
"Bagaimana keadaannya, dokter?" Ahmad dan Arini bersamaan menyambut dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD dimana tubuh David dibaringkan.
"Pasien belum sadar. Kami langsung antarkan ke ruang rawat inap, ya. Karena kami perlu memeriksa beberapa hal. Pak Ahmad boleh kita bicara sebentar di ruangan?" dokter Fahri meminta persetujuan Ahmad. Arini mengangguk ke arah suaminya.
"Baiklah, dokter" Ahmad menyetujui.
"Sayang, aku tinggal sebentar. Nanti aku menyusul ke ruangan rawat inap" Ahmad mengelus punggung istrinya. Arini menatap cemas suaminya. ada rasa khawatir berlebihan dari sikap dokter Fahri. "Tenanglah. Aku akan bertanggungjawab"
"Apakah ini tidak akan menjadi panjang urusannya, bang?" suara lirih Arini membuat Ahmad berbalik dan memeluk erat istrinya.
"Tenanglah, sayang. Semua akan baik-baik saja. Pergilah ke kamar David nanti aiu akan menyusul. Dia belum sadar" Ahmad mengecup kening istrinya memberi kekuatan agar tenang.
Ahmad melangkah untuk menemui dokter Fahri yang menangani David di ruang UGD tadi. Sementara Arini melangkah pelan ke arah ruang rawat VVIP di lantai 3. Tangannya masih memegang gagang pintu ruang rawat David, namun hatinya diliputi keraguan yang amat besar. Arini khawatir rasa cemburu suaminya akan berdampak buruk baginya jika berada di ruangan David. Walaupun tadi Ahmad mengatakan akan menyusul ke ruangan David.
Namun, jika Arini tidak memastikan keadaan pemuda itu bukankah nanti dianggap tidak peduli?, sedangkan keadaan David seperti ini akibat perbuatan Ahmad. Arini menarik nafas dan membuangnya dengan amat berat.
Pintu ruang VVIP di RS terbesar di kota Jakarta ini dibuka tanpa suara sedikitpun. Arini pelan menatap sosok yang terbaring tenang di hospital bed. Ruangan luas berAC itu nampak tenang dan nyaman dengan warna putih khas rumah sakit.
Wajah tampan David masih terpejam dengan tenang. Nafasnya nampak teratur. Betapa sempurnanya pemuda ini, entah apa yang membuat obsesinya begitu berlebihan padaku?...Arini tak habis fikir. Tampan, pendidikan tinggi, pengusaha muda yang sukses tentunya memiliki aset kekayaan yang tidak sedikit, semua itu sangat mudah baginya untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan.
Sekali lagi Arini menghembuskan nafas berat. Begitu berat beban di hatinya. Arini hendak melangkah menjauhi tempat tidur dimana David berbaring, ketika tiba-tiba tangan David mencengkeram lengannya.
"Jangan pergi" suaranya serak bergetar mengagetkan Arini.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar. Biarkan aku memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu" Arini berusaha melepaskan pegangan David pada tangannya dengan halus.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Pukulan suamimu tidak akan bisa membuatku mati dengan mudah" David tersenyum manis. Haissshhh...percaya diri sekali pemuda ini.
"Berikan nomor telpon keluargamu atau asistenmu agar mereka tau kau disini" Arini masih mencari alasan dengan halus untuk melepaskan genggaman tangan David.
"Tidak perlu. Aku akan baik-baik saja" mata David menyapu ruangan seolah mencari sesuatu. "Dimana suamimu?"
"Lepaskan dulu tanganku" Arini menatap tak nyaman pada David. Pemuda itu tersenyum dingin dan melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Arini.
"Tak bisakah kau membalas sedikit saja rasa cintaku ini, Rin" suaranya lirih. "Sungguh, aku sudah berusaha melupakanmu tapi aku tidak bisa. Entah apa yang ada dalam dirimu hingga membuatku tak berdaya"
David menatap Arini sendu. Dirinyapun tak mengerti mengapa perasaan ini hanya pada sosok Arini yang notebene adalah istri dari orang.
Arini menarik sebuah kursi ke dekat tempat tidur David.
David tersenyum lebar. Wajah tampan itu bersinar bahagia.
"Sebenarnya aku baik-baik saja. Tak ada yang cidera dari pukulan keras suamimu. Tapi entahlah, pukulannya begitu keras mengenai hatiku hingga aku tak ingat apa-apa"
Arini mengerutkan keningnya.
"Bukankah pukulannya mengenai perutmu?"
"Pukulannya memang mengenai perutku, tapi sakitnya sampai ke hatiku"
"Mohon maafkan suamiku. Ku harap kamu bisa memahami posisinya. Seandainya dirimu di posisinya mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama. Bukankah kita harus mempertahankan apa yang kita miliki dengan cara yang benar?" Arini mencoba bersabar melihat sikap tengil David.
__ADS_1
"Akupun berhak memilikimu. Asal kau tahu itu" David bangun dari tidurnya dan berusaha duduk, namun terlihat David meringis.
"Berbaringlah jika masih sakit" Arini memperbaiki letak bantal dan membantu David berbaring kembali.
"Berhentilah berpura-pura sakit, Dave" suara Ahmad dingin memenuhi ruangan. Raut wajah David berubah membeku.
"Ck...aku rasa telah cukup memberimu waktu untuk berbicara dengan istriku. Sebentar lagi kedua orang tuamu datang. Apakah kau ingin menyambut mereka di ruang ini atau di kantormu?. Oh ya...ini sudah pukul 11.30 malam. Aku akan membawa istriku pulang. Dia harus banyak istirahat, karena dia sedang mengandung anakku. Selamat malam, Dave. Sandiwaramu gagal"
Ahmad meraih bahu Arini dan mendorongnya keluar ruangan. David menyeringai jahat. Antara malu dan kecewa menjadi satu dalam dadanya.
"Oh ya, lelaki sejati itu tak pernah menggunakan cara licik untuk meraih keinginannya" Ahmad menatap David dingin.
"Dan satu lagi, lepaskan dia, bangunlah dari tidur panjangmu. Benahi hidupmu, maka aku yakin kebahagiaan yang sesungguhnya akan kau raih dengan mudah. Selamat tinggal, David" Ahmad memperbaiki selimut di tubuh David, tersenyum dan berlalu meninggalkannya.
"****..." David mengumpat sambil melemparkan selimut rumah sakit diatas lantai. Kesal dan kecewa memenuhi kepalanya. "Tunggulah saat yang tepat, wanita itu pasti akan menjadi milikku" geramnya dengan tangan mengepal. Sia-sia sandiwara yang dilakukannya, tidak merubah apapun untuk mendekati wanita itu dan menjebak suaminya.
"Arrrrgghhhhh..." David meremas rambutnya. Wajah tampannya memerah karena emosi. David meraih ponsel yang terselip di kantong celananya dan menelpon orang kepercayaannya.
"Halo, jemput aku di RS XX sekarang"
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Readers..
Love you all...
__ADS_1