
Perdebatan antara Papa dan Ahmad berakhir dengan diam. Tak ada yang bisa menerima pandangan masing-masing. Arini dan bunda Irene hanya diam saja sebagai mendengar setia. Bunda menarik lengan Arini mengajak pindah ruangan.
"Bunda berharap kamu bersabar menghadapi sifat Ahmad, sayang. Bunda sangat memahami karakternya" bunda Irene setengah berbisik setelah mereka berdua di dapur.
Arini tersenyum tulus.
"Iya, bunda. Bunda tenang saja, Arini paham dengan sikap cemburu bang Ahmad walau terasa memang berlebihan"
"Arini minta maaf, bun" Arini menatap wajah ibu mertuanya yang masih nampak segar dan cantik di usia yang tidak lagi muda.
"Untuk apa?" suara bunda Irene lembut sambil menolak pada menanti kesayangannya.
"Sampai saat ini belum bisa memberikan bunda dan Papa cucu" suara Arini nyaris tak terdengar. Bunda Irene tertawa lembut.
"Apakah pernah bunda memaksa minta cucu pada kalian?" Arini terlihat menggeleng. "Nikmati dan jalani kehidupan rumah tangga kalian dengan nyaman dan bahagia. Masalah itu serahkan pada Allah. Jangan jadikan beban" bunda Irene mengelus punggung menantunya.
"Terimakasih, bun. Mohon selalu do'akan kami"
Bunda Irene tersenyum sambil menyerahkan nampan berisi jus dan kue pendamping.
"Ayo kita ke depan" ajak bunda Irene yang diikuti Arini dengan perasaan cemas. Entah apakah Ahmad dan ayahnya sudah mendapatkan kesepakatan tentang rencana Ahmad.
"Kami pamit pulang saja, bun. Nanti sore jadwal kami periksa ke dokter" Ahmad meraih gelas jus yang di sodorkan Arini.
"Tidak menginap, Son?, bukankah masih banyak yang harus kita bahas?" suara tegas papa Ahmad menatap putranya dan menantunya tajam.
"Akan aku pikirkan saran papa. Besok sepulang dari kantor aku akan memberi jawaban"
"Kami ingin yang terbaik untukmu dan Arini. Ingatlah, mundur selangkah untuk memenangkan medan pertempuran itu adalah strategi, Son. Tidak ada yang perlu dikorbankan. Bicarakanlah dengan istri dan ayah mertuamu. Papa yakin mereka akan mendukung pilihanmu"
Ahmad mengangguk mendengarkan kalimat papanya. Lelaki paruh baya berwajah bule itu nampak serius.
__ADS_1
Akhirnya merekapun pamit meninggalkan rumah orang tuanya. Ahmad menyetir mobil dengan wajah serius. Sesekali dia tersenyum menatap Arini di sebelahnya.
Ahmad memang membicarakan rencananya untuk pindah ke luar negeri memboyong Arini. Mengingat kelakuan David yang tidak pernah surut dalam menginginkan Arini.
Entah apa yang membuat istrinya nampak lebih di mata seorang David. Dan mengapa hanya pada Arini David terobsesi untuk mendekatinya?. Ck...seperti tidak ada wanita lain saja di dunia ini...batin Ahmad benar-benar kesal.
"Sayang,.." panggil Ahmad memecah keheningan diantara mereka. Arini menoleh dan tersenyum manis. Sungguh, cantik sekali istrinya. Wajah Indonesia dengan blasteran Arab membuat wajahnya cantik sempurna di mata Ahmad.
"Apa kamu tidak keberatan mengikuti semua keputusanku?"
"Sepanjang itu untuk kebahagiaan kita, aku mendukungmu, bang. Aku tau apapun yang kau putuskan sudah melalui pertimbangan dan pemikiran yang matang" Arini memberi dukungan pada suaminya.
Arini bukanlah wanita yang tak memiliki keinginan dan keputusan sendiri. Tetapi Arini selalu mengedepankan kebahagiaan bersama. Bagaiamanapun rimah tangganya lebih penting untuk dijaga daripada mengikuti ***** pribadinya.
"I love you, sayang. You are the best wife and the only one i have" bisik Ahmad sambil mengelus pipi istrinya dengan tangan kirinya.
"Apakah kau ingin bertemu teman, sahabat, atau seseorang sebelum kita mengambil keputusan itu, sayang?"
"Hampir setahun aku tidak pernah berkomunikasi dengan mereka, sayang. Aku hanya sering komunikasi dengan Melda. Jadi, aku rasa hanya keluarga saja yang kupunya" Arini tersenyum, tidak ingin menyinggung perasaan suaminya.
