
Setelah makan malam romantis sepasang suami istri itu memilih menghabiskan waktunya di kamar. Ahmad menyelesaikan beberapa laporan untuk kampusnya, mengemail beberapa tugas mahasiswa bimbingannya, serta membalas beberapa email di akun bisnis property yang di lakoninya. Di ujung sana Bima selalu siaga menjalankan oerintah atasannya dengan teliti dan cekatan.
"Makan kue nya, sayang" Arini menyodorkan potongan cake yang dibuatnya ke mulut Ahmad yang masih tekun di depan laptopnya.
"Terimakasih, Sayang. Kuenya enak banget" Ahmad tersenyum manis ke arah istri tersayangnya.
"Masih lama, bang?" Arini mulai membaringkan tubuhnya ketika dilihatnya jam di dinding telah menyentuh angka 11 malam.
"Sudah selesai, Sayang. Udah nggak sabar yaaaa?" Ahmad menggoda istrinya dengan tatapan nakal. Arini tertawa melihat kelakuan suaminya yang tak pernah berubah mesumnya.
Arini menatap punggung suaminya yang melangkah ke arah kamar mandi untuk bersiap membersihkan diri menjelang tidur.
Arini tersenyum penuh rasa syukur atas cinta dan kasih sayang Allah yang terlimpah pada suaminya dan rumah tangga mereka. Bersyukur kepada kedua orang tua dan mertua yang selalu memberi dukungan dalam berbagai situasi.
Untuk Arini ini adalah kasih sayang sesungguhnya dari Allah untuknya.
"Sayang, aku ingin membicarakan sesuatu padamu tapi janji yaaa jangan marah" Ahmad membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya.
Tangannya membelai lembut wajah istrinya.
Hati Arini tiba-tiba deg degan. Tak biasanya suaminya berkata seperti ini.
__ADS_1
"Janji, sayang. Aku tidak akan marah"
"Kamu masih ingat fans setiamu itu?"
Arini mengerutkan keningnya. Mencoba memahamai kemana arah pembicaraan suaminya.
"Maksud abang siapa?. Aku nggak merasa punya fans. Kaya aku artis aja abang ini" Arini mencubit pinggang suaminya. Ahmad tertawa menangkap tangan istrinya. "Abang mungkin banyak fansnya. Secara abang kan tampan, punya segala. Pintar, pokoknya idola banget"
Arini cemberut merasa cemburu dengan prasangkanya sendiri.
Ahmad mencium bibir istrinya gemas.
"Mulai deh pikiran kusutnya. Aku membicarakan masalah David, sayang"
"Itu dia yang ingin aku bicarakan, sayang. Sebenarnya dia masih setia mendekatimu. Hanya saja kamu tidak tau"
"Itu lebih baik, bang. Karena seribu kalipun aku menjelaskan padanya aku ini istrimu dia hanya tertawa saja. Sudahlah kenapa abang membicarakan dia?" Arini tak ingin kemesraan diantara dia dan suaminya menjadi hambar karena adanya orang lain.
"Nampaknya dia tak pernah menyerah, sayang. Beberapa kali dia mengirim bunga tetapi aku sudah menugaskan Bima untuk menerima bunga itu dan meberikannya ke rumah sakit tanpa kamu ketahui"
"Tak mengapa, bang. Itu lebih baik. Aku hanya mencintaimu saja. Takdirku itu adalah menjadi istrimu. Dan akan begitu selamanya hingga aku menutup mata" Arini memeluk erat suaminya dan memberikan ciuman hangat pada bibir suaminya. Ahmad tersenyum membalas ciuman istrinya.
__ADS_1
"Aku mengenal David dan keluarganya, sayang. Ada rasa khawatir aku atas obsesinya terhadapmu"
"Apa yang abang ingin lakukan" Arini menatap suaminya yang nampak berpikir keras.
"Apakah kamu tidak keberatan jika kita pindah untuk sementara waktu?"
"Apakah setakut itu dirimu, sayang?. Apakah David sangat membahayakan?" Arini menatap wajah suaminya dengan serius. Ahmad mengangguk.
"Kamu tidak bisa membayangkan kekuatan mereka jika menginginkan sesuatu, sayang. Aku mengenal keluarga itu dengan baik. Salah satu kerabat dekat mereka rekan bisnis Papa di kota J" Ahmad diam sejenak. Nampak raut kekhawatiran di wajahnya.
"Tapi, bang. Aku tidak pernah memberi harapan apapun oada David. Abang tau sendiri kan aku selalu cerita ke abang apapun yang aku lakukan apalagi saat dulu bertemu terakhir dengannya" Arini ikut khawatir suaminya cemburu.
Ahmad tersenyum mengelus wajah istrinya
"Aku percaya padamu, Sayang. Tapi aku khawatir dengan apa yang akan dilakukan David untuk mencapai keinginannya padamu. Aku mencintaimu, Sayang. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Mohon kamu mengerti yaaa" David membenamkan wajah istrinya dalam pelukannya.
"Sebaiknya kita tidur saja dulu. Besok kita pikirkan lagi langlah selanjutnya"
"Apakah kita tidak perlu meminta bantuan Ayah, bang" Arini teringat Ayahnya. Paling tidak Ayahnya juga mungkin bisa memberi kekuatan atas apa yang di khawatirkan suaminya.
"Kita atasi sendiri dulu, sayang. Jangan membuat orang tua kita khawatir. Lebih baik kita istirahat saja dulu. Besok kita bicarakan lagi" bisik Ahmad penuh cinta.
__ADS_1
Arini mengangguk dan menyerahkan semua kepada Allah. Berharap semoga esok akan ada jalan terbaik untuk masalah ya g mereka hadapi.