
Ahmad membuka pintu mobilnya, dan mengajak Arini untuk turun. Ahmad menggenggam jemari Arini sambil melangkah memasuki rumah yang ditinggalinya selama ini sebelum berangkat ke Amerika beberapa bulan yang lalu. Sepasang suami istri paruh baya menyambut mereka dengan tersenyum lebar.
"Non Arini?" sapa bi Jumi menatap dengan binar bahagia pada Arini. Arini tersenyum dan menyalami bi Jumi dengan sopan. Nampak bi Jumi agak kikuk ketika Arini mencium punggung tangannya dan memeluk tubuh tuanya. "Terimakasih bibi masih mengingatku" parau siara Arini di punggung bi Jumi. Wanita paruh naya itu tersenyum dan mengelus punggung Arini.
"Bagaimana kabarmu selama ini, nak?" bi Jumi mempersilahkan duduk Arini dengan sopan dan lembut. "Baik, bi" Arini duduk di sofa ruang tamu yang nampak tak berubah setelah setengah tahun lebih tak pernah dilihatnya. Ahmad membawa koper Arini ke sebuah kamar yang di khususkan untuk tamu dalam rumahnya.
"Istirahatlah, Rin. Nanti malam kita ke bandara menjemput bunda dan papa" Ahmad duduk di sebelah Arini setelah mengantar koper Arini ke kamar tamu. Ahmad menatap gadis di sampingnya dengan intens. Bongkahan rindu itu luruh sedikit demi sedikit.
"Ahmad..." Arini meremas jemarinya, seakan ada sesuatu yang berat ingin diungkapkan. Ahmad tersenyum mengulurkan tangannya dan mengelus rambut Arini dengan penuh kerinduan. "Bicaralah. Aku akan mendengarkanmu" lembut suara Ahmad seakan menunjukkan rasa penyesalannya.
"Apakah aku berlebihan j6ika tidak ingin jauh darimu lagi?" tanya Arini dengan suara pelan. Ahmad tersenyum
"Maafkan aku, Rin. Aku bersalah dalam hal ini. Apakah kau nemikirkan perasaanmu atau perasaan orang lain?" Ahmad menggeser duduknya dan menggenggam jemari Arini.
__ADS_1
"Perasaanku. Perasaanku yang tidak bisa membencimu karena peristiwa itu. Perasaanku yang tidak ingin kehilangan dirimu lagi" Arini menjatuhkan kepalanya di pundak Ahmad. Ahmad mengelus rambut Arini dengan lembut.
"Apa kau ingin tau perasaanku juga?" Ahmad mengecup kepala Arini dengan penuh cinta.
"Mungkin ini waktu yang tepat untuk kita mengatakan semuanya" jawab Arini pelan.
Ahmad meraih tubuh Arini dan memeluknya dengan erat. Bi Jumi yang hendak melintas melangkah surut sambil menatap anak majikannya dengan pandangan penuh permohonan maaf karena tak sengaja masuk ke ruang tamu. Ahmad tersenyum mengangguk.
"Aku mencintaimu, Rin. Sejak pertama aku melihatmu di kampus. Karena itulah aku bertekad mengajakmu menikah. Tapi, peristiwa itu benar-benar membuatku tak berdaya. Tak ada niat untuk mempermalukanmu dan keluarga" air mata menetes di pipi Ahmad yang dipenuhi rambut halus. "Aku sempat bingung ketika tak mendapatimu di alamat lama. Dan lihat bagaimana Tuhan begitu baik mempertemukan kita?"
"Sssst..." Ahmad menatap Arini dengan lembut. "Jangan kau jelaskan semuanya. Aku mohon maafmu, Rin. Untuk itulah aku akan meminta maaf secara langsung pada Bunda dan Ayah atas semuanya"
Arini menitikkan air mata. Betapa sedihnya suasana diantara mereka kini. Namun, getar-getar cinta itu makin kuat membentuk sebuah ikatan yang meyakinkan. Betapa tak bisa diabaikan ikatan dan kebaikan hati antara mereka. Sungguh, tak ada sedikitpun sakit hati atau dendam peristiwa lama hingga mengikis cinta antara mereka. Hati yang dimiliki oleh Tuhan dan yang digerakkan oleh Tuhan pula.
__ADS_1
"Rin..." Ahmad menghapus air mata Arini sambil tersenyum "Bagaimana jika peluru di pistol ayahmu berpindah ke otakku atau ke dadaku?"
Arini memukul dada bidang Ahmad dengan pelan. "Jangan mengada-ada" ketus Arini "Ayah tidak sekejam itu"
"Hei...kan aku berkata jika. Kau mana tau jika Ayahmu marah dan tidak memaafkanku" sambut Ahmad sambil terkekeh membayangkan Ayah Arini yang seorang Purnawirawan TNI AD.
"Jangan nakal" cibir Arini paham kemana arah pemikiran Ahmad. "Aku akan membantu ayahku untuk melubangi otakmu jika kau meninggalkanku lagi" lanjut Arini sambil mencubit perut Ahmad pelan.
"Awwww..." jerit Ahmad menggoda "Jangan nakal, Rin" desah Ahmad merasakan sesuatu yang mulai melompat-lompat di hatinya.
"Isshhhh..." Arini mendorong bahu Ahmad menghilangkan pemikirannya yang mulai menjelajah mendengar suara Ahmad yang mendesah frustasi. "Jaga hatimu dengan kuat. Jangan sampai suaramu tadi memancing peluru di pistol Ayah untuk menerjang kelalaianmu"
Ahmad tertawa jahat. Tanpa berkata apapun reflek dia meraup wajah cantik Arini dan memagut bibirnya dengan lembut. Arini nampak gelagapan dalam hitungan detik. Detik berikutnya mereka saling menyesap bibir menyalurkan kerinduan yang sekian lama tertahankan.
__ADS_1
...๐๐silahkan travelling ya Readers...
...jangan lupa kritik and sarannya๐๐ป๐๐ป๐๐ป