IKHLAS DALAM TAKDIR

IKHLAS DALAM TAKDIR
4. Tak Menyangka


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak kejadian di rumah bu Irene. Arini telah menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh pak Ahmad dosennya. Beberapa catatan yang telah direvisi pada tumpukan skripsi telah selesai dibuat oleh Arini. Hmmmmm...Arini menarik nafas lega. Dua minggu satu ruangan bersama pak Ahmad membuat Arini benar-benar merasa terpesona dengan ketampanan dan sikap manis yang kadang-kadang ditunjukkan oleh pak Ahmad ketika Arini meminta petunjuk mengoreksi tulisannya pada skripsi mahasiswa.


"Tugas dan hukuman saya telah selesai, pak" ucap Arini sambil menyerahkan tumpukan skripsi yang telah rapi di meja dosennya. "Terimakasih dua minggu ini kamu benar-benar telah membantu saya" jawab Ahmad dengan nada lembut. 'Duh...tumben banget bicara dengan nada lembut' bisik hati Arini sambil menatap tak percaya pada Ahmad.


Arini melangkah hendak keluar dari ruangan. "Rin, boleh aku bertanya sesuatu?" suara pak Ahmad menghentikan tangan Arini yang sudah hampir membuka pegangan pintu. "Sudah lama hal ini ingin aku tanyakan. Jika berkenan nanti siang aku ingin mengajakmu makan di luar. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan" sambung pak Ahmad menatapku intens. 'Kenapa aku berdebar melihat tatapan matanya?' bathin Arini cemas.

__ADS_1


"Tapi, pak..." Arini mencoba menetralkan hatinya. "Seperti biasa aku tidak menerima penolakan!" ucap Ahmad datar dan penuh tekanan "Usai mata kuliah jam 12.30. Aku menunggumu di restauran xx. Jangan telat" sambungnya sambil mendekati Arini. Berdiri hampir tanpa jarak dan memegang pegangan pintu. "Ingat, 12.30, restauran xx. Silahkan keluar"


Pintu ruangan dibuka pak Ahmad tersenyum manis mempersilahkan Arini keluar. Arini yang terpaku dalam sekian detik merasa seperti terhipnotis oleh sikap dosennya yang aneh. Arini melangkah tanpa kata, sambil mencerna setiap kata yang diucapkan pak Ahmad. Otaknya benar-benar dipaksa untuk mencari jawaban apa sebenarnya yang ingin ditanyakan oleh dosen anehnya itu. "Bukk..." Arini kaget ketika bahunya terasa sakit terkena pukulan tas dari Melda yang telah berdiri kesal. "Heh...nanti pulang kuliah kamu harus periksa mental ke psikiater. Aku lihat hampir selutuh anggota tubuhmu beberapa hari ini kehilangan fungsi normal." ucap Melda dengan kesal. "Issshhhh..." Arini menepis tangan Melda yang ingin menyentuh dahinya.


"Bahuku sakit, Mel. Tega banget ma sahabat sendiri. Udah di pukul, di suruh ke Psikiater. Aku sehat, Mel." Arini membentangkan tangannya dan menggerakkannya dengan lebar "yang sakit itu tuh 'The hunter devil'. Aku rasa nggak ada puas-puasnya tuh dosen memberikan aku hukuman. Padahal aku ini mahasiswi pintar, cerdas, dan termasuk cantik sih" ucap Arini narsis.

__ADS_1


Arini mengerucutkan bibirnya. "Kamu kan tau, Mel. Aku takut sakit hati. Cukup apa yang kulihat apa yang kamu rasakan waktu itu sudah bikin aku trauma." jawab Arini sambil mengingat peristiwa ketika SMA Melda pernah hampir bunuh diri karena diputuskan oleh kekasihnya. Melda langsung memeluk Arini. "Maaf ya beb. Tapi tidak semua kisah cinta sama seperti kisahku. Tak ada salahnya kamu mencoba membuka hati."


Arini menarik napas panjang. Teringat lagi sikap Ahmad Sang Dosen beberapa hari ini, membuat hati Arini benar-benar bergejolak. Mungkinkah perasaan Arini adalah rasa cinta pada Sang Dosen?. "ahhhhh..." desah Arini kacau. "Hey, sudah jangan di pikirkan kata-kataku. Aku yakin suatu saat kamunakan menemukan cinta sejatimu" tawa Melda memberi semangat Arini.


❀❀❀

__ADS_1


Kritk dan sarannya jangan lupa ya ReadersπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2