
Ahmad menyandarkan punggungnya pada kursi panjang yang tersedia di kamar itu. "Tidurlah, Rin. Aku akan mengantarmu besok pagi. Ini sudah jam 3" Ahmad memperbaiki letak bantalnya. Ahmad memutuskan untuk menginap di kamar hotel Arini. Selain sudah larut malam rasanya tidak nyaman keluar dari kamar dan dilihat oleh pegawai hotel. Tentunya itu akan membawa pengaruh buruk untuk gadis yang menyewa kamar itu. Ahhhhh...entahlah yang terpenting Ahmad tidak ingin meninggalkan Arini.
"Apakah tubuhmu tidak sakit berbaring di kursi itu?, kakimu akan menggelantung dan itu tidak baik untuk kesehatanmu" kata Arini memberi pertimbangan.
"Kamu tidak keberatan kalau aku tidur seranjang denganmu?" goda Ahmad mendudukkan tubuhnya yang tadi berbaring. "Aku rasa idemu sangat bagus. Aku sangat nyaman jika demikian" Ahmad berlagak hendak bangun.
"Ishhhhhh...jangan. Itu bukan ide bagus. Tidurlah disitu atau pulanglah" kata Arini melenggang ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya. Terasa sangat nyaman. dan empuk. Sejenak Arini melirik ke arah Ahmad yang membaringkan kembali tubuhnya di kursi panjang. Tak sampai sepuluh menit suara nafas Ahmad demikian teratur menandakan sudah mulai lelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Arini tersenyum bahagia. Luka itu telah berganti dengan harapan masa depan cintanya. Meski masih ada keraguan di dalamnya. Namun, perjalanan pertemuan hari ini begitu sangat indah untuk Arini. Biarlah, bukankah tidak salah memberi kesempatan kedua kepada orang yang telah mengakui kesalahannya?. Arini bangun dan menyelimuti Ahmad dengan pelan. Wajah tampan itu sangat tenang dalam tidurnya. Jika bertemu 6 bulan yang lalu, mungkin Arini akan mencabik-cabik wajah tampan ini dengan bilah bambu agar merasakan betapa sakit dan malunya ditinggalkan disaat hari menjelang ijab qabul.
Menikah muda di usia 21 tahun bukanlah pilihan buruk. Arini membayangkan bundanya juga menikah di usia 19 tahun. Dan ketika Arini dan bunda berjalan beriringan banyak yang mengira mereka adalah adik kakak. Ahhhhh...menggemaskan bukan?. Arini tersenyum sendiri. Setiap manusia memiliki sis salah, tergelincir, dan lupa tapi jika niat untuk meperbaiki lebih kuat maka jangan tutup kesempatan untuk memberi dukungan. Arini ingat motivasi dosen killernya saat itu di kampus. Dan dosen itu adalah Ahmad yang kini sedang lelap di kamarnya.
Sungguh Arini enggan mengalihkan pandangannya dari ciptaan Tuhan di depannya. Wajah tampan blasteran Amerika itu sangat sexy dan tampan di mata siapapun yang melihatnya. Karier yang kuat dan mapan adalah impian tiap wanita pada pasangannya. Bibirnya...hmmmmmm, sangat sexy dan menggoda.
Ruangan kamar itu sunyi, hanya terdengar tarikan nafas yang teratur saling bersahutan dari kedua insan Tuhan yang sedang mengistirahatkan tubuh dan fikiran mereka dari segala bentuk masalah yang mereka hadapi. Nampak senyuman tersungging di bibir Ahmad. Hhhhh...mungkin dia sedang mengalami mimpi indah hingga terbawa ke raut wajah tampannya
__ADS_1
Ahmad tak ingin melepas Arini lagi. Baginya menemukan Arini adalah impian yang beberapa bulan ini mengganggu kenyamanan tidurnya. Rasa bersalah itu kini mulai menguap perlahan setelah Arini memaafkannya.
Bahagia...ya itulah kata yang mewakili hatinya saat ini.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
like dan komentarnya ya readers...
__ADS_1