
Setelah melewati diskusi yang panjang, akhirnya Ahmad pamit untuk menyelesaikan urusan selanjutnya. Beberapa kesepakatan telah dibuat antara Ahmad dan Rektor Universitas X yang dapat mengobati sedikit rasa kecewa Pengelola Kampus.
Ahmad melangkah di sepanjang koridor kampus yang terlihat lengang, karena seluruh kelas sedang berlangsung. Ahmad berbelok ke arah tempat parkir, tangannya meraih handle pintu mobil. Belum terbuka sempurna pintu mobilnya sebuah teriakan membuat Ahmad sedikit kaget.
"Pak Ahmad...pak..."
Ahmad menoleh dan melihat empat mahasiswa dan mahasiswi berlari-lari kecil ke arahnya sambil membawa buket bunga di tangannya.
Mereka berempat menetralkan nafas yang terengah-engah begitu sampai di depan Ahmad.
"Mengapa kalian berlari?" Ahmad mengerutkan keningnya. Keempat mahasiswa itu saling pandang dan salah seorang maju menyodorkan buket bunga mawar dengan kombinasi warna yang indah merah dan putih.
"Kami menyesalkan keputusan bapak untuk berhenti dari kampus ini. Karena kami sangat membutuhkan bapak. Bapak salah satu dosen yang humble pada kami. Yaa, walaupun bapak memang termasuk dalam daftar dosen kejam"
Ahmad terbelalak dengan kalimat terakhir mahasiswanya.
"Dosen yang apa..?" Ahmad menautkan keningnya. Ahmad tidak menyangka akan mendapat julukan dosen kejam. Ahhhh...ternyata Arini benar, aku termasuk dosen kejam bagi mahasiswa. Keempat mahasiswa itu saling pandang merasa telah salah ucap.
"Mm...maaf, pak. Itu murni kejujuran kami. Tapi sekalipun bapak kejam kami yakin itu terbaik untuk kami. Mohon maaf, pak" Mahasiswi itu mengangkat dua jarinya tanda perdamaian sambil menatap tak nyaman pada Sang Dosen.
Ahmad tertawa ringan
"Terimakasih bunganya. Terimakasih juga julukannya. Saya akan tetap menjadi dosen kalian untuk mata kuliah tertentu dengan jadwal yang nanti akan diatur. Kita tidak akan berpisah bukan?" Ahmad mengangkat bahunya dengan santai. Empat mahasiswa itu terlihat bahagia walau dengan tidak yakin menatap wajah Ahmad.
"Mohon maaf, pak. Sehat dan sukses slalu buat bapak"
"Baiklah. Tetap jaga semangat belajar. Saya permisi. Oya, sampaikan salam untuk Club Skinca" Ahmad masuk ke mobilnya sambil tertawa tanpa suara. Keempat mahasiswanya tertawa saling pandang mendengar club yang disebut Sang Dosen.
__ADS_1
Ahmad tersenyum mengingat club yang disebutnya. Club Skinca adalah kelompok mahasiswinya yang pernah kedapetan melakukan perawatan kulit dadakan di kelas saat tugas mata kuliahnya sedang berlangsung.
Ahmad ingat saat itu rencananya Ahmad tidak masuk karena ada pertemuan mendadak di perusahaannya, sehingga Ahmad memberikan tugas untuk dikerjakan dan akan diambil dalam waktu tiga puluh menit. Karena urusan perusahaan cepat selesai maka Ahmad kembali ke kampus
Perlahan mobil Ahmad meninggalkan halaman parkir kampus yang luas itu. Tujuannya adalah kantor kedutaan Amerika sesuai dengan janjinya kemarin. Ahmad bersyukur pengajuan visa tinggalnya keluar tanpa kendala. Tinggal beberapa urusan lagi semuanya akan selesai sesuai dengan rencana. Ahmad menarik nafas lega dan melajukan mobilnya ke rumah salah seorang sahabatnya saat kuliah dulu.
Mobilnya telah memasuki halaman parkir yang luas di depan rumah bergaya Eropa yang mewah. Ahmad menyapu pandangannya, halaman depan rumah tampak sepi.
