IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
38. Obsesi yang meresahkan


__ADS_3

Arini menatap resah wajah suaminya yang tak bergeming setelah mendengar cerita istrinya. Wajah tampan itu penuh amarah, namun nampaknya masih bisa dikuasai. Urat lehernya menegang, tangannya mengepal.


"Itulah yang aku takutkan jika kau bertemu dengan anak itu" suara Ahmad datar tak menatap istrinya. Otaknya sedang mencari langkah apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan keluarganya dari ancaman seorang David yang penuh obsesi atas Arini.


"Sudahlah, bang. Aku akan lebih hati-hati lagi" Arini kesulitan mencari kalimat yang tepat disaat suaminya sedang dalam suasana yang buruk agar tidak tersinggung.


"Tidak bisa dibiarkan, sayang. Dia sudah mengelabui Deni dan memanfaatkan Melda demi untuk bisa mendekatimu dengan cara liciknya. Dan aku tidak suka itu" suara Ahmad penuh denhan penekanan.


"Apakah abang meragukan cintaku?, sampai semarah itu dengan David" Arini memeluk tubuh suaminya dari belakang. Ahmad yang berdiri menghadap jendela kamar mencengkram lengan istrinya.


"Aku cemburu, sayang. Aku tidak suka istriku di dekati lelaki manapun. Itu salah satu alasan mengapa kamu tidak kuizinkan bekerja atau keluar rumah" Ahmad menatap tajam manik mata istrinya yang tertunduk. Arini paham betul sifat suaminya yang berlebihan dan sangat pencemburu.


Arini menarik nafas mengurai sesak di dadanya.


"Aku selalu mencintaimu. Dan hanya kamu yang ada di hidupku. Apa yang kamu khawatirkan?" Arini mengelus pipi suaminya yang masih dalam suasana tak menentu.


Cup...


Arini memberikan kecupan ringan di bibir suaminya yang seksi. Aura wajah itu agak mengurai. Senyum kecil dan terpaksa nampak dari raut wajah tampannya. Arini seakan hafal bagaimana mengurangi amarah dan rasa cemburu di hati suaminya.


"Istirahatlah. Besok aku akan memutuskan tindakan apa yang bisa kita lakukan untuk menjauhkanmu dari virus itu" Ahmad mengecup kepala Arini dengan lembut.

__ADS_1


"Maafkan sikapku ini. Ini semua karena aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku sangat mencintaimu. Mohon kamu pahami itu" Ahmad memeluk tubuh istrinya dengan erat.


Ahmad menarik nafas berat. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum bisa dia jawab dengan benar. Pertahanan David tidak mudah ditembus dan tidak bisa dianggap remeh. Ahmad sangat mengetahui bagaimana sifat keluarga itu. Selain memiliki pengaruh besar di kota ini, mereka juga merupakan pengusaha kaya yang masuk dalam golongan elite kota.


Ahmad mengistirahatkan tubuhnya dan mencoba meredakan pikiran-pikiran negatifnya terhadap berbagai hal yang di hadapinya seharian ini.


"Tidurlah, bang. Tidak baik menguras pikiran terlalu lama. Kesehatanmu lebih utama" Arini mengunci pintu kamar dan ikut membaringkan tubuhnya di sebelah suaminya.


"Apakah kamu bahagia selama ini menikah denganku, Rin?" Ahmad masih menatap langit-langit kamarnya yang di penuhi cahaya temaram lembut berpadu dengan warna kamar yang dominan putih.


"Aku sangat bahagia, sayang" Arini tersenyum melihat wajah suaminya. Pertanyaan yang sama selalu di lontarkan Ahmad ketika pikirannya sedang kalut atau bahkan sedang merasakan cemburu yang berlebihan. Hampir setahun mereka bersama dan Arini hapal bagaimana suaminya.


"Apakah salah jika aku merasa takut atau meragukan hal itu, Rin?"


"Mengapa aku selalu merasa takut yaa jika ada laki-laki lain mendekatimu. Terutama virus itu"


Arini memukul lengan suaminya pelan.


"Wajar itu, sayang. Yang tidak wajar adalah perasaan abang yang posesif berlebihan"


"Apa kamu tidak suka?" Ahmad menatap tajam wajah istrinya. Arini yang ditatap tersenyum manis.

__ADS_1


"Ck, abang pikirannya negatif saja. Semua perlakuan suami atas dasar cinta tentunya sangat disukai oleh semua istri. Udah tidur, yuk. Abang perlu istirahat besok tu otak diajak berpikir lagi" canda Arini memeluk suaminya.


"Sayang, kita ke rumah Papa besok pagi yaa..." ucap Ahmad tiba-tiba dengan wajah yang serius.


"Kan baru minggu kemarin ke rumah papa, bang. Abang ada perlu?" Arini agak bingung dengan sikap suaminya.


"Abang kangen ma papa" Ahmad menarik selimutnya.


"Ihhhh...serius nih?" Arini mengerutkan keningnya.


"Kayak bukan dirimu lho, bang" Arini menyenggol punggung Ahmad yang membelakanginya.


"Kangen kamu aja deh" tiba-tiba Ahmad berbalik dan memeluk istrinya. Arini terkejut dengan sikap reflek suaminya.


"Tuh kan...akibat mikirin obsesi yang meresahkan jadinya manja"


Ahmad tertawa tanpa suara.


Yah...hanya dengan bersama istrinya segala masalah rasanya akan menjadi mudah untuk dihadapi. Hubungan antara mereka seakan menjadi kekuatan tersendiri.


...baby ini monoton ya kak...

__ADS_1


mohon maaf...selalu support ya Readers biar tambah semangat nulisnyaπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


__ADS_2