranya datar tanpa nada, dan itu membuat lawan bicaranya segan untuk berlama-lama berhadapan dengannya.
"Berhenti menatapku dengan sorot menjijikkan itu, mas Bima" Ahmad menepuk kursi yang diduduki Bima di belakang kemudi otomatis di depan atasannya itu.
Bima tertawa kecil.
"Ambillah cuti suatu hari, dan menikahlah biar mas tau bagaimana diperlakukan oleh wanita yang mas Bima cintai"
"Do'akan saja, pak. Dan tentunya aku akan membuat ustriku bahagia kelak" sindir Bima yang langsung di tatap tajam oleh Ahmad.
"Istriku juga sangat bahagia denganku" katanya tak terima. Bima malah tertawa terkekeh melihat raut wajah Ahmad yang tak menentu.
"Sudah sampai, tuan manja. Silahkan, aku menunggu di tempat parkir"
"Ck...nampaknya kau akan kuadukan pada ayah. Sekarang terlalu sering menatapku sinis" Ahmad membuka pintu mobil dan menatap tajam Bima yang masih tersenyum datar. Diihhh...sekarang mau jadi tukang mengadu dia rupanya...batin Bima acuh.
Arini menggenggam tangan suaminya dan berjalan veriringan masuk area rumah sakit besar dan terkenal di kota itu. Suasana rumah sakit yang ramai namun teratur serta bersih membuat rumah sakit ini terkenal. Bebetapa pasang mata menatap ke arah kedatangan mereka berdua. Setelah mendaftar, mereka berdua langsung menuju ke poli kandungan. Nampak ada beberapa pasangan yang duduk antre menunggu giliran masuk bertemu dokter.
Arini mengajak suaminya duduk di bangku antrean uang masih kosong. Disebelahnya duduk seorang wanita muda dengan perut buncit. Ahmad tersenyum menbayangkan seandainya Arini yang berada di posisi itu, ahhhhh...pasti keadaannya akan nampak lucu. Seakan menyembunyikan bola di balik dasternya. Ahhhhh...Ahmad menepis hayalannya tak ingin mendahului kehendak Allah.
__ADS_1
"Maaf, kenapa bapak menatap saya terus?" suara wanita muda di sebelah Arini mengagetkan. Arini menatap wanita muda di sebelahnya.
"Maaf, siapa yang mbak maksud?"
"Laki-laki di sebelah anda" wanita muda itu tak tersenyum sedikitpun. Arini menatap suaminya dengan hati kesal. Suaminya membuang mukanke arah lain, pura-pura tak mendengar.
"Ah, maafkan suami saya, mbak. Dia sudah lama menginginkan anak sehingga matanya susah untuk diajarkan sopan saat melihat orang hamil" Arini tersenyum tak enak hati dan memohon maaf atas sikap suaminya.
"Ooh..." wanita itu beroh ria melihat ke arah Arini yang masih menggenggam tangan suaminya. "Yang mau periksa kamu atau suamimu?" wanita itu mengernyitkan keningnya melihat suami Arini yang nampak lemas dan pucat.
Arini tersenyum menatap wanita muda di sebelahnya. Arini rasa usianya tak jauh beda dengannya mungkin lebih berpengalaman.
"Kami berdua, mbak. Cuma beberapa hari ini dia yang terlihat sakit" bisik Arini pelan. Ahmad asik membuka ponselnya membalas beberapa email yang masuk di HP pintarnya, sehingga tak begitu menghiraukan istrinya dan wanita yang tadi membentaknya.
Wanita muda itu tertawa kecil.
Menatap Ahmad seperti lelucon tersendiri di matanya. Arini ikut tersenyum kecil. Tiba-tiba namanya dipanggil petugas, dan Arini pamit keoada teman ngobrolnya tadi lalu melangkah agak menyeret lengan suaminya yang terburu-buru memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Selamat datang suami manja" sambut dokter Lucky menyambut sahabatnya yang masih nampak tak bertenaga.
"Ck...kau akan merasakannya suatu hari nanti. Jangan meledekku terus" ucap Ahmad datar. Dojter Lucky tertawa ramah. Menulis sesuatu sebentar di kertas rekam medis pasien dan meminta perawat yang mendampinginya untuk membawa Arini masuk dan berbaring di bilik di sebelahnya yang hanya dibatasi tirai hijau.
Perawat wanita yang berusia sekitar 30an itu membaringkan Arini dan berbicara sebentar keapda Arinj.
"Mohon maaf, nyonya. Mohon izin bajunya saya naikkan sedikit yaaa..."
__ADS_1
"Hei...hentikan itu" belum selesai perawat itu berbicara Ahmad telah bangun dan langsung menghentikan gerakan tangan perawat di tubuh Arini.
"Abang..." Arini menatap suaminya denga tajam dan penuh ancaman.
"Ck...bagaimana dia membuka bajumu dihadapan dokter tidak tau malu itu. Seharusnya kamu risih, sayang" Ahmad cemberut menatap mata istrinya yang tajam.
"Ahhh, dasar suami manja. Kamu pikir bagaimana aku bisa memeriksa keadaan istrimu dan memastikan apa yang terjadi padamu jika tidak melakukan USG. Jangan konyol, brother. Every obgyn doctor in the world does that to pregnant patients. Come on...don't act stupid" dokter Lucky meraih pundak Ahmad dan mengajaknya duduk di kursi tepat di sebelah layar.
"Lanjutkan, Sus" dokter Lucky memberi perintah suster yang tadi terpaku dengan sikap suami pasien.
Dokter Lucky mulai mengarahkan krusor pada alat USG di layar.
"Selamat, brother. Calon bayimu sudah nampak tumbuh dengan baik" dokter Lucky tersenyum menatap layar "Lihat, little babymu sudah berusia sepuluh minggu"
Arini dan Ahmad terpana mendengar usia kandungannya. Dokter Lucky tertawa hangat.
"Ukurannya normal, pertumbuhan bayinya bagus, berat badannya bagus, jenis kelaminnya belum bisa di lihat yaaa" dokter Lucky mencetak beberapa hasil USG dalam bentuk foto dengan ukuran kecil. Dan menyelesaikan pemeriksaannya. Arini turun dari tempat periksa dan duduk di kursi sebelah Ahmad berhadapan dengan dokter Lucky.
"Kurangi rasa cemburumu, jangan sampai istrimu stres itu akan berdampak pada bayimu. Jangan terlalu lelah, bekerja berat, dan perhatikan nutrisinya. Lakukan pemeriksaan rutin sesuai dengan jadwal yang aku berikan. Satu lagi, dalam trimester pertama kurangi hubungan badan, agar janinnya tidak terganggu"
"Ck...peraturan apa itu" Ahmad protes untuk saran terakhir dokter yang menjadi sahabatnya itu.
Dokter Lucky mencibir merasa jengah dan kesal oleh ulah sahabatnya yang seakan tak tau aturan itu.
"Tebus obatnya di apotek agar kau tidak nempel terus dengan istrimu. Rubah sifatmu sedikit, sebentar lagi kau akan menjadi ayah" dokter Lucky menyodorkan kertas resep yang harus ditebus oleh Ahmad.
__ADS_1
"Ck...aku sedang bahagia sekarang jadi aku tak ingin mendebatmu. Terimakasih untuk saranmu. Oya, cepatlah menikah agar kau juga segera merasakan apa yang aku rasakan" Ahmad mendorong tubuh istrinya dengan lembut keluar dari ruangan yang ditatap dengan gelengan kepala oleh dokter Lucky.
...🌷🌷🌷happy ya Readers...jangan lupa like, vote, dan sarannya❤❤❤❤