IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
52. Lepaskan Dia


__ADS_3

Ahmad mengajak Arini mengitari kota tua Jakarta. Malam minggu memang digunakan oleh berbagai kalangan untuk menghabiskan waktu setelah sepekan berkutat dengan berbagai pekerjaan. Dan disinilah Ahmad dan Arini menghabiskan waktunya, bisa jadi esok atau lusa mereka akan segera terbang ke negeri Paman Sam dan memulai hidup baru disana.


Setelah terasa lelah mengitari kota, mereka memilih duduk di taman kota yang tidak begitu ramai. Aneka kuliner berderet di sepanjang jalan taman memanjakan lidah pengunjung. Jalan raya kota nampak tak berkurang keramaiannya dengan kendaraan yang berlalu lalang.


"Nggak mau ya?" Ahmad menatap Arini karena kerak telur yang mereka beli belum juga disentuh.


"Nanti ku makan. Tapi aku ingin cilok itu" Arini menunjuk ke arah tukang jual cilok goreng. Ahmad berjalan untuk memenuhi keinginan istrinya.


"Nih, ciloknya" Ahmad memberikan pesanan Arini setelah beberapa saat menunggu tukang cilok membuat pesanan Ahmad.


"Kok, nggak pakai saos, bang. Mana enak" Arini cemberut.


"Kamu lagi hamil, sayang. Jaga makanan dari bahan yang nggak jelas kesehatannya"


"Tapi mana enak dimakan tanpa saos"


"Kan belum kamu coba, sayang. Coba deh dimakan dulu. Enak lho..." Ahmad mencoba merayu istrinya yang cemberut.


"Aku mau ice cream, bang. Yang rasa starwberry yaaa...warna merah muda" akhirnya Arini mengikuti saran suaminya tapi meminta yang lain lagi.


Ahmad menarik nafas panjang.


"Apalagi biar sekalian abang belikan"


"Itu aja"


"Duduk disini jangan kemana-mana yaa..." pesan Ahmad hendak melangkah membeli keinginan istrinya.


@@@@@


Saat Arini menunggu suaminya sambil menikmati makanan yang dibelikan tadi, tiba-tiba sosok laki-laki yang tak asing bagi Arini berdiri di hadapannya dengan senyum lebar.


Arini mengangkat kepalanya dan menatap terkejut ke arah laki-laki di depannya. Wajah tampan David tersenyum sumringah ke arah Arini.


"Kau sendiri atau ...?" mata David menyapu ke sekitar mencari sosok suami Arini.


"Hmmmm..." Arini tak ingin mrnanggapi pertanyaan David.


"Selalu ada jalan untuk bertemu dengan jodoh yang Tuhan tentukan. Semua hanya masalah waktu" suara David datar menatap Arini dengan lekat seakan tak ingin melepaskan dari pandangannya.

__ADS_1


"Mengapa begitu sulit melupakanmu, Rin. Aku tau mengikuti kata hatiku adalah sebuah kesalahan. Tapi, kau tidak tau betapa semakin kuat keinginan hatiku untuk memilikimu" David masih mencoba mengeluarkan isi hatinya pada wanita pujaannya.


Entahlah, sulit sekali hati David berpaling sejak pertama bertemu dengan Arini. Dan sialnya lagi, Arini adalah istri dosennya kala itu. Sosok Arini banyak merubah karakternya akhi-akhir ini. Wajah cantik nan sederhana dan murni itu sungguh bagai sebuah kekuatan yang menghipnotis hidupnya.


"Maaf, Dave. Aku mohon jangan membuat keributan lagi. Aku tidak ingin obsesimu menghancurkan hubungan baik kita" Arini semakin merasa tak nyaman.


"Semua akan baik-baik saja, kalau kau tidak menghindariku. Semakin kau berusaha ke arah itu, aku semakin kuat menginginkanmu" David semakin menatap Arini dengan penuh konsentrasi. "Sebenarnya bukan hal yang sulit untuk mengambilmu, tapi sialnya suamimu itu manusia yang berjasa padaku"


"Maka lepaskanlah aku demi suamiku" suara Arini ketus, enggan menatap David. Makanan yang dideoannya hanya di aduk-aduk seolah sekera makannya hilang.


Arini merasa cemas. jika Ahmad datang pasti pertengkaran itu tak bisa dielakkan lagi. Haisssss...kenapa sih, harus ada sosok manusia seperti David?. Bathin Arini semakin gelisah.


"Suami..." David mencebikkan bibirnya. Suaranya tak nyaman menyebutkan kata suami. "Aku hanya ingin meyakinkanmu suatu saat kau pasti akan jadi milikku. Semua hanya masalah waktu..."


"Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi, tuan David" suara Ahmad mengagetkan Arini. Ahmad telah berdiri dengan wajah mengeras namun santai. Dia menyodorkan plastik yang berisi pesanan Arini. Arini menerimanya dan langsung berdiri ke belakang punggung suaminya.


"Hhhh...mimpiku akan segera tercapai. Hanya butuh sedikit waktu. Anda akan melihatnya dengan jelas, pak Ahmad Al Akhtar" seringai David mengobarkan peperangan.


Ahmad tersenyum dingin.


"Aku masih melihatmu sebagai laki-laki sempurna yang memiliki segalanya. Mendapatkan sesuatu yang kau inginkan adalah hal yang mudah. Cobalah buka mata hatimu, begitu banyak wanita yang lebih segalanya dari istriku. Untukmu, mendapatkan salah satu dari mereka adalah sangat gampang. Mereka akan datang tanpa paksaan padamu" Ahmad menatap tajam wajah David.


"Aku rasa acara kita sudah berakhir, sayang. Waktunya pulang" Ahmad hendak melangkah melewati David ketika secara reflek tangan David mencengkram bahu Ahmad.


Ahmad dan Arini terkejut dan menghentikan langkah mereka.


"Aku tidak pernah mendekati dengan menyentuh Arini. Itu karena aku teramat menghormatimu. Semakin jauh kau menyembunyikannya dariku semakin mudah langkahku untuk mendapatkannya" ucap David dingin dan penuh penekanan dan wajah membeku.


"Lepaskan tanganmu" Ahmad mulai kesal. Namun masih ditahannya emosi yang kian menguasai hati dan pikirannya.


David tersenyum menyeringai.


"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" David melepaskan cengkramannya pada bahu Ahmad.


"Aku tidak sedang melakukan tender denganmu. Jadi, jangan memancing emosiku. Jangan halangi jalan kami" Ahmad masih meredam emosi yang kian membuncah di dadanya.


"Ya, aku memang sedang tidak berbisnis denganmu, tapi aku tau anda mengerti apa yang aku inginkan" David masih keukeuh dengan tawarannya. Ahmad mengeraskan gerahamnya.


"Jangan sampai aku kehilangan kendaliku, Dave. Aku tidak ingin memukulmu untuk ketiga kalinya" Ahmad mengeraskan genggamannya pada tangan istrinya.

__ADS_1


"Lepaskan dia" kalimat David membuat Ahmad menatap mata lelaki tampan yang pernah menjadi mahasiswa bimbingannya dengan tak percaya. Ahmad heran dimana akal sehat laki-laki di hadapannya ini.


"Jangan menantangku, Dave. Sekali lagi aku jelaskan yang kau inginkan itu istriku. Gunakan akal sehatmu. Oh ya, istriku yang kau inginkan itu sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak-anakku" Ahmad sekuat tenaga mengedepankan pikiran dinginnya. Ahmad tidak ingin memancing keributan di tempat umum.


Wajah David seketika berubah pias. Matanya menatap ke arah Arini. Ahmad mencibir melihat kemana tatapan mata David. Arini memeluk lengan suaminya dengan erat.


"Bukan masalah besar. Bahkan aku berharap anda yang melepaskan dia" David menutupi kekesalannya mendengar Arini akan menjadi ibu. Kalimat terakhir Ahmad menohok dadanya, namun apalah artinya itu. David merasa Arini adalah segalanya. Kekurangan Arini bukan hal yang berargi untuknya. Yang terpenting adalah sosok wanita itu di sampingnya.


Ahmad kehilangan kendali. Sebuah tinju mentah melayang menghantam perut David dengan keras.


Bugghh...


Arini terkesiap. Termangu dalam beberapa detik.


"Akhhhh..." suara David menahan sakit


"Sudah kukatakan gunakan akal sehatmu" Ahmad mencengkeram jerah kemeja David dengan amarah yang telah sampai pada batasnya.


Beberapa orang di sekitar berlari mendekat dan melerai keduanya.


"Sebaiknya selesaikan masalah kalian di tempat yang lebih baik. Ini tempat umum" seorang laki-laki setengah baya melepaskan cengkraman tangan Ahmad pada kemeja David.


David tiba-tiba merosot jatuh terkulai. Tangannya masih memegang perut yang tadi terkena tinju Ahmad. Arini panik.


"Dia pingsan" teriak orang yang membantu menopang tubuh David.


"Tolong bawa ke mobil kami, pak. Biar kami bawa ke rumah sakit" Arini mendorong suaminya untuk membuka pintu mobil.


Ahmad mendesah dan berjalan ke arah mobilnya. Membuka pintu dan mempersilahkan orang-orang itu untuk meletakkan tubuh David di kursi belakang.


"Apapun masalah kalian utamakan keselamatan" pesan pria setengah baya yang tadi melerai Ahmad dan David.


"Iya, pak. Saya mohon maaf. Kami permisi. Terimakasih bapak-bapak" Ahmad agak menunduk ke arah kerumunan orang yang tadi melihat keributan antara mereka. Ahmad menghembuskan nafas dengan kasar dan duduk di belakang stirnya.


"Maafkan aku, sayang" Ucap Ahmad menggenggam tangan Arini sambil menyetir. Arini tersenyum mengangguk.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Happy reading ya say...

__ADS_1


jangan lupa saran, like, dan vote yaaa


__ADS_2