IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
9. Ada apa


__ADS_3

Tiga hari yang lalu acara seserahan, dan hari ini merupakan hari terakhir menjelang akad nikah yang akan dilaksanakan esok pagi. Keluarga telah menentukan prosesi nikah akan dilangsungkan di rumah Arini, setelah itu langsung ke acara resepsi di sebuah hotel ternama di kota itu.


Arini tengah berbaring sambil menunggu hiasan henna di tangan dan kakinya mengering. Suasana bahagia dan ramai di lingkungan rumah Arini terpancar, hiasan rumah dan kamar pengantin melengkapi acara yang nampak lumayan mewah. Ingin hati Arini menghubungi Ahmad calon suaminya, namun henna ditangannya masih basah. Seharian ini Arini ingat Ahmad belum menghubunginya sama sekali. Biasanya tiga empat kali bahkan sampai meminta video call yang membuat Arini merasa bahagia dan berdebar-debar.


Arini tersenyum mengingat kelakuan Ahmad.


Pukul 21.45, Arini melihat jam di dinding kamarnya. "Rin, hennanya sudah bisa dicuci yaaa" teriak mbak Ajeng dari balik pintu kamar. "Iya, mbak" jawab Arini langsung menuju kamar mandi. Saat Arini sedang mengagumi hiasan di tangan dan kakinya ponselnya berdering. Arini agak kecewa ketika yang nampak bukanlah Ahmad tapi sahabatnya Evan. Dengan mengernyitkan dahi Arini menggeser tanda hijau untuk menerima telpon.


"Selamat malam, Arini" sapa Evan dengan suara pelan dan hati2. Arini merasa heran tak biasanya Evan menelpon. "Malam juga, Kuda Liar" sambut Arini dengan tersenyum menyebut panggilan akrab diantara mereka. Terdengar helaan napas dari ujung telpon, "Rin, aku sudah berubah menjadi Kuda poni" ketus suara Evan membuat Arini geli.


"Ada apa nelpon malam-malam?, Ini tak biasanya untuk seorang Evan. Oya, jangan lupa besok datang yaa" ucap Arini dengan sumringah. Tak ada suara Evan tertawa atau apapun hanya tarikan napas panjang yang membuat Arini agak heran. "Van..." panggil Arini.

__ADS_1


"Rin, ini malam hari menjelang akad nikahmu besokkan?" tekan Evan seperti ragu. "Iya..." jawab Arini dengan tertawa pelan. Lama Evan tidak bersuara membuat Arini merasa semakin aneh. "Van, kamu masih disitu?" tanya Arini karena masih tak terdengar apapun. Hanya sayup-sayup terdengar suara kendaraan yang berlalu lalang dan beberapa suara orang yang entah sahabat kampusnya itu ada dimana.


"Rin, aku minta maaf. Sebenarnya..." terdengar Evan menarik napas lagi. Kini Arini yang merasa heran dan pikirannya mulai menebak kemana mana. "Van, jangan membuatku mati menahan nafas" teriak Arini karena fikirannya melanglang buana entah kemana.


"Rin, apa aku langsung ke rumahmu saja yaaa. Aku ingin bicara serius" ucap Evan disana. Arini menautkan keningnya. "Apa yang terjadi, Van?" tanya Arini bingung. "Tunggu saja aku datang. Aku tidak ingin terjadi salah paham. Rin, kita bersahabat sejak lama dan kita saling menyayangi satu sama lain. Jadi, aku akan datang murni sebagai sahabatmu. Tinggulah lima belas menit lagi"


Tut


Tok


tok

__ADS_1


tok


Pintu kamar Arini diketuk dengan keras dari ouar. Arini segera bangun dan meraih gagang pintu. Nampak wajah bingung sepupu Arini. "Ada apa, Din?" Arini menatap Dinda sepupunya sambil menebar pandangan ke kanan dan kiri. "Pada kemana kok sepi, Din?" Arini bertanya karena merasa suasana lengang dan sepi. Padahal beberapa jam yang lalu rumahnya ramai dan bising.


"Kak..." Dinda memegang lengan Arini dengan gemetar. Arini semakin heran dengan sikap sepupunya. "Kemana Ayah dan bunda serta yang lain?" tanya Arini menatap sepupunya dengan serius. Dinda mengencangkan pegangan tangannya pada lengan Arini yang masih memegang daun pintu kamarnya. Hatinya merasa tidak nyaman. "Kakak sebaiknya jangan turun. Aku akan menemani kakak di kamar saja yaaa"


"Ada apa, Dinda. Mengapa sikapmu begini. Kemana yang lain?" Arini merasa semakin tidak nyaman. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari lantai bawah. Kegaduhan terjadi seketika, terdengar tangisan Ibu Arini lalu dibarengi berbagai kalimat yang membuat ruangan bawah riuh dan bising. "Jangan, kak!" tahan Dinda saat Arini akan turun menghampiri keluarga besarnya.


Perasaan Arini semakin tidak nyaman melihat situasi di bawah dari pintu kamarnya. Dinda menahan lengan Arini dengan kuat dan mendorong Arini masuk ke kamarnya. "Dinda, bethenti. Biarkan aku turun. Aku ingin tau apa yang terjadi. Mengapa ibu histeris" Arini menatap Dinda dengan geram. "Sebaiknya kakak di sini saja. Itu perintah Ayah" Dinda menghempaskan tubuh Arini yang notebene kakak sepupunya. Anak dari saudara ibunya. Arini kaget dan curiga dengan sikap Dinda. Matanya tajam seakan ingin menerkam Dinda.


Semoga suka yaaa readers...❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2