"Den Bule..." sebuah suara membuat Ahmad menoleh setelah menutup pintu mobilnya. Pak Iman berdiri dengan senyum bahagia. Raut wajahnya nampak sudah menua dengan keriput yang nampak jelas terlihat di wajah dan kulit tangannya.
"Pak Iman..." Ahmad memeluk laki-laki tua yang bekerja sebagai tukang kebun di rumah sahabatnya. "Lama sekali kita tak bertemu. Sehat selalu, ya pak?. Keluarga apa kabarnya?. Betah ya disini?"
Pak Iman tertawa sambil mengelus punggung Ahmad.
"Alhamdulillah. Beginilah, satu-satunya tempat yang membuat bapak tenang ya disini" pak Iman menatap wajah Ahmad "Den Bule kemana saja kok baru kelihatan?"
"Silahkan masuk, Den Bule. Darren dan teman-temannya udah ada di dalam"
"Terimakasih, pak"
Ahmad masuk begitu melihat pintu rumah terbuka lebar.
"Hi, semua..." Ahmad menyapa tiga sosok yang menoleh secara bersamaan di ruang tamu yang luas itu. Ahmad terhenyak sejenak menatap sosok laki-laki berkulit hitam manis dengan rambut keriting yang ikut tersenyum dan menyapanya.
"Hi, kutu buku. Aku pikir kau tidak akan datang hari ini. Apa kabarmu?" sapa Darren sambil memeluk Ahmad.
"Just like you. Aku sehat dan still like before" Ahmad menepuk pundah sahabatnya.
__ADS_1
"Ya yaa yaaa...selalu sama dari tahun ke tahun. Aku dengar kau sudah laku diantara kami" William menepuk pundak Ahmad sambil tertawa setelah melepaskan pelukannya.
"Yah, begitulah. Sudah setahun aku menikah"
"You are so bad, Kutu buku. Setahun tanpa seharipun kamu memberitahu kami apalagi sampai mengenalkan istrimu" Darren melempar Ahmad dengan majalah karena kesal dan tak menyangka Ahmad telah menikah.
"Maaf. Kalian kan sibuk di luar negeri. Kalian itu kan serasa menumpang di negara ini" Ahmad memedek sahabat-sahabatnya yang langsung di sambut tawa ooeh mereka.
"Eh, tunggu. Aku tidak asing dengan si hitam manis ini" Ahmad memperhatikan sosok yang masih tersenyum menatapnya.
"Tebak dulu siapa dia" Darren tertawa sambil menyodorkan segelas jus buah.
Ahmad duduk di sofa yang kosong berhadapan langsung dengan laki-laki yang masih dicoba diingatnya.
"Ah, aku ingat. Terry Parkinson Hutagalung. Pemuda tengil yang suka ngelemparin aku pakai mangga dulu waktu SMP. Pernah memberiku hadiah ulang tahun seekor katak hijau, dan membuat para wanita berlarian, Lalu..."
"Hei...stop, Ahmad. Kau nampaknya bukan hanya mengingatku tapi menghitung semua kenakalanku" Terry tertawa dan berpelukan dengan Ahmad. Mereka bersahabat sejak kelas 4 SD, SMP, dan kelas 2 SMA sebelum akhirnya Terry pindah ikut ibunya yang berwarga negara Nigeria.
"Kapan kau tiba di Indonesia, dan bagaimana kalian bisa berkumpul dengan Darren dan William?" Ahmad memandang ketiga sahabatnya itu. Darren dan William adalah sahabat Ahmad sejak kuliah S1 hingga selesai.
Mereka tertawa serempak dan mulai saling bercerita seputar persahabatan mereka, kegiatan mereka saat ini, hingga obrolan laki-laki yang terkadang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Mereka menghabiskan waktu bersama sampai menjelang sore. Tepat pukul 6 sore mereka berpamitan pulang meninggalkan rumah Darren.
Ahmad tak menyangka bisa bertemu kembali dengan teman lamanya. Ada kelegaan di hati Ahmad mereka akan bertemu kembali nanti saat Ahmad sudah berangkat dan bermukim di Amerika. Dan mereka dengan senang hati akan mencarikan apartemen buat Ahmad tinggal bersama istrinya jika telah tiba di Amerika.
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
mau berakhir ya Readers...karena akan mengikuti kegiatan online dalam jangka waktu yang agak lama.