Memang sejak resmi menjadi istri Ahmad, Arini tidak pernah lagi bisa melangkah bebas sesuka hatinya. Bertemu teman, ngobrol dan nongkrong di tempat-tempat yang dulu sering mereka kunjungi. Apalagi sejak peristiwa David dengan terang-terangan menyatakan rasa suka dan ingin memiliki Arini di delan Ahmad, Arini tidak pernah lagi diizinkan menggunakan ponsel kecuali dalam situasi tertentu.
Tidak mudah menerima sifat cemburu suaminya yang berlebihan. Jangankan sampai berbicara dengan lawan jenis, jika Ahmad melihat laki-laki berdiri di sebelah Arini saja kemarahannya menjadi luar biasa.
Arini menarik nafas pelan, dan menghembuskannya dengan teratur. Ada kelegaan di hatinya melihat wajah suaminya tersenyum kecil.
"Nanti malam kita telpon Ayah dan Mama yaaa...kita harus segera membicarakan hal ini" tegas Ahmad sambil mrmbelokkan mobilnya di salah satu bangunan yang menyerupai restauran keluarga.
"Kenapa kesini, bang?" Arini menautkan alisnya.
"Masih sore nyampai rumah, yang. Ngadem di sini dulu. Bukankah menyenangkan hati istri itu menambah rezeki suami" Ahmad membuka pintu dan turun dengan cepat.
__ADS_1
"Sering-sering aja, sayang" Balas Arini tertawa ringan.
Ahmad menggenggam tangan istrinya melangkah memasuki restaurant yang bernuansa semi modern. Dua orang perempuan menyambut dengan sopan dan ramah. Mrmbawa Arini dan suaminya ke sebuah ruangan yang terbuka ke arah pemandangan alam buatan yang sangat indah. Pilihan yang tepat dan romantis.
Suasana restaurant agak ramai pengunjung. Selain mereka datang untuk makan banyak juga anak-anak muda datang hanya nongkrong sambil minum kopi dan makan makanan ringan bersama kelompoknya.
"Wah...selamat datang di restauran kami pak Dosen Ahmad. Senang bertemu dengan anda. Semoga anda tidak lupa dengan saya. Saya Arya Bahtiar dari fak hukum, pak" suara sopan seorang laki-laki menyambut Ahmad dengan senyum ramah dan lebar.
Arini menoleh dan terkejut ketika mata mereka saling bertemu. Duh, tak menyangka teman sekampus yang dulu sering nongkrong bareng ketemu disini. Pakaiannya rapi dengan dasi tanpa jas. Dari name tagnya bisa dibaca di bawah nama Arya Bahtiar tertulis manager.
Wow...jabatan yang luar biasa dalam dunia bisnis.
"Arini Rahardian fakultas management bisnis yang dengan segudang prestasi, pintar, dan cerewet. Bagaimana bisa bertemu di sini dan dirimu duduk bersama pak Ahmad?" heboh Arya tapi masih dengan menjaga imagenya.
Arini menatap suaminya yang nampak mengerutkan alisnya. Bibirnya mengatup rapat. Senyum yang tadi menghias hilang seketika. Arini merasa tak nyaman.
"Hai Arya, kota ini kecil untuk bersembunyi" Arini tertawa canggung. "Beliau suamiku" Arini melihat mata Arya terbelalak kaget.
"Wah...Selamat ya pak Ahmad dan Arini..Nggak nyangka jodoh nggak jauh. Selamat menikmati makanan di restaurant kami, pak" Arya tiba-tiba bersikap jauh lebih sopan. "Oya, makanan bapak dan bu Arini gratis"
"Kenapa?" suara Ahmad tak suka. Arini paham kilatan mata cemburu dan tak suka itu tak bisa disembunyikan dari wajah suaminya. Arini menarik nafas sesak. Menggenggam tangan suaminya di bawah meja.
"Tidak usah repot, Arya. Lain kali kami akan makan gratis di sini" Arini menengahi melihat suasana hati suaminya.
"Kalian tamuku. Dan pak Ahmad adalah Dosenku dulu.
Anggaplah ini ucapan maafku yang tidak tau kalau kalian sudah menjadi pasangan halal"
Ahmad menatap Arya tajam.
"Terimakasih. Bisakah anda meninggalkan kami?" suara Ahmad datar. Arya langsung minta maaf dan mengundurkan diri.
__ADS_1
"Aku cemburu level habis, sayang. Jangan bertanya kenapa" ucapnya tak ingin di jawab. Arini menarik nafas berat.