
Tepat pukul 12.00 Ahmad mengetuk pintu kamar Arini. Jika tidak ada halangan maka orangtuanya akan tiba dengan penerbangan dari Arab Saudi pukul 14.15 waktu setempat. Ahmad masih mengetuk pintu kamar untuk ketiga kalinya, Arini belum juga memberikan jawaban. Penasaran, Ahmad mencoba membuka pintu dengan meraih gagangnya.
Ceklek...
Ahmad terpana ternyata pintu itu tidak dikunci. Kalau aku tau tidak dikunci, pasti aku masuk semalam ke kamar ini. Ahmad membathin dengan pikiran mesumnya. Hmmmmm...Ahmad menarik nafas kasar.
"Rin..." panggil Ahmad sambil melongok ke dalam kamar yang nampak temaram dengan pencahayaan lampu tidur yang remang. Sepersekian detik tidak ada jawaban. Ahmadpun memberanikan diri melangkah masuk dan menyalakan tombol lampu yang terletak di pinggir daun pintu masuk. Mata Ahmad terbelalak melihat pemandangan tak terduga di kamar tamu tampat Arini menginap.
Ahmad menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Tombol lampu dimatikan. Pintu perlahan ditarik dan menutup tanpa suara. Ahmad bersandar frustasi di tembok dekat pintu ruang tamu. Tangannya menekan dadanya yang berdesir dengan lonjakan luar biasa. Oh Tuhaaaaan...desis Ahmad meraup wajahnya dengan kasar.
Kasar salivanya ditelan berlali-kali lalu melangkah dengan tubuh bergetar. Ahmad berjalan ke arah wastafel dekat dapur dan mengguyur wajahnya langsung di oran dengan air dingin. Sial...pekiknya frustasi demi menahan sesuatu yang bergejolak di dadanya.
Air dingin sedikit meredakan hawa panas di otak dan tubuhnya. Sambil mentap cermin Ahmad menampar sendiri wajahnya.
plakk...
"Awwww..." teriak Ahmad sambil menyeringai. "Jaga matamu..." gumamnya menatap bayangannya di cermin. Wajah tampannya yang memerah dan sedikit tegang berangsur mengurai. "Gadis nakal..." umpat Ahmad mengingat pemandangan di kamar tadi.
__ADS_1
"Bi. Tolong rapikan keadaan Arini. Aku berangkat menjemput Bunda dan Papa. Sejam lagi pesawatnya tiba" Ahmad menitipkan pesan ketika bu Jumi telah berdiri di pintu kamarnya setalah Ahmad mengetuk pintu.
"Iya, den" Jawab bi Jumi tak mengerti dengan maksud kata rapikan. "Memangnya Nak Arini tidak diajak sekalian menjemput Ibu, den?" lanjut bi Ijah dengan hati-hati.
"Gadis nakal itu terlihat binal, bi. Tadinya aku ingin membangunkannya tapi situasinya kacau. Bibi lihat saja nanti dan tolong dirapikan keadaannya. Ahmad berangkat, bi" pamit Ahmad sambil menyeringai. Lalu melangkah keluar setelah menyalami bi Jumi pelayan rumah yang telah berpuluh tahun membantu keluarganya. Bahkan sejak Ahmad belum ada. Bi Jumi adalah keluarga jauh bunda Ahmad yang hidup sebatangkara dan telah ikut dengan bundanya Ahmad sejak sebelum suaminya bi Jumi meninggal karena sakit paru-paru. Bagi Ahmad bi Jumi adalah ibu kedua yang sangat perhatian dan menyayanginya.
Bandara Soetta masih tetap ramai walaupun jam telah menunjukkan pukul 01.15 WIB. Sesuai informasi yang didapatkan Ahmad bahwa penerbangan dari Amerika yang transit di Saudi Arabia akan mendarat 45 menit lagi. Masih ada waktu, bisik Ahmad mengurai lelahnya sambil merapatkan jaket yang membalut tubuhnya.
"Minum secangkir kopi panas mungkin bisa menghilangkan bosan menunggu waktu" bisiknya dalam hati sambil melangkah ke arah cafe di sekitar bandara.
Ketika fokusnya ke arah salah satu cafe, tanpa sengaja Ahmad bertabrakan dengan seorang wanita. Ah, bukan bertabrakan tapi Ahmad telat menahan langkahnya begitu tiba-tiba seorang wanita berjalan sambil menoleh ke belakang bertemu dengannya.
"Maaf, mbak. Anda tidak apa-apa kan. Maaf saya tidak melihat mbak yang tiba-tiba ada di depan saya" ucap Ahmad sambil melepaskan pegangan tangannya dan memperbaiki jaketnya.
"Lho, pak Ahmad..." teriak wanita itu sambil tersenyum dan membenahi syalnya yang miring. Wajahnya yang tadi ketus dan seakan ingin marah kini malah tersenyum manis seolah tak terjadi apa-apa. Bagaimana Ida bisa marah jika yang bertabrakan dengannya adalah dosen tampan dan dingin, serta bermulut ketus yang merupakan dosen idolanya ketika di kampus dulu.
"Maaf, siapa yaaa?" Ahmad mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat siapa wanita di depannya.
__ADS_1
Ida mengibaskan tangannya di deoan Ahmad dengan gemulai. Tercium aroma parfum yang wangi dari gerakan tangan tersebut. Anak orang kaya, bisik Ahmad tersenyum beku.
"Aku Ida Nursanti, pak. Mahasiswi jurusan manajemen bisnis. Yang dulu pernah mengirim surat cinta buat bapak" ucapnya tanpa malu.
"Sudah lama tidak melihat bapak di kampus. Padahal saya dengan sengaja mencari bapak. Saya tau pak Ahmad tidak peduli dengan isi surat saya ketika itu. Tapi sesungguhnya, pak...saya benar-benar serius jatuh cinta oada bapak" sambungnya dengan senyum lebar. Beberapa orang yang memperhatikan mereka menatap jengah dengan tingkah dan kalimat Ida.
"Ooh...iya aku ingat. Dan perlu kamu ketahui surat itu diterima dan dibaca oleh pak Sultan, ya. Kamu masing ingat siapa pak Sultan kan?" Ahmad tertawa mengingat peristiwa kala itu. Ida adalah salah satu mahasiswi genit yang selalu mencari perhatiannya di kampus. Bahkan beberapa kali ke rumahnya untuk mengambil hati Ahmad dengan membawa berbagai makanan atau kue.
Ida tiba-tiba tersenyum masam mengingat nama pak Sultan yang telah menerima dan membaca surat cintanya yang ditujukan untuk pak Ahmad samg Dosen idolanya.
Idapun menghentakkan kaki meninggalkan Ahmad dengan raut wajah malu dan kesal.
"Suatu hari nanti pak Ahmad akan menyesal mengabaikan cintaku" teriaknya setelah lima langkah menjauh dari Ahmad. Ahmad terkesiap lalu menebar pandangan ke arah sekitar. Nampak orang-orang menatap ke arahnya dengan tatapan yang entah apa maknanya. Namun jelas, semua seakan berasumsi dengan pemikiran masing-masing.
Ahmad tersenyum tawar membalas tatapan orang-orang di sekitarnya yang mendengar ucapan Ida.
Maaf ya Readers sayang...
__ADS_1
telat upload karena ada beberapa kesibukan menjelang PTMT.
love you all❤❤❤❤❤