IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
2. Tak Menyangka


__ADS_3

Pagi sekali Arini bangun dan seperti biasa setiap hari Minggu selalu melakukan jogging sekitar komplek untuk menjaga kesehatannya. "Bun, Arini pergi yaa" pamit Arini pada bundanya yang sedang sibuk di dapur. "Jangan lupa mampir di rumah bu Irene" pesan bunda Arini mengingatkan. "Iya, bun. Doakan saja ingatanku kuat hari ini" jawab Arini sambil tertawa mengingat kebiasaan buruknya.


Setengah jam lewat Arini melakukan pemanasan dan lari-lari sekitar komplek perumahan tempat tinggalnya. Arini hendak pulang dan teringat oesan bundanya. Hhhhhhh..."hmmmmm...kebiasaan buruk. Terpaksa balik lagi" keluhnya sambil tersenyum. Arini berbalik dan melangkahkan kaki menuju rumah bu Irene yang memang agak jauh dan beda blok dengan rumahnya.


Arini tertegun melihat rumah yang mewah dan asri. Memang di perumahan xx pada bagian depan dari blok awal adalah deretan rumah mewah yang pemiliknya rata-rata pejabat dn pengusaha. Dan Arini baru kali ini melangkah ke blok mewah itupun atas permintaan bundanya. Bu Irene adalah teman bundanya yang sering melakukan berbagai kegiatan di komplek perumahan dan beberapa kegiatan sosial lainnya. Seingat Arini bu Irene adalah istri dari salah satu pejabat daerah di kota ini.

__ADS_1


Arini memencet bel yang ketiga kalinya dengan perasaan yang kurang nyaman. Arini terkejut ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang. "Maaf, nona mencari siapa?" suara itu membuat Arini tambah terkejut dan degub jantungnya menjadi tak beraturan. Tangan dipundak Arini semakin mencengkeram dengan keras. Arini menenangkan jantungnya. "tenanglah jantungku, tidak mungkin pak Hunter. Diakan tidak tinggal di perumahan ini" bisik hati Arini menenangkan pikirannya.


Arini membalikkan badannya, dan..."aaaaaaahh..." teriak Arini saat melihat siapa yang menepuk dan mencengkeram pundaknya. "Ishhhh...kenapa berteriak. Kamu kaget ya liat wajah saya pagi ini?. Kamu pikir wajah tampan ini menyeramkan, sehingga kamu berteriak di depan pintu gerbang rumah orang?. Atau kamu puny niat jahat berdiri sepagi ini dan melihat ke halaman rumah ini?" selidik laki-laki menyebalkan versi Arini. Ahmad menatap tajam dan tersenyum kecil. Tatapan matanya menusuk ke arah Arini yang tiba-tiba terlihat salah tingkah dan gugup.


"Eh...harusnya aku yang bertanya mengapa kamu bengong di depan gerbang rumah saya?. Atau kamu hendak bernegosiasi tentang hukuman tugas yang saya berikan kepadamu kemarin?" tajam kalimat Ahmad tanpa nada lebih terkesan menuduh Arini. Arini menarik napas panjang menghadapi dosen muda yang dingin, agak angkuh, dan tampan pastinya. Arini tersenyum...tampan tapi killer, bisik hatinya masam.

__ADS_1


"Maaf, pak. Saya disuruh bunda Liana untuk mampir ke rumah bu Irene mengambil titipan. Dan ini alamat yang diberikan oleh bunda. Jadi, saya tidak tahu kalau rumah yang mewah dan asri ini milik bapak Drs. Ahmad Al Akhtar, MS i. Mohon izin untuk bertemu bu Irene, pak??" Arini mengalah dan enggan untuk mendebat dosennya yang narsis dan dingin ini. Arini enggan membuang waktu karena telah hapal dengan sikap Ahmad Sang Dosen yang telah setahun ini sering memberinya hukuman walau dengan kesalahan kecil yang tak disengaja.


Tiba-tiba dari dalam bu Irene datang dengan langkah lebar menuju gerbang dimana Ahmad dan Irene masih berdiri. "Dasar anak tengil. Sudah jadi dosen dan berpendidikan tinggi masih saja tidak berahlak. Tamu itu disirih masuk bukan kamu serang kaya tukang sensus" omel bu Irene menarik lengan Arini dan tangan sebelahnya menjewer telinga Ahmad yang merupakan putra semata wayangnya. Ahmad meringis menepis loembultangan ibunya sambil menatap tajam penuh ancaman pada Arini. "Ishhhh...mama jangan menjatuhkan imageku. Dia ini mahasiswiku" Ahmad membela diri. Bu Irene mengabaikan Ahmad dan membawa Arini untuk masuk ke dalam rumahnya.


💪💪💪happy reading

__ADS_1


__ADS_2