IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
33. Kekonyolan David


__ADS_3

Pagi itu Arini sibuk dengan belanjaan bulanannya di salah satu mall di kotanya. Keranjang belanjaannya sudah setengah terisi, tapi masih ada beberapa barang lagi yang masih belum dibeli.


Drrrt...


Drrrtt...


Dering ponsel di tas kecilnya menghentikan langkah Arini yang sedang menuju ke bagian mall yqng menjual khusus sayur segar.


Arini tersenyum melihat nama terera di ponselnya.


Suami sayang memanggil


"Assalamualaikum, bang" Arini mencari tempat yang agak sepi dari pengunjung untuk menerima panggilan suaminya.


"Waalaikumsalam, Sayang. Masih belanja atau sudah di rumah?"


"Masih belanja, sayang. Masih ada beberapa lagi yang belum ku beli. Sebentar lagi selesai. Abang dimana?"


"Masih di kantor, Sayang. Mungkin agak sore pulangnya. Ada Papa disini"


"Apa Papa tidak mampir ke rumah kita, bang?"


"Tidak, sayang. Papa hanya mampir sebentar. Katanya mau ke Bandung. Papa dan Bunda titip salam buat menantu tersayangnya"


Arini tersenyim hangat. Duh, jadi sangat merindukan mertuanya, terutama bunda Irene.

__ADS_1


"Sayang, masih disitu?" Ahmad memastikan karena tak terdengar jawaban Arini.


"Iya, bang. Masih. Aku jadi rindu papa dan bunda" suara Arini sendu.


"Hei, jangan sedih, Sayang. Bukankah baru bulan kemarin kita ngumpul bareng?. Tunggulah ada waktu lagi kita akan jadwalkan berkunjung dan menginap di rumah Mama dan Bunda, yaa" Ahmad tersenyum merayu istrinya agar tidak sedih. Arini memang selalu tidak bisa berlama-lama jauh dari orang tua dan mertuanya. Mereka sangat menyayangi Arini.


"Iya, bang. Sampaikan salam rindu untuk Papa dan Bunda. Mohon maaf belum bisa memberikan kebahagiaan buat mereka"


"Hei, Sayang. Jangan ngomong begitu lagi. Bukankah kita selalu berusaha untuk itu, selebihnya kita serahkan pada Allah. Ingat, jangan pikirkan itu lagi, ya. Selesaikan belanjamu dan segera pulang. Jangan sampai ada yang menggodamu di situ. Karena aku akan sangat cemburu untuk hal yang satu itu" Ahmad masih dengan suara lembutnya. Ahmad sangat menyayangi dan mencintai Arini.


"Iya. Ya sudah, telrponnya ditutup dulu ya. Nanti aku hubungi lagi kalau sudah di rumah. Selamat bekerja, sayang. I love you more"


"I love you tak terbatas, sayang. Assalamualaikum"


Ketika belanjaannya telah selesai Arini bergegas mendorong trolinya ke arah kasir nomor 4 yang terlihat sedikit antriannya.


Tanpa Arini duga sosok David menangkap pandangan Arini yang sedang melihat ke arah kanan. Penampilan casual David menambah ketampanannya berkali lipat bagi siapapun yang melihatnya. Kaos hitam dan kemeja yang terbuka dipadu celana kain dengan warna senada sangat pas dengan tubuh tingginya.


Senyum sumringahnya membuat Arini jengah dan canggung berhadapan dengan David. Kenapa harus ketemu lagi sih dengan anak ini..batin Arini agak kesal. Arini paham betul, ujung-ujungnya oasti David selalu membuatnya canggung dengan kalimat-kalimat memujanya seakan sedang merayu pujaan hatinya.


Dan sejak pertama bertemu dua bulan yang lalu, hampir empat kali David dengan sengaja datang ke rumah Arini dengan berbagai alasan tugas kampus atas suruhan Ahmad suaminya. Dan hal itu pernah Arini bicarakan dan ceritakan pada suaminya.


"Jangan terlalu dihiraukan saja, sayang. David memang pecicilan. Jaga jarak dengannya. Jangan sampai kamu sengaja membalas kata-katanya. Dia pengusaha muda yang punya pengaruh besar di kota ini. Selain latar belakang keluarganya dia juga punya pengaruh tersendiri dalam dunia bisnis" itu oesan suaminya ketika itu. Hmmmmm...Arini menghembuskan nafas enggan.


"Halo, Mbak Arini cantik" sapanya membuat Arini merasa tegang seketika. Beberapa ibu-ibu yang sedang antre di kasir serentak melihat oe arah mereka berdua. "Memang jodoh itu nggak jauh-jauh yaaa...selalu dipertemukan tanpa terduga. Bagaimana kabarnya, mbak?"

__ADS_1


Arini tersenyum kaku. Beberapa wanita muda cantik dan bening menatap memuja ke arah David. Dih, kenapa mata lelaki ini nggak melihat ke arah gadis-gadis muda itu sih...keluh Arini dalam hati.


"Hai, Dave. Kabar baik. Yah...kota ini serasa kecil sehingga kita selalu bertemu. Nguntit atau tak sengaja" Arini sengaja nenekankan kata terakhirnya dengan suara pelan. David yang sudah berdiri di belakang Arini tertawa renyah. Dihhhh, wajah tampannya itu nggak ngaruh kali ma aku. Suamiku jauh lebih tampan, say...bathin Arini gerah.


"Jangan tebar pesona di sini. Tuh, di sebelah sana aja" Arini mencoba mengalihkan pandangan David yang dari tadi selalu mengabsen dirinya melalui tatapan nakalnya.


"Mbak Arini, kenapa harus jadi istri dosenku, sih. Aku jadi susah menata hati. Kapan janda yaaa..." ucapnya membuat Arini kegerahan sendiri. Ibu-ibu yang di sebelah Arini menatap mereka dengan sinis.


Sontak Arini menginjak kaki David sambil tersenyum ke arah ibu-ibu itu. Arini mendorong troli belanjaannya dan membiarkan kasir menghitung harga.


"Awwww...mbak sadis banget si sama fans setianya" sungut David dengan gaya cueknya. Duhhhh, laki-laki satu ini kayak nggak ada perempuan normal lain apa yang di ganggunya. Apa ini hobby dia sih mengganggu ketenanganku...Arini sedikit kesal.


"Dua juta tujuh ratus lima puluh ribu, bu" kasir menyebutkan jumlah total benjaan Arini. Arini mengeluarkan kartu ATMnya dan menyerahkan ke kasir. Tiba-tiba David merebut kartu dari tangan Arini.


"Pakai ini saja, mbak" sodornya pada kasir membuat Arini kaget setengah mati.


"Dave...!!" Arini hampir menangis karena malu dilihati ooeh ibu-ibu yang sedari tadi melihat interaksi antara mereka.


"Sssttt..." David dengan gaya coolnya menatap Arini santai. Nasih tak ambil peduli dengan tatapan sinis sekitar. Duh, Tuhan...terbuat dari apa sih manusia yang satu ini..


...😡😡😡


Arini kesal setengah mati


....

__ADS_1


__ADS